Showing posts with label my love life. Show all posts
Showing posts with label my love life. Show all posts

20.6.11

Dear You,

i want to climb the highest mountain
i want to swim across seven seas
i want to run through the jungle
i want to walk between skyscrapers
i want to see the world and see its magic
i want to be the name that they call when they announce the winner of "woman of the year" award




but, in the end of the day, all i want is someone to ask, "how was yor day?" and really care to hear the answer.







thank you. for loving me.

9.11.10

...

Sebuah tweet di suatu malam yang galau:

Have I told you that I've moved on and don't care anymore about you? Well, I was actually lying.





bukan. aku bukannya mau bilang belum bisa melupakan kamu.

aku cuma mau bilang, kamu masih ada di mana-mana. keringatmu masih menempel di sprei dan sarung bantal dan selimut yang kupakai tidur. bekas bibirmu masih ada di gelas yang kupakai minum dan rokok yang kuhisap. helai rambutmu masih tertinggal di jaket favoritku. bahkan aroma nafas dan hangat tubuhmu masih berserakan di setiap sudut kota yang kudatangi. juga bekas genggaman tanganmu masih terasa erat di sela-sela jemariku.

kamu. ada di mana-mana. dan tak mau pergi.

13.8.10

Dan Kita Bicara Tentang Mimpi...

"Kamu pernah nggak, mimpi jadi penyanyi?" tanyamu malam itu. Matamu tidak lepas dari panggung La Piazza, Kelapa Gading walaupun sang biduan wanita sudah turun, melangkah tergesa sambil mengenakan jaket di atas gaun pendeknya untuk melawan dingin malam. Yang tersisa tinggal beberapa teknisi membereskan kabel-kabel dan alat musik.

Dari binar matamu saja pun aku tahu, kamu ingin kamulah yang ada di atas panggung itu. Berteriak, berjingkrak. Bersinar. Menyerap energi dari gemuruhnya penonton yang terbius olehmu. Mendengar namamu dielu-elukan. Untuk sesaat, merasa menjadi raja dunia.

"Nggak pernah. Aku kan mimpinya jadi penulis," jawabku. "Tapi aku ngerti kok mimpi kamu."

Dan tanganmu pun semakin erat di pinggangku.





Baru empat bulan yang lalu, tapi kenapa rasanya sudah lama sekali ya?

2.7.10

Mencoba Menyapa

Percakapan di BBM...
Saya : Oi... Pa kabar, bos?

Saya : Domisili masih di ***?
Dia : Baik
Dia : Iye masih di *** aja
Saya : Masih kerja di ***?
Dia : Yup, masih
Saya : Okeee sukses deh...
Dia: Sukses juga


Harusnya saya tanya saja:
Kenapa Brazil bisa kalah dari Belanda di perempat final?
Apa yang harus dilakukan Kapolri untuk mengusut kasus rekening gendut perwira polisi?
 
Bagaimana kenaikan TDL akan memengaruhi pelaku UKM?
 
Mungkin kalau begitu, dia akan menjawab lebih dari satu-dua kata :D

***

Sudah setahun berlalu sejak saya memohon kamu untuk mengerti, sudah setahun berlalu sejak saya menangis di bahu kamu, sudah setahun berlalu sejak kita sama-sama menanggalkan jaket himpunan dan jaket almamater, saya sudah berganti-ganti pekerjaan (dari konsultan, desainer grafis amatiran, penulis lepas, sampai wartawan), saya sudah sempat melanjutkan kuliah (dan berhenti di tangah jalan), saya sudah mencoba menjalin hubungan dengan dua orang yang berbeda, ternyata kamu masih menganggap saya tidak ada.

Lebih baik kamu caci-maki-marah-marah-bentak-bentak saja saya. Saya akan merasa mendingan. Serius, deh.

23.6.10

Tentang Insomnia

Insomnia adalah gejala kelainan dalam tidur berupa kesulitan berulang untuk tidur atau mempertahankan tidur walaupun ada kesempatan untuk itu. Gejala tersebut biasanya diikuti gangguan fungsional saat bangun. Insomnia sering disebabkan oleh adanya suatu penyakit atau akibat adanya permasalahan psikologis. Dalam hal ini, bantuan medis atau psikologis akan diperlukan.
-
Wikipedia-

Insomnia saya tidak sembuh-sembuh sudah sebulan lebih.

Sebelum ngekos di Jakarta, saya tipe orang yang menganggap pulang di atas Maghrib itu kemalaman, dan sudah ganti piyama-sikat gigi-pakai krim malam-berbaring manis di kasur jam 9.

Oh, well, dunia ini dan segala isinya memang berubah. Sekarang saya malah kagok kalau masuk kos sebelum jam 9. Sekarang saya belum bisa tidur kalau jarum jam belum menunjuk angka 2 atau 3. Bisa sih, tapi jadinya saya terbangun terus-terusan. Percaya deh, terbangun tengah malam hanya untuk merasakan sendirian di kamar kos 3 x 5 meter itu... ngelangut. Hasilnya? Saya selalu melewatkan Salat Subuh, terburu-buru ke lokasi liputan (syukur-syukur dapat proyeksi liputan siang), dan rasanya seperti jetlag sepanjang hari.

Izinkan saya menyalahkan jam kerja wartawan yang serba tidak jelas, belum lagi kalau kebagian piket malam. Sekarang orientasi waktu saya jadi kacau begini. :(

Berbagai usaha sudah saya coba untuk menunggu kantuk:
Baca, sudah.
Blogwalking, download lagu, main looklet atau polyvore, sudah. (Sayangnya, saya sedang tidak tertarik pada semua situs social networking)
Beres-beres kamar, sudah.
Merokok sendirian di kamar, sudah. (Yang akhirnya saya sesali karena kamar saya jadi bau asap. Baunya nggak hilang-hilang, huh!)
Sit up di kasur, dengan harapan besok paginya perut saya sudah rata, sudah.
Melanggar komitmen dengan menelepon atau meng-SMS kamu setiap setengah jam sekali, memastikan kamu baik-baik saja (di manapun sedang apapun bersama siapapun), dan menceritakan sedikit hari saya (entah kamu benar-benar mau tahu atau tidak), tentu saja sudah.

Lucunya, kalau ada orang lain, saya jadi bisa tidur. Waktu pulang ke Bandung, raker kantor di Puncak, liputan di Savoy Homan, ke rumah Eyang Semarang, saya selalu jadi yang tidur duluan dan bangun belakangan. ;p

A-ha! Timbul ide untuk mengajak teman-teman sekos pajamas party di kamar saya. Hihihi... lucu juga melihat mereka gotong-gotong kasur, bantal, dan selimut masing-masing. Kadang, saya menginap di tempat teman kalau malas pulang ke kos. Saya tidak mau tidur sendirian.

Dan, kadang, kalau semuanya sedang baik-baik saja dan setan bertanduk di kiri saya mengalahkan malaikat berhalo di sisi kanan, saya akan memilih untuk menghabiskan malam bersama kamu. Kamu selalu tidur duluan. Tangan kamu melingkar di perut saya, nafas kamu yang pendek-pendek terasa hangat di tengkuk saya. Dan saya selalu sok tidak mengantuk. Tapi lama-lama saya menyerah dan ikut tidur pulas di samping kamu. Selalu begitu.

Mau tahu perasaan paling membahagiakan di dunia? Bukan ketika berhasil mendaki puncak gunung tertinggi atau meraih medali emas (padahal saya belum pernah juga sih... ;p), tapi ketika melihat orang yang kita sayang sebelum menutup mata, dan melihatnya lagi ketika membuka mata.





Huff, insomnia ini membunuh saya pelan-pelan...

6.5.10

cinta.



ajari aku soal cinta, kataku.
aku tidak bisa mengajarimu, tapi aku bisa menunjukkannya padamu, katamu.



 cinta itu menggeliat-geliat memberontak di bawah alam sadar.
ketika kecup lembutmu di bibir ini perlahan berubah wujud jadi kecupan penuh gelora.

cinta itu melayang-layang di udara.
ketika wangi maskulin alami tubuhmu bercampur wangi Marlboro merah mulai merasuki sukma ini.

cinta itu menghentak-hentak nyawaku.

ketika kau hempaskan tubuh ini hingga darah mengalir deras sampai ujung jemari kaki.

cinta itu menabrak-nabrak batas-batas nalar dan logika.
ketika kita berbagi peluh dan lenguh dalam satu irama.



dan semua jadi fana.






kamu adalah lelakiku. kamu adalah candu.

3.5.10

Mata Itu

Di suatu hari…
Dia : Dis, lihat mataku dong.
Aku : Hmm?
Dia : Kamu kenapa sih, kalau ngomong nggak pernah mau lihat mataku?
Aku : …


Suatu hari yang lain…
Dia : Dis, coba lihat. Inilah orang yang kamu sayang. Dari awal kan aku sudah bilang, memang keadaanku seperti ini.
Aku : Hah? Apa? Orang yang aku apa?
Dia : Yang kamu sayang.
Aku : Huahahahaha… Kok kamu bisa bilang begitu?
Dia : Dari mata kamu.
Aku : …



***

Aku jadi ingat. Ada seekor kucing liar, kurus, dekil yang suka datang ke rumah. Bulunya coklat menggemaskan. Kadang dia hanya diam di pintu, menatap penuh waspada pada kami, penghuni rumah yang lalu lalang. Kadang –mungkin kalau perutnya sudah kelewat lapar– dia mengendap-endap ke dapur, lalu hap! Science Diet kucing kesayangan saya di mangkuk merah jambu, atau bahkan sepotong ayam, tempe, atau apapun yang ada di meja, akan disambarnya. Belakangan dia mulai kelewatan. Stok Science Diet yang tersimpan rapih di dalam toples di atas meja, entah bagaimana berhasil dibukanya, dan hanya disisakan seperempat.
Mama selalu jadi orang yang paling sebal akan keberadaan si kucing coklat. Sementara aku, seperti yang sudah-sudah, tidak pernah tega. Beberapa kali aku sengaja menyodorkan mangkuk merah jambu, supaya dia bisa merasakan makanan kucing impor itu. Sambil ubun-ubunnya aku elus-elus. Padahal aku tahu, kucing coklat nanti jadinya tuman –ketagihan.

“Makanya, jangan dilihat matanya. Nanti jadi nggak tega.” Mama.

Ah, benar juga. Setiap melihat mata kucing coklat, aku jadi luluh. Rasanya ingin membawanya pulang, membersihkan bulunya yang kotor, memeluknya, dan memberinya semangkuk susu hangat. Aku tidak peduli dia kucing liar, dekil, penyakitan. Semuanya jadi tidak penting lagi.

***

Mungkin, ya, mungkin, aku memang harus menghindari sepasang mata itu. Supaya aku tidak hanyut dan tenggelam di dalamnya, lagi dan lagi.


Tenang, Sayang. Aku masih di sini, kok. Masih di sampingmu di malam-malam sepimu, mendengar kelam masa lalumu sambil menertawakan diri sendiri, memeluk tubuh kurusmu dari belakang erat-erat saat kamu di balik kemudi motor, memastikan kamu tidak memasukkan terlalu banyak nikotin dan alkohol ke tubuh itu, dan membiarkan diriku lebur dalam nyaman dekapmu.

Kalau itu bisa sedikit menghapus sepimu dan mengobati lukamu...

18.2.10

...

Setahun lalu kamu bilang,


...dan aku ingin kamu juga fokus pada apa yang
kamu mau. Karena aku tahu, kalau kamu mau, kamu pasti bisa
mendapatkannya.


Hey, kamu sadar tidak sih, aku melakukan ini semua demi kamu?

17.12.09

Lalalalala...

Sing it, sing it out loud, sing it louder! Sing like nobody’s listening, dance like nobody’s wathing, and LOVE LIKE YOU’VE NEVER BEEN HURT! Yeah yeah yeah!!!

Tell me how I’m supposed to breathe with no air?

If I should die before I wake
It’s ‘cause you took my breathe away
Losing you is like living in a world with no air

I’m here alone, didn’t wanna leave
My heart won’t move, it’s incomplete
If there was a way that I could make you understand

But how do you expect me to leave alone with just me?
‘Cause my heart revolves around you
It’s so hard for me to breathe

Tell me how I’m supposed to breathe with no air?
Can’t live, can’t breathe with no air
It’s how I feel whenever you ain’t there
There’s no air, no air
Got me out here in the water so deep
Tell me how are you gonna be without me
If you ain’t here I just can’t breathe
There’s no air, no air

I walk, I ran, I jump, I flew
Right off the ground to float to you
With no gravity to hold me down for real

But somehow I’m still alive inside
You took my heart but I survive
I don’t know how but I don’t even care

-No Air (Jordin Sparks feat. Chris Brown)-

And would you just pleaseee… stop asking me if I’m OK? Can’t you see? I’m standing, talking, smiling, laughing, living, and very happy. :)

21.9.09

Gadis Itu!

Iya, itu dia, tidak salah lagi! Berdiri mematung seorang diri di pinggir jalan. Aku sampai meminta supir taksi memutar sekali lagi –yang berarti membuat argo berjalan lebih lama– untuk memastikan.

Bukan pertama kali ini aku tidak sengaja bertemu dengannya. Yang pertama di satu tempat wisata di Bandung. Aku dengan keluargaku, dia dengan keluarganya. Yang kedua di perjalanan-mencari-peruntu
ngan-di-Jakarta entah yang ke berapaku ini. Memang kecil ya dunia ini, ternyata.


Aku jadi bingung. Sekarang posisi kami sudah sangat dekat. Haruskah aku berlari menemuinya, memberi pelukan hangat dan cium pipi? Ah, aku baru ingat kami kan tidak saling kenal, nanti dia malah lari ketakutan. Haruskah aku mengenalkan diri lebih dulu? Atau haruskah aku pura-pura tersesat dan bertanya jalan, atau jam berapa sekarang? Huh, membayangkannya pun tampak konyol.

Akhirnya aku malah memilih untuk memandanginya saja dari jauh. Dia terlihat… hmm, menarik. Ini aneh, karena pertama, aku sama sekali tidak kenal dengannya. Walaupun sebenarnya aku sudah tahu banyak hal tentang dia. Bukan hal yang sulit di era teknologi informasi ini. Aku sampai tahu nama-nama sahabat terdekatnya, judul Tugas Akhirnya, dan kapan kakaknya menikah. Dan kedua, harusnya aku membencinya. Karena rambutnya panjang atau bajunya warna biru, atau apalah.

Tapi aku malah merasa begitu dekat dengannya. Mungkin karena aku melihat ada diriku pada dirinya.

***

Hei, gadis. Mungkin lain kali kita bisa melakukan banyak hal bersama. Mengobrol seru seperti sepasang teman lama yang sudah bertahun-tahun tidak bertemu, ditemani secangkir kopi yang sama-sama kita suka. Mengobrol tentang apa saja: mulai dari quarter life crisis sampai potensi laut Indonesia. Atau menghabiskan waktu seharian sekedar untuk jalan-jalan, bergosip, atau membaca majalah.

Bukankah kita sepertinya punya banyak kesamaan –selain suka kopi? Kita sama-sama suka pantai dan tidak suka olahraga. Kita mungkin pernah meneriakkan idealisme dan semangat yang sama, walaupun dengan seragam yang berbeda. Kita mungkin pernah berkutat dengan rumus yang sama, mempelajari buku yang sama, walaupun di tempat yang berbeda. Kita sepertinya juga punya selera baju yang sama. Bahkan kita punya jenis rambut yang sama persis dan mungkin, ukuran celana jeans kita juga sama.

Oh iya, hampir lupa, kita juga pernah sayang orang yang sama. Dan… disayang orang yang sama? Memiliki harapan dan kekecewaan yang sama. Yang aku tidak tahu adalah bagaimana caramu melupakannya. Mungkin berbeda dengan caraku.

Gadis, aku benar-benar ingin berteman denganmu. Ini tulus… :)

22.2.09

Lembang, 22 Februari 2009

Aku tidak bertindak impulsif. Aku tahu ini sesuatu yang harus kulakukan, cuma masalah waktu dan momen. Dan ketika hari ini tiba, aku tahu inilah waktunya.
Kubilang semua padanya. Tentang semuanya selama empat tahun ini. Dan bahwa aku pun akan membiarkan ini berlanjut sebagai sesuatu yang tak perlu alasan, rencana, atau harapan. Entah kenapa. Entah sampai kapan. Aku bisa memahami pilihan-pilihannya, mimpi-mimpi besarnya. Aku sendiri punya keyakinan dalam hati bahwa dia akan jadi orang hebat suatu hari nanti. Pasti.  Dan mungkin ini adalah konsekuensinya.  
... lalu dia memelukku erat. Membiarkanku membenamkan diri dalam dada bidangnya yang sering hadir dalam imajinasiku, membiarkanku merasakan otot-otot lengannya di punggungku, membiarkanku menghirup aroma maskulin tubuhnya, membiarkanku menerima transfer energi panas dari tubuhnya, membiarkan bahunya basah oleh air mataku. 
Dan membiarkanku melepas tubuhnya.
Untuk saat ini, itu cukup.

16.12.08

Cobalah Mengerti

Cobalah mengerti keinginanku yang sederhana ini.

Aku cuma ingin mengerahkan segenap waktu, pikiran, dan tenagaku untuk kamu, untuk kita. Menjadi bagian dari hari-harimu yang sibuk. Menjadikan keberhasilanmu, keberhasilan kita, adalah prioritas. Menjadi orang yang selalu bisa kamu andalkan. Berkata "Ya" untuk hal-hal yang kamu minta, bahkan melakukannya duluan sebelum kamu minta. Diam-diam membantumu dan berdoa untukmu. Menunjukkan respek padamu sebagai pemimpinku. Duduk berdua denganmu, berbagi banyak hal yang biasanya diakhiri dengan kamu mengepalkan tangan atau menepuk bahuku, menyemangatiku. Mendiskusikan hal-hal serius, lalu tertawa bersamamu. Mengingatkanmu hal-hal kecil yang seringkali terlupa akibat kesibukanmu, seperti makan siang atau mengumpulkan tugas yang sudah deadline. Berdiri tepat di belakangmu dan berkata tanpa perlu bersuara, "Aku ada", dan tetap di sana saat masa-masa sulit tiba, saat tekanan datang dari sana-sini. Dan akhirnya, mendengar kata "Bangga" dan "Terima kasih" itu keluar dari mulutmu, dan rasanya semua lelahku terbayar.

Seperti dulu.

Tidak bisakah, kita mengulanginya?

15.12.08

Segelas Air Putih


Aku haus. Benar-benar haus.

Tapi aku tidak mau air putih. Air putih terlalu sederhana buatku dengan segala ego ini. Aku mau anggur mahal dalam botol yang mewah. Yang rasanya memabukkan. Yang bisa memberi kesan 'wah'. Tidak peduli berapa uang yang harus kukeluarkan untuk sebotolnya. Tidak peduli walaupun aku hanya bisa menyicip seteguk, tidak bisa memiliki semuanya. Tidak peduli walaupun aku harus mengorbankan banyak hal.

Segelas air putih tersaji di meja. Tidak kusentuh, kubiarkan saja di sana. Aku pergi mencari seteguk anggur mahal. Toh air putih itu akan tetap di sana, menungguku, menawarkan kesejukan dan kesegarannya untukku.

Tapi ternyata seseorang telah mengambil segelas air putih itu. Dan sekarang, kenapa aku justru merindukan kehadirannya?
Segelas air putih yang menyembuhkan dahaga.
Segelas air putih yang menyejukkan.
Segelas air putih yang sederhana...



-Ditulis setelah kebetulan bertemu seseorang, yang kebetulan sedang bersama seseorang yang lain lagi, A A A R R G H ! ! ! Tapi ya sudahlah, hahaha...-

15.8.08

Curhat Sama Ivan

"Dia itu emang orangnya kalau kerja sama orang lain, kalau deket sama orang lain, selalu nunjukin kalau dia nggak punya intention apa-apa," katanya. "Lu sendiri nggak punya intention jelek kan ke dia?"

Aku menggeleng pelan.

"Kalau gitu maju terus, Dis!"

Hmm... intention, ya.

Hey, watch out! I'm not giving up on you! Y E A H ! ! ! ;)

16.4.08

Percakapan, Setelah Sekian Lama

Aku melihat sosokmu yang baru datang, langsung duduk di bangku. Kamu sendirian, acuh menyantap makan siang dari piring yang kamu bawa. Aku terus mengamati sosokmu. Kerinduan yang selama ini terpendam jadi memuncak lagi. Aku sudah terbiasa menikmati keadaanmu selama ini. Aku belum terbiasa dengan ketiadaanmu. Damn, it’s killing me.

Aku ingin bicara denganmu, sudah lama aku ingin bicara denganmu. Kulempar pandangan ke sekeliling. Cuma ada sedikit orang di sini, dan semuanya sedang disibukkan urusan masing-masing. Mungkin ini momen yang tepat...

Kututup file tugas Metodologi Analisis Mengenai Dampak Lingkungan yang sedang kukerjakan. Laptop kutinggalkan dalam keadaan standby.

Aku mendudukkan diri di sebelahmu. Percakapan kubuka dengan pertanyaan basa-basi yang kamu jawab dengan, “Nggak tau.” Tidak apa-apa, aku juga tidak berharap mendapat jawaban yang memuaskan darimu. Aku cuma ingin bicara denganmu, setelah sekian lama.

Aku pernah sayang kamu...

Lalu hening. Kamu asyik menikmati makananmu, dan aku pura-pura sibuk dengan handphone di tanganku.

“Gue capek,” entah kenapa itu yang keluar dari mulutku. Tapi, ya, aku memang capek. Selanjutnya, kata-kata tidak terbendung lagi keluar dari mulutku. Kamu mendengarkanku, sambil sesekali tersenyum atau mengeluarkan beberapa kalimat tanggapan. Kamu, salah satu pendengar terbaik yang kukenal.

Aku pernah sayang kamu...

Seorang teman datang, kita jadi mengobrol bertiga. Dia malah mengajakku rapat segala. “Gue nggak bisa,” jawabku asal. Untunglah, tidak lama kemudian dia pergi. Seorang teman yang lain datang, sibuk mengangkut barang. Kita jadi mengobrol bertiga lagi. Aduh, kenapa orang-orang ini datang di saat yang tidak tepat? Apakah mereka tidak mengerti kalau aku sedang ingin bicara denganmu, berdua saja?

Akhirnya mereka pergi juga. Sekarang aku tinggal berdua lagi denganmu. Kubuka lagi percakapan kita.

Lalu, “Gue boleh nanya sesuatu nggak?”

“Apa?”

“Gue punya salah nggak sih sama lu?” Akhirnya, pertanyaan yang sudah sekian lama tersimpan dalam hati bisa kutanyakan juga.

Kamu terlihat heran atas pertanyaanku barusan. “Ng... Nggak sih. Kenapa emang?”

Tidak apa-apa, aku cuma merasa kamu berubah. Kamu tidak seperti dulu lagi. Kita tidak seperti dulu lagi. Tapi, syukurlah...

Lalu kita bicara tentang banyak hal. Tentang mimpi, harapan, dan cita-cita. Yang terwujud maupun yang tidak. Tentang idealisme. Tentang kemahasiswaan. Tentang kondisi kampus terkini. Tentang kelulusanmu yang mundur dari rencana semula. Tentang harapan keluargamu. Tentang kebingunganmu. Tentang keegoisanku. Tentang perasaanku. Tentang buku yang pernah kubaca. Tentang rencana ke depan. Tentang beberapa orang yang kita kenal. Makanan di piringmu sudah habis, tapi kamu masih di sini, di sampingku.

Aku senang bisa bicara denganmu, apalagi kebetulan saat ini aku sedang butuh teman bicara. Aku menikmati saat ini. Menikmati keadaanmu yang sempat hilang.

Aku pernah sayang kamu...

Teman-teman mulai berdatangan. Beberapa duduk dan mengajak kita mengobrol. Mungkin waktu kita sudah habis...

Ah, ya, tugasku menunggu untuk diselesaikan. “Makasih. It’s nice talking with you,” aku beranjak dari sampingmu.

Ralat! Aku masih sayang kamu!

20.2.08

Hey, Kamu!!!

Iya, kamu!

Kamu tahu nggak, aku nggak suka orang asing. Aku nggak suka mengobrol dengan supir taksi, pegawai salon yang memotong rambutku, atau orang yang duduk di sebelahku di ruang tunggu travel atau dokter. Biasanya kalau diajak mengobrol duluan, aku akan menjawab seadanya dan nggak balas bertanya, sampai mereka sadar aku nggak mau diajak mengobrol dan nggak bertanya apa-apa lagi. Aku nggak suka memulai pembicaraan dengan teman baru atau ‘temannya teman’, walaupun kadang terpaksa melakukannya. Aku malas datang ke suatu acara kalau tahu akan banyak orang asing. See? I’m just a bit anti-social, I guess.

Terus, kamu tahu nggak, sebagai seorang Capricorn yang melankolis, I’d like everything to be well planned and organized. Aku punya organizer berisi to-do list dan agenda harian. Kuliah pengganti, asistensi, ujian, deadline tugas, deadline artikel, rapat, les, wawancara, sampai janji ketemu teman SMA atau ambil celana di penjahit kutulis di sana. Jam berapa dan di mana, semuanya rinci. I love making plans. Aku nggak suka kalau ada perubahan rencana atau sesuatu yang mendadak.

Pasti kamu nggak tahu. You know nothing about me.

Dan tiba-tiba... Kamu masuk ke duniaku, as a complete stranger, in an unlikely situation, mengintervensi hidupku (bahkan mengubah siklus tidurku), dan mengacaukan rencanaku yang seharusnya berjalan sempurna.

And now I know that...

YOU

ARE

A

J E R K ! ! !

A heartless jerk with a big “J” on your forehead! I should have seen it before!

***

“Nggak usah pakai hati, Dis,” kata orang-orang. Iya, dari awal juga aku sudah berpikir seperti itu, tapi tetap saja... S A K I I I T ! ! ! Huhu... :((

Yeah. Shit happens sometimes.

It’s nice to know that you were there
Thanks for acting like you care
And making me feel like I was the only one

It’s nice to know we had it all
Thanks for watching as I fall
And making me know we were done

-My Happy Ending
(Avril Lavigne)-

Well, thanks for all your sweetnesses (although they might be fake).
Thanks for making me stronger.

I miss you, anyway. I miss your annoying phone calls late in the night, I miss your annoying poetic messages. I do...

5.10.07

Hmm...

Hanya ada kami berdua di ruangan yang biasanya selalu ramai itu. Malam memang sudah larut. Dan kami masih saja meneruskan diskusi kami, dengan notes yang sudah dipenuhi berbagai catatan ini-itu di hadapan kami. Ah, kalau bukan dia, pasti aku sudah memilih untuk pulang... Beberapa kali tangan kami tidak sengaja bersentuhan, mengirimkan getaran-getaran aneh ke dadaku. Atau tatapan matanya yang tajam bertabrakan dengan mataku. Aku sudah tidak bisa berkonsentrasi lagi pada kata-katanya tentang rencana organisasi ke depan. Dia sadar tidak ya, dari tadi aku memperhatikannya? Dia malah beberapa kali sengaja menyentuh bahu atau kakiku saat bercanda. Tidak tahukah dia, itu membuat jantungku berdegup lebih kencang? Sekarang dia mendekat, untuk melihat notes yang sedang kutulisi. Wajahnya cuma beberapa senti dariku. Aku sampai bisa mencium aroma maskulin tubuhnya. Ah, tapi dia memang selalu wangi... Aku sudah tidak tahan lagi. Kuulurkan tanganku untuk menyentuh wajahnya. Dia nampak terkejut karena perbuatanku yang tiba-tiba itu. Aku tetap menatap ke dalam matanya. Lalu, pelan-pelan sekali, aku mendekatkan wajahku padanya. Dia juga mendekatkan wajahnya pelan-pelan. Bibir kami mulai bersentuhan. Hmm... bibirnya terasa lembut di bibirku. Nikmat. Tanganku mulai menyusuri setiap senti rambut ikalnya, lehernya, bahunya, dadanya yang bidang... Lalu kubuka kancing kemeja lengan panjangnya satu per satu. Aku membiarkan tangannya menyusup masuk ke dalam t-shirt-ku. Nafas kami mulai tidak beraturan. Pelan-pelan, kudorong tubuhnya sampai terbaring di lantai. Dia merengkuhku ke dalam pelukannya. Hangat. Sekarang aku sudah berada di atas tubuhnya. And the rest is history...

Gawat, gawat, gawat. Kenapa setiap ada dia, pikiranku selalu ke arah 'sana'? Padahal lagi puasa!

12.5.07

Because You're Worth It...

-sebuah coretan nggak penting yang ditemukan di sela-sela catatan kuliah-

What’s wrong with my tongue?
These words keep slipping away
I subtle, I stumble
Like I’ve got nothing to say

‘Cause I’m feeling nervous
Trying to be so perfect
‘Cause I know you’re worth it
You’re worth it
-Things I’ll Never Say
(Avril Lavigne)-

Maaf, aku nggak bisa jadi "supergirl" seperti yang kamu harap. Habis, kalau ada kamu, aku malah jadi nggak tahu mesti ngomong apa dan ngapain. Maybe it’s simply because you’re worth it and it makes me lose my mind when you’re around…

Kulap lagi dong… (tapi kali ini bawa oleh-oleh ya ^_^)
Jadi cakahim lagi dong… (nggak nyangka kamu nggak menang…)
Sakit lagi dong… (eh, yang ini jangan ding!)
Biar ada alasan buat sms atau telepon kamu, hi… hi…

16.9.06

Being Selfish and Irresponsible

Baru saja membuat keputusan yang sangat nggak bertanggung jawab dan nggak profesional. Keputusan yang sulit, tapi mau bagaimana lagi? Keputusan itu sudah dibuat. SMS itu sudah dikirim.

Alasannya? Simply, aku cuma nggak mau memori tentang salah satu hal terindah dalam hidupku dirusak oleh hal-hal yang (mungkin) akan terjadi.
Yes, I’m a coward. I’m too scared to face what may come. I’m too scared to face reality.

Jadi, biarkan memori itu sampai di sini saja, nggak usah ada tambahan apa pun, karena mungkin tambahan itu justru akan merusaknya.

Lagipula, sepertinya selama ini aku sudah cukup banyak berkontribusi. Sekarang saatnya untuk memunculkan sifat utama seorang anak tunggal, yaitu EGOIS! Sekarang saatnya kembali oportunis dan apatis, seperti dulu lagi.

OSKM? Kemahasiswaan?
Hell with them!

*Ternyata susah ya untuk bertindak profesional dan memisahkan urusan pribadi dari urusan lain…

14.9.06

Dealing with broken heart

Rasanya baru kemarin aku membuat post berjudul ‘I Think I’m in Love’ itu. Rasanya baru kemarin aku pergi ke kampus dengan hati berbunga-bunga, hoping that my hair and my clothes are fine, kalau-kalau aku kebetulan bertemu dengannya di salah satu sudut kampus. Rasanya baru kemarin aku merasa begitu gembira menerima SMS atau menjawab telepon darinya.

And suddenly I feel so STUPID…

Rasanya baru kemarin aku menulis nggak akan menangis 7 hari 7 malam, mengurung diri di kamar ditemani buku dan musik yang gloomy (as usual...), or even hurt myself physically (I’m a sort of person who have a tendency to do that kind of thing) karena Senopati.

Tapi...
Rasanya, sekarang aku HARUS melakukannya.

Bukan karena Senopati, tapi karena orang yang sempat membuatku berpikir, “This guy’s so adorable! Senopati nggak ada apa-apanya kalau dibandingin sama dia!”

Ini bukan broken heart ala novel atau film yang cheesy. Sejak awal aku sudah tau dia cuma untuk dikagumi, bukan untuk dimiliki.

Ya, justru karena ITU lah...

 
design by suckmylolly.com