29.11.10

"Perfect Shoes"

Membaca tulisan Carissa yang ini, saya jadi ingat waktu sepatu saya hilang.

Iya, sepatu saya hilang. Dan saya baru sadar waktu seorang teman meminta saya menemaninya ke pernikahan temannya, sekitar sebulan yang lalu.
(Sebenarnya kalimat di atas bisa diperumit menjadi, "Adik (tapi bukan adik kandung) mantan saya meminta saya menemaninya ke pernikahan teman lama yang pernah ditaksirnya." Tapi karena hidup ini sendiri sudah cukup rumit, mari kita sederhanakan saja... ^^)

Acara itu di Jakarta, sementara semua sepatu pesta saya ditinggal di Bandung. H-1, saya baru menelepon Mama, memintanya mengirim sepatu yang dimaksud. Tapi katanya sepatu itu nggak ada di rak yang biasa.

Dan ternyata sepatu itu memang nggak ada di manapun di rumah. Saya tahu setelah seminggu setelahnya, saya pulang ke Bandung dan mengubek-ubek seisi rumah. Jangankan sepatunya, dusnya pun nggak saya temukan. Aneh, padahal saya berani bilang rumah saya itu rapih. Nggak mungkin sepatu itu nyasar sampai ke dapur, misalnya. Sepatu -yang cuma saya pakai kalau ada undangan pernikahan- itu memang sudah lama nggak saya pakai.

Ya sudahlah, mungkin saya harus menerima kenyataan kalau sepatu itu bukan rezeki saya lagi. :(

Tapi, membaca tulisan Carissa, saya jadi sadar kalau saya bukan satu-satunya orang yang super rewel kalau mau beli tas/sepatu. Harus begini harus begitu. Masalahnya, saya ini tipikal one-bag woman dan one-shoes woman. Kalau sudah ketemu tas yang cocok, saya bisa setiap hari pakai tas yang sama sampai belel.

Nah, sepatu yang hilang itu sudah memenuhi semua kriteria yang saya inginkan:
- Strapped. Dengan tali yang nggak terlalu tebal, bahan kulit warna hitam dan nggak mengkilap.
- Ankle strap.
- Bagian depannya peep toe dan meruncing , tapi nggak terlalu runcing juga.
- Hak +- 7 cm, tapi bukan stiletto.
- Bermerk.

Kurang lebih seperti inilah. Sayang, harganya melebihi budget. Tapi nggak apalah, saya rela budget saya untuk belanja yang lain dikurangi demi si "perfect shoes".


Cuma satu kekurangannya: that shoes hurts like hell, and those heels are killing me! Bayangkan saja waktu saya harus berdiri berjam-jam pakai sepatu itu waktu jadi penerima tamu di pernikahan salah satu sahabat saya, Reswa. Sakitnya minta ampun!

Tapi toh saya bertahan dengan sepatu itu. Saya mencopotnya setiap setengah jam sekali. Saya mengoleskan lotion banyak-banyak di pergelangan kaki. Saya menyesuaikan diri.

Sebelum sepatu itu -entah bagaimana- nggak jadi milik saya lagi, dan waktunya saya harus mencari sepatu baru tiba.





... mungkin nggak sih hal yang sama berlaku untuk jodoh?



Yang jelas, sampai sekarang nggak terhitung sudah berapa mall yang saya sambangi, tapi belum ketemu lagi sepatu yang benar-benar cocok... :(

22.11.10

Katanya, Kalau Berdoa Sama Tuhan Harus Spesifik

Karena itu, ya Tuhan, daripada saya memohon yang standar seperti "diberi yang terbaik", lebih baik saya memohon: 

Saya pingin resign dari bank ini. Tanpa ditanya macam-macam sama bos atau HRD. Tanpa one month notice. Tanpa penalti. Terus pindah kerja ke stasiun TV. Jadi reporter berita. Atau di balik layar, di bagian produksi berita atau feature. Metro TV atau TV One atau Trans TV atau Trans 7 atau SCTV atau RCTI atau MNC TV atau Global TV atau antv. Atau koran Kompas, bolehlah. Yang gajinya besar. Setidaknya, lebih besar dari yang dulu. Paling lambat akhir bulan ini.

Saya tidak tahu apa itu yang terbaik buat saya. Saya tidak mau tahu. Saya cuma pingin itu terwujud.




Ya, Tuhan ya?

9.11.10

...

Sebuah tweet di suatu malam yang galau:

Have I told you that I've moved on and don't care anymore about you? Well, I was actually lying.





bukan. aku bukannya mau bilang belum bisa melupakan kamu.

aku cuma mau bilang, kamu masih ada di mana-mana. keringatmu masih menempel di sprei dan sarung bantal dan selimut yang kupakai tidur. bekas bibirmu masih ada di gelas yang kupakai minum dan rokok yang kuhisap. helai rambutmu masih tertinggal di jaket favoritku. bahkan aroma nafas dan hangat tubuhmu masih berserakan di setiap sudut kota yang kudatangi. juga bekas genggaman tanganmu masih terasa erat di sela-sela jemariku.

kamu. ada di mana-mana. dan tak mau pergi.

7.11.10

Banyak Cerita, Banyak Kisah...

...tapi untuk saat ini, izinkan saya berbagi foto-foto ini dulu. Saya dan lima teman sesama wartawan Tempo yang membuat saya bertahan di tengah segala kegilaan. (Atau malah makin gila ya? :D)

Sebenarnya teman seangkatan saya bukan hanya mereka berlima, masih ada 15 orang lagi. Tapi cuma mereka-mereka ini yang merasakan "jatuh-bangun" bareng saya. Pertama kerja, kami langsung dijebloskan ke Desk Metro dan mesti panas-panasan meliput demo buruh di Tanjung Priuk, melihat bandeng (bahasa sandi polisi untuk mayat-red) korban kebakaran, dan berurusan dengan mutilasi atau vokalis band yang kedapatan membawa narkoba. Setelah itu, pusing bareng melihat deretan angka dan istilah ekonomi yang njelimet di Desk Ekonomi dan Bisnis. Terakhir, belajar berpolitik di Desk Nasional, sebelum akhirnya dua dari kami berhenti jadi wartawan.

I call them "The Five People Who Keep Me Sane". :)

vitri - saya - ririn - febri - dika - muti

 
design by suckmylolly.com