29.4.08

Fit and Proper Test

Tadi pagi saya baru menjalani fit and proper test calon Menteri Kominfo Kabinet KM ITB periode 2008/2009. Apa yang dites? Ya apakah saya cukup fit dan proper menempati posisi itu...

Kemarin malam Essa (yang juga akan fit and proper test Menteri P&K) menelepon. “Dis, lagi ngapain?”

“Nggak lagi ngapa-ngapain.” Sebenarnya saya sedang mengerjakan tugas kuliah, tapi saya takut dia jadi segan kalau mau curhat.

“Emang udah nyiapin buat besok?”

“Lho, emang mesti nyiapin apa?” Pikir saya, saya nggak usah menyiapkan apa-apa buat tes ini. Kalau ditanya nggak bisa jawab, ya tinggal bilang saja, “Nggak tau.” Toh saya memang nggak berambisi jadi menteri. Nothing to lose. Saya juga sudah bilang ke Shana, saya siap membantu tapi nggak jadi first man. Saya kan ingin memperbaiki IPK. Jadi second atau third man, boleh lah. (Kalau kata Iqbal , “Lu emang nggak akan jadi first man kok, tapi jadi first woman.” :P) Jadi bisa dibilang fit and proper test ini cuma formalitas.

Essa memanas-manasi saya. “Masa kalau ditanya lu mau jawab nggak tau? Malu-maluin dong. Shananya juga malu ntar.” “Orang lain kan nggak tau ini formalitas atau bukan.” “Tadi udah ada yang dites, katanya dibantai lho.”

Oh, begitu ya. Tapi saya sedang tanggung membuat jalur pipa air buangan apartemen dan menghitung dimensinya, tugas Plambing yang deadline-nya besok. Habis ini saja siap-siapnya, pikir saya.

Tapi tugas itu baru selesai sekitar jam 12 malam. Mata lelah memelototi layar laptop terus-terusan. Akhirnya saya malah tidur. Saya cuma sempat membaca sekilas coretan di organizer saya paginya. Coretan yang yang dibuat waktu masa kampanye dengan tim Bolang, tentang mimpi dan harapan untuk KM ITB.

Saya datang awal ke Campus Center. Gilang kebetulan menelepon dari Jakarta. Oh ya, Bobby juga sempat mengirim SMS untuk sekedar memberi semangat. Ah, mereka memang sahabat-sahabat saya...

Dan ternyata, yang ‘mengetes’ saya adalah Ngkong, haha... Ada juga beberapa Senator lain dan Kabinet yang dulu. Sesi pertama tentang wawasan kemahasiswaan. Aduh, kok saya hilang ingatan tentang wewenang Kabinet dan Kongres, dan pola hubungan antara Kabinet-Kongres-Himpunan-Unit. Padahal waktu PMB 2007, saya menjelaskan itu pada anak-anak kelompok mentoring saya. Semoga jawaban saya nggak salah...

Wawancara berlangsung sekitar 60 menit. Umumnya pertanyaan saya jawab berdasarkan pengalaman, pandangan pribadi, atau spontan saja. Ketidaksepakatan soal Campus Channel sempat jadi bahasan. Di akhir, salah seorang pewawancara bilang, “Tanya-tanya lagi ya soal media, kayaknya pengetahuan kamu tentang media masih kurang.” W H A T T H E - ? ? ? Tahu apa dia? Rasanya selama ini saya cukup concern soal media. Pengalaman saya di bidang media malah lebih banyak daripada pengalaman di bidang TL. Tapi yang saya pelajari di Siaware, feedback itu bersifat netral, hehe...

Jadi, apa saya cukup fit dan proper jadi menteri? Kita lihat nanti...

16.4.08

Percakapan, Setelah Sekian Lama

Aku melihat sosokmu yang baru datang, langsung duduk di bangku. Kamu sendirian, acuh menyantap makan siang dari piring yang kamu bawa. Aku terus mengamati sosokmu. Kerinduan yang selama ini terpendam jadi memuncak lagi. Aku sudah terbiasa menikmati keadaanmu selama ini. Aku belum terbiasa dengan ketiadaanmu. Damn, it’s killing me.

Aku ingin bicara denganmu, sudah lama aku ingin bicara denganmu. Kulempar pandangan ke sekeliling. Cuma ada sedikit orang di sini, dan semuanya sedang disibukkan urusan masing-masing. Mungkin ini momen yang tepat...

Kututup file tugas Metodologi Analisis Mengenai Dampak Lingkungan yang sedang kukerjakan. Laptop kutinggalkan dalam keadaan standby.

Aku mendudukkan diri di sebelahmu. Percakapan kubuka dengan pertanyaan basa-basi yang kamu jawab dengan, “Nggak tau.” Tidak apa-apa, aku juga tidak berharap mendapat jawaban yang memuaskan darimu. Aku cuma ingin bicara denganmu, setelah sekian lama.

Aku pernah sayang kamu...

Lalu hening. Kamu asyik menikmati makananmu, dan aku pura-pura sibuk dengan handphone di tanganku.

“Gue capek,” entah kenapa itu yang keluar dari mulutku. Tapi, ya, aku memang capek. Selanjutnya, kata-kata tidak terbendung lagi keluar dari mulutku. Kamu mendengarkanku, sambil sesekali tersenyum atau mengeluarkan beberapa kalimat tanggapan. Kamu, salah satu pendengar terbaik yang kukenal.

Aku pernah sayang kamu...

Seorang teman datang, kita jadi mengobrol bertiga. Dia malah mengajakku rapat segala. “Gue nggak bisa,” jawabku asal. Untunglah, tidak lama kemudian dia pergi. Seorang teman yang lain datang, sibuk mengangkut barang. Kita jadi mengobrol bertiga lagi. Aduh, kenapa orang-orang ini datang di saat yang tidak tepat? Apakah mereka tidak mengerti kalau aku sedang ingin bicara denganmu, berdua saja?

Akhirnya mereka pergi juga. Sekarang aku tinggal berdua lagi denganmu. Kubuka lagi percakapan kita.

Lalu, “Gue boleh nanya sesuatu nggak?”

“Apa?”

“Gue punya salah nggak sih sama lu?” Akhirnya, pertanyaan yang sudah sekian lama tersimpan dalam hati bisa kutanyakan juga.

Kamu terlihat heran atas pertanyaanku barusan. “Ng... Nggak sih. Kenapa emang?”

Tidak apa-apa, aku cuma merasa kamu berubah. Kamu tidak seperti dulu lagi. Kita tidak seperti dulu lagi. Tapi, syukurlah...

Lalu kita bicara tentang banyak hal. Tentang mimpi, harapan, dan cita-cita. Yang terwujud maupun yang tidak. Tentang idealisme. Tentang kemahasiswaan. Tentang kondisi kampus terkini. Tentang kelulusanmu yang mundur dari rencana semula. Tentang harapan keluargamu. Tentang kebingunganmu. Tentang keegoisanku. Tentang perasaanku. Tentang buku yang pernah kubaca. Tentang rencana ke depan. Tentang beberapa orang yang kita kenal. Makanan di piringmu sudah habis, tapi kamu masih di sini, di sampingku.

Aku senang bisa bicara denganmu, apalagi kebetulan saat ini aku sedang butuh teman bicara. Aku menikmati saat ini. Menikmati keadaanmu yang sempat hilang.

Aku pernah sayang kamu...

Teman-teman mulai berdatangan. Beberapa duduk dan mengajak kita mengobrol. Mungkin waktu kita sudah habis...

Ah, ya, tugasku menunggu untuk diselesaikan. “Makasih. It’s nice talking with you,” aku beranjak dari sampingmu.

Ralat! Aku masih sayang kamu!

7.4.08

Kekalahan yang Menyakitkan

Kami menundukkan kepala di belakang pintu.
“Kita kalah, Ma,” bisikku.
“Kita telah melawan, Nak, Nyo, sebaik-baiknya, sehormat-hormatnya.”

-Bumi Manusia (Pramoedya Ananta Toer), hal. terakhir-


Reaksi pertama
? Nggak bisa menerima kenyataan. :-OBerharap ini cuma mimpi dan aku akan segera terbangun, berharap ada yang salah dan seseorang akan meralatnya.

Selisih suara yang sangat tipis bikin pikiran-pikiran seperti, “Seandainya begini... seandainya begitu... kalau saja begini... kalau saja begitu...” jadi terlintas. Banyak analisa, banyak penyesalan.

Lalu jadi defensif dan ingin menyalahkan orang lain. Aku sudah all out supaya bisa menang di kandang sendiri, padahal pesaing punya banyak orang kuat, aku jadi mesti memeras otak buat mencari celah. Tapi apa semua anggota tim sudah begitu? Rasanya masih ada yang setengah-setengah deh.

Kesal membayangkan semua agenda dan rencana jadi nggak bisa terealisasi. Dan sedih membayangkan nggak bisa bareng lagi sama orang-orang yang selama 1,5 bulan terakhir ini selalu bareng.

Dan yang pasti, kesal membayangkan wajah orang-orang yang kemarin berusaha memprovokasi dan menjatuhkan kami, sekarang pasti sedang tertawa puas!!! U G H ! ! ! Kok bisa ya, ada orang sejahat itu? X(Padahal calonnya kan ada 3, kenapa cuma kami yang selalu diserang? Dan kenapa juga orang-orang di timku terlalu ‘lurus’ dan nggak menyerang balik?

Ini bukan pertama kalinya aku mengalami yang namanya ‘kalah’ atau ‘gagal’, tapi rasanya belum pernah sesakit ini. Mungkin karena dari awal yang terpikir adalah menang, menang, dan menang. Aku sendiri nggak menyangka bisa sampai separah ini: nangis selama 1 hari 2 malam (berhenti kalau capek, habis itu nangis lagi), nggak makan dan nggak tidur dengan layak juga selama 1 hari 2 malam, badan lemas, maag kambuh, mata merah dan bengkak, masih terbawa aura perhitungan suara yang tegang, hati nggak tenang...

Tapi, setelah energi habis, air mata kering, mengikuti saran Hendra untuk ambil air wudhu-salat malam-tilawah buat menenangkan hati (Seumur-umur curhat sama orang, baru kali ini ada yang memberi saran seperti itu. But hey, it works! :)), dan kumpul-kumpul lagi sama tim, akhirnya mulai bisa berpikir positif... Toh calon yang menang adalah orang yang kuanggap teman baik, sama seperti aku menganggap calon yang kudukung. Jadi nggak sakit-sakit banget. Lagipula, pasti ada hikmah di balik semua ini. Let’s think positive. Satu hal yang bikin aku puas, aku berhasil menang di kandang sendiri, and they appreciate me for that. Yah, something bigger might be waiting for me out there...

Lessons learned:

~ God works in His mysterious way. Dia punya rencana sendiri. Hal yang kita anggap baik untuk kita, mungkin sebenarnya buruk. Dan hal yang kita anggap buruk untuk kita, mungkin sebenarnya baik. –Al Qur’an surat Al Baqarah-
~ Segala sesuatu yang dilakukan dengan ikhlas dan disempurnakan dengan totalitas pasti akan memberikan dampak positif untuk diri kita sendiri dan orang lain. –Hendra-
~ Sang juara bukan orang yang selalu berhasil, tapi orang yang belajar banyak dari cobaan kecil. –Bobby-
~ Luruskan niat. Niat kita kan untuk kemahasiswaan ITB, bukan untuk mencari eksistensi atau kekuasaan. Jadi Presiden atau MWA cuma salah satu caranya. Kalau cara ini nggak berhasil, ya cari cara lain, yang penting niat itu bisa terwujud. -Someone di tim, lupa siapa-
~ Di ‘luar’ sana dunia jauh lebih kejam. Banyak yang saling menjatuhkan dan main kotor. I must learn to be tough if I want to survive. Anggap saja ini latihan. –Mama-
~ Kita belajar banyak bukan saat berhasil, tapi justru saat gagal. -Poppy-
~ Kalah menang itu biasa. -Andin, yang kapten tim basket sekaligus tim voli HMTL -
~ Jangan pernah lupa diri dan merasa ‘di atas angin’. Always prepare for the worst.
~ Segala sesuatu yang berlebihan itu nggak baik. Too much love will kill you, won’t it?
~ Jadi orang jangan terlalu ‘lurus’ lah. Kalau dipukul sekali, pukul balik 2 kali! (Lho?)

Terima kasih buat VIP (Very Important Persons) in my life: H E N D R A, A N D I N, dan M A M A. Thanks for being there when I was down. Nggak tahu gimana jadinya kalau nggak ada kalian. I'm so lucky to have you around...

Terima kasih buat Bobby, Gilang, promotor-promotor lain, semua tim sukses, dan nggak lupa 2.154 orang yang percaya memberikan suaranya untuk kami... Walaupun kami belum dapat kesempatan, tapi aku sudah belajar banyak di sini. This is priceless. Dan yang lebih penting, aku dapat sahabat dan keluarga baru... :)



Untuk mengetahui nilai


1 tahun

Tanyakan pada seorang siswa yang gagal dalam ujian kenaikannya


1 bulan

Tanyakan pada seorang ibu yang melahirkan bayi prematur

1 minggu
Tanyakan pada seorang editor majalah mingguan

1 hari
Tanyakan pada seorang buruh harian yang punya 6 orang anak untuk diberi makan

1 jam
Tanyakan pada kekasih yang sedang menantikan waktu bertemu

1 menit
Tanyakan pada seorang yang ketinggalan kereta

1 detik
Tanyakan pada seorang yang selamat dari kecelakaan

1 milidetik
Tanyakan pada seorang yang memenangkan medali di Olimpiade

28 suara alias 0,6% suara
Tanyakan pada orang yang gagal memenangkan Pemilu
:P

 
design by suckmylolly.com