31.5.06

Losing My Sanity: Being a Stalker

Ternyata, jadi stalker itu asyik juga. Lumayan bisa membuat jantung berdebar-debar dan memacu adrenalin. Kalau tidak percaya, coba saja.

Hari ini, sehabis UAS Menggambar Teknik, rencananya aku mau ke Gramedia untuk refreshing. Siapa tahu ada buku baru yang bagus.

Di perempatan Jalan Purnawarman, mataku menangkap mobil yang rasanya familiar. Jaket yang rasanya familiar. Dan sosok yang rasanya sangat familiar.

Senopati. Tidak salah lagi.

Sedang berurusan dengan polisi rupanya. Mungkin dia salah mengambil jalur.

Refleks, aku menghentikan angkot yang kunaiki.

Lalu aku mesti bagaimana? Meneriakkan namanya? Mengetuk kaca mobilnya? Sounds ridiculous.

Tidak lama kemudian, mobil bercat hitam itu mulai melaju. Aku melihat selain dia, ada seorang lagi yang duduk di jok depan. Rambutnya pendek. Entah laki-laki atau perempuan. Lalu aku melihat mobil itu menuju basement BEC.

Entah apa yang menghipnotisku untuk melangkahkan kaki ke BEC.
Aku harus bertemu dengannya. Harus menyapanya. Dan harus tahu siapa yang sedang bersamanya.

Dan entah apa yang menghipnotisku untuk memutari setiap lantai untuk mencarinya. I was losing my mind. I was losing my sanity.

Akhirnya, aku menemukannya di lantai 2. Di dalam sebuah toko di dekat food court. Dia tampak sedang asyik melihat-lihat kamera yang ada di tangannya. Sesekali dia memotret dengan kamera itu.

Aneh. Aku yakin sekali tadi ada seorang lagi di mobilnya, tapi saat itu kulihat dia cuma sendirian. Ada seorang pengunjung lain di toko itu, seorang laki-laki yang kelihatannya sebaya dengannya, tapi posisi mereka jauh, dan mereka tidak terlihat bercakap-cakap.

Lalu aku mesti bagaimana? Masuk ke toko itu lalu menegurnya, lalu keluar lagi? Tidak, tidak. Sepertinya akan terlihat terlalu ‘disengaja’. Jadi, lebih baik aku menunggu dia keluar dari toko itu, lalu cari jalan supaya bisa berpapasan dengannya, lalu menegurnya as if aku juga sedang ada perlu di sana dan kebetulan saja bertemu dengannya. Ya, ya. Plan yang bagus.

Aku menemukan tempat yang sangat strategis: toko CD game di seberang toko kamera itu. Dari sana, aku bisa melihatnya dengan sangat jelas, tapi dia tak bisa melihatku.

Dia menghabiskan waktu cukup lama di toko kamera itu. Penjaga toko CD game ini sepertinya mulai curiga padaku yang dari tadi cuma berdiri diam di tokonya. Untuk kamuflase, aku pura-pura melihat-lihat CD game Curious George.

Ketika aku menoleh ke arah toko kamera lagi, lho... kok sudah kosong? Damn, he’s gone!

Aku memberanikan diri masuk ke toko itu. Penjaganya yang memakai seragam kemeja putih-biru menyapaku dengan ramah, “Cari apa, Mbak?”

“Ng... nggak, Mas.”

Nyari cowok yang tadi sebenernya...

Sekali lagi, aku memutari setiap lantai untuk mencarinya. Tapi kali ini aku tidak berhasil menemukannya lagi.

Kakiku mulai terasa pegal. Akhirnya aku memutuskan untuk pulang. Tidak jadi ke Gramedia.

Sampai sekarang aku masih tidak percaya, what on earth made me do this? Seems like I begin to lose my sanity...

1 comments:

M Arfah D said...

Ada satu skenario yang mungkin saja terjadi, dan kau tak tahu itu:

Senopati melihatmu, dan dia berusaha sembunyi, menunggu saat yang tepat untuk menyapamu. Dia tak tahu bahwa kau telah melakukan hal yang sama.

Tapi sayang kau tiba-tiba masuk dalam toko itu, seolah mencari sesuatu yang tertinggal atau entah apa. Dia bingung: "Apa mungkin dia mengetahui keberadaanku? Jika seperti itu, apa yang harus aku lakukan? Mengagetkannya sebagai perjumpaan yang sempurna? Bagaimana kalau ternyata dia datang bukan untukku, tapi orang lain?"

Semakin lama dia memikirkan peristiwa aneh ini, hingga akhirnya dia tak melihatmu pergi dengan langkah kecewa menjauhi toko.

"Sungguh aneh jika aku mengejar untuk kemudian menyapanya", pikirnya.

:)

 
design by suckmylolly.com