Showing posts with label my thoughts. Show all posts
Showing posts with label my thoughts. Show all posts

29.11.10

"Perfect Shoes"

Membaca tulisan Carissa yang ini, saya jadi ingat waktu sepatu saya hilang.

Iya, sepatu saya hilang. Dan saya baru sadar waktu seorang teman meminta saya menemaninya ke pernikahan temannya, sekitar sebulan yang lalu.
(Sebenarnya kalimat di atas bisa diperumit menjadi, "Adik (tapi bukan adik kandung) mantan saya meminta saya menemaninya ke pernikahan teman lama yang pernah ditaksirnya." Tapi karena hidup ini sendiri sudah cukup rumit, mari kita sederhanakan saja... ^^)

Acara itu di Jakarta, sementara semua sepatu pesta saya ditinggal di Bandung. H-1, saya baru menelepon Mama, memintanya mengirim sepatu yang dimaksud. Tapi katanya sepatu itu nggak ada di rak yang biasa.

Dan ternyata sepatu itu memang nggak ada di manapun di rumah. Saya tahu setelah seminggu setelahnya, saya pulang ke Bandung dan mengubek-ubek seisi rumah. Jangankan sepatunya, dusnya pun nggak saya temukan. Aneh, padahal saya berani bilang rumah saya itu rapih. Nggak mungkin sepatu itu nyasar sampai ke dapur, misalnya. Sepatu -yang cuma saya pakai kalau ada undangan pernikahan- itu memang sudah lama nggak saya pakai.

Ya sudahlah, mungkin saya harus menerima kenyataan kalau sepatu itu bukan rezeki saya lagi. :(

Tapi, membaca tulisan Carissa, saya jadi sadar kalau saya bukan satu-satunya orang yang super rewel kalau mau beli tas/sepatu. Harus begini harus begitu. Masalahnya, saya ini tipikal one-bag woman dan one-shoes woman. Kalau sudah ketemu tas yang cocok, saya bisa setiap hari pakai tas yang sama sampai belel.

Nah, sepatu yang hilang itu sudah memenuhi semua kriteria yang saya inginkan:
- Strapped. Dengan tali yang nggak terlalu tebal, bahan kulit warna hitam dan nggak mengkilap.
- Ankle strap.
- Bagian depannya peep toe dan meruncing , tapi nggak terlalu runcing juga.
- Hak +- 7 cm, tapi bukan stiletto.
- Bermerk.

Kurang lebih seperti inilah. Sayang, harganya melebihi budget. Tapi nggak apalah, saya rela budget saya untuk belanja yang lain dikurangi demi si "perfect shoes".


Cuma satu kekurangannya: that shoes hurts like hell, and those heels are killing me! Bayangkan saja waktu saya harus berdiri berjam-jam pakai sepatu itu waktu jadi penerima tamu di pernikahan salah satu sahabat saya, Reswa. Sakitnya minta ampun!

Tapi toh saya bertahan dengan sepatu itu. Saya mencopotnya setiap setengah jam sekali. Saya mengoleskan lotion banyak-banyak di pergelangan kaki. Saya menyesuaikan diri.

Sebelum sepatu itu -entah bagaimana- nggak jadi milik saya lagi, dan waktunya saya harus mencari sepatu baru tiba.





... mungkin nggak sih hal yang sama berlaku untuk jodoh?



Yang jelas, sampai sekarang nggak terhitung sudah berapa mall yang saya sambangi, tapi belum ketemu lagi sepatu yang benar-benar cocok... :(

24.10.10

RESIGN


Apa pekerjaan impian kamu?

Kalau ditanya begitu, saya akan menjawab malu-malu, sebab... umm... pekerjaan impian saya agak sulit diwujudkan. Pekerjaan impian saya adalah rock superstar! Pakai contact lense ala Marylin Monroe, bikin lirik lagu soal penguasa yang lalim, dan makan kelinci hidup-hidup di atas panggung. Pekerjaan impian saya yang lain adalah agen rahasia! Seperti Mrs. Smith atau tiga bidadari Charlie yang mahir memainkan pistol and kick some guy's ass sambil pakai stiletto. Cool banget nggak sih? ;;)

No, seriously.

Pekerjaan impian saya, dari dulu adalah wartawan. Saya ingin tulisan saya dibaca orang dan dijadikan rujukan, seperti Leila S. Chudori yang resensi filmnya terkenal tajam atau Ninok Leksono yang spesialis artikel sains. Saya ingin dikirim meliput peristiwa penting dari berbagai belahan dunia, seperti Meutya Hafid yang sempat disandera tentara Mujahidin segala. Saya ingin jadi pemimpin redaksi sekaligus penulis seperti Fira Basuki. Kalau itu, nggak terlalu sulit kan? ;;)

Just thought you should know, ini skema cita-cita saya setelah lulus kuliah:
1. Kerja di majalah lifestyle franchise, seperti Cosmopolitan atau Elle setahun.
2. Setelah itu kerja di koran/majalah berita, seperti Kompas atau Tempo satu-dua tahun.
3. Setelah itu kerja di stasiun TV berita, seperti Metro TV atau TV One sampai pensiun dan punya anak-cucu.

Dua pertama, alhamdulillah, sudah tercapai. Dan jangan dikira itu gampang.

Tapi toh akhirnya saya bisa menjalani pekerjaan impian saya. Seperti kata Confucius, "Choose a job you love, and you will never have to work a day in your life," saya memang nggak pernah merasa sedang "bekerja". Saya bebas bangun siang. Bebas pakai celana jeans dan sepatu Converse yang sama belelnya. Bebas nongkrong di food ourt Sarinah atau Taman Surapati sambil mengetik berita di saat orang lain mungkin sedang bosan-bosannya di kantor (Well, siapa butuh "kantor" kalau saya bisa bekerja dari BB atau laptop?). Bebas nongkrong bareng sesama wartawan sambil ngobrol ngalor ngidul dan merokok di pressroom, kantor polisi, bahkan pinggir jalan tanpa harus jaim.

Saya geli sendiri melihat teman-teman sekos yang kerja kantoran, yang harus bangun pagi dan berurusan dengan drama seperti, "Mana seragam gue yang mau disetrika? Mana bahan presentasi gue? &^%$#@$%^*&". Saya cuma bisa tersenyum sarkas membaca tweet orang-orang yang mengeluh soal pekerjaannya dan menunggu-nunggu datangnya weekend.

Ah, terlalu banyak cerita selama sembilan bulan jadi wartawan. Mungkin nanti saya akan bikin satu post khusus saja soal ini. :)



Lalu... apa? Setelah mimpi terwujud, lalu apa? Benarkah itu yang terbaik untuk kita? Akankah kita setia pada satu mimpi yang sama? Atau, bagaimana kalau kita terbangun dari mimpi dan mendapati ada realita di luar sana?

***

Siang itu, sehari setelah kaki saya terkilir (gara-gara bengong waktu turun dari metromini, ah sudahlah itu nggak penting :D), saya nggak liputan ke lapangan dan menghabiskan waktu di kantor saja. Redaktur Metro yang bertubuh tambun dan bertato itu memanggil saya ke mejanya. Dia lantas bertanya, apakah saya mau jadi wartawan sampai jangka waktu lama.

Saya bingung menjawabnya. Waktu itu saya masih jadi -meminjam istilah Radix- jurnabil alias jurnalis labil. Yah, saya akui masa-masa awal jadi wartawan memang sulit untuk saya. Dan mungkin redaktur itu sedikit-banyak bisa membacanya.

"Kamu tahu nggak, wartawan yang hebat itu yang gimana?" tanyanya kemudian.

"Nggak tau, mas."

"Wartawan yang hebat itu wartawan yang mencintai pekerjaannya, lalu berhenti jadi wartawan."

"Lho, kok malah hebat?"

"Ya hebat dong. Berarti kan dia mengorbankan hal yang dia suka. Misalnya begini, dia sebenarnya suka jadi wartawan, tapi gaji wartawan nggak cukup. Jadi dia pindah kerja ke tempat lain yang gajinya lebih besar. Atau begini, dia sebenarnya suka jadi wartawan, tapi susah ketemu keluarga dan anaknya karena jam kerja wartawan yang nggak jelas, nggak bisa diprediksi. Jadi dia cari kerjaan lain yang lebih teratur. Pasti berat sekali rasanya."

***

Kata-kata itu, saya jadikan salah satu pertimbangan sebelum resign. Per 1 Oktober ini. Dan pindah kerja ke... bank.

Sebenarnya itu bukan pekerjaan impian saya, tapi kalau saya pikir sekarang, berapa banyak sih orang di dunia ini yang bisa menjalani pekerjaan impiannya? Coba tanyakan pada mereka yang mesti berdiri tegap sepanjang hari di depan gerbang kedutaan besar yang menjulang angkuh, atau mereka yang mesti menyapu jalan dari dedaunan di siang yang terik. Apa itu pekerjaan impian mereka? Atau kalau mau lebih ekstrim lagi, coba tanyakan pada mereka yang menjual tubuhnya. Apa itu pekerjaan impian mereka? Saya pikir, hidup bukan hanya tentang mewujudkan mimpi, tapi juga, lebih penting dari itu, tentang mengambil pilihan. Tentang memanfaatkan kesempatan yang ada. Tentang bersyukur. Lalu melanjutkan hidup.

Jadi, dengan berbagai pertimbangan (dari yang paling dangkal seperti "Saya ingin kantor yang memungkinkan saya pakai high heels dan make up." sampai yang paling ambisius seperti "Saya ingin gaji yang cukup buat nyicil rumah sekian tahun lagi."), saya memutuskan untuk... RESIGN.

Sekarang saya tahu bahwa mewujudkan mimpi sama sekali nggak gampang, tapi melepaskannya jauh lebih nggak gampang lagi. Sekarang saya juga tahu bahwa, ibaratnya berperang, untuk terus berjuang atau mundur sama-sama butuh keberanian. Sebab kadang, mundur bukan berarti kalah, tapi mengalah untuk kebaikan. For a greater good.





(Ngomong-ngomong soal resign, saya jadi penasaran, bagaimana ya perasaaan orang lain waktu resign. Resign saya kemarin cukup heboh. Saya nangis di kantor, di meja redaktur yang sama, sebelum "diculik" teman-teman seangkatan ke tempat nongkrong kami di bilangan Langsat. Dan masih nangis sampai tiga hari berikutnya. :D)

26.5.10

Sekolah Kehidupan Bernama Metro Jakarta Utara

Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta Utara

Saya ingat sekali, sore itu saya baru melangkah keluar dari kos (yang baru saja diisi perabot itu) ketika telepon itu masuk. Sayangnya saya lupa siapa yang menelepon, yang pasti tulisan yang muncul di layar BB saya adalah "kantor".  

Adisti, kamu ditempatin di Metro Jakarta Utara, ya. Kamu pegang berita perkotaan, tapi kamu harus siap cover kriminal juga sekali-kali. Wartawan-wartawannya biasa nongkrong di warung samping polres. Kenalan dulu aja. Nanti kalau sempet mampir ke polsek-polsek, ke kantor walikota, bla bla bla... 

Aduh, aduh. Sekeliling saya seketika gelap rasanya.

Okelah, jadi wartawan memang cita-cita saya sejak dulu. Tapi yang saya bayangkan soal profesi ini adalah: wawancara eksklusif sama menteri siapalah, ikut perjalanan dinas presiden ke manalah, investigasi soal korupsi di lembaga apalah... Bukannya nongkrong di kantor polisi atau lari-lari meliput kerusuhan.

Metro, merupakan satu desk yang dianggap momok, bahkan bagi reporter senior sekalipun. Beda dengan para reporter Desk Ekonomi dan Bisnis yang sering menghadiri undangan liputan di hotel bintang lima, pulang membawa sekantung goodie bag, dan bergaul dengan para dirut; atau para reporter Desk Nasional yang berkeliaran di tempat-tempat kebijakan negeri ini dibuat dan bisa sedikit menyombong, "Kemarin Menteri A telepon saya, klarifikasi soal kasus yang itu.", para reporter Desk Metro harus siaga 24 jam sehari 7 hari seminggu kalau-kalau ada kerusuhan, kebakaran, banjir, bom meledak, atau apalah. Juga harus selalu mobile keliling pos liputannya, kalau-kalau di pelosok sana ada ibu yang membunuh anak kandungnya, atau di ujung sana ada gedung SD yang mau roboh.
 


Dan Jakarta Utara, bukanlah pusat pemerintahan dan bisnis seperti Jakarta Pusat atau Selatan. Jakarta Utara, dalam bayangan saya, adalah daerah pelabuhan dan industri yang "keras". Tempat kejadian kriminal tumpah ruah. Panas, semrawut.

O O O O O H H H . . . W H Y M E , G O D ? ? ?

***

Long story short,
setelah tiga bulan, setelah semua orang bilang, "Dis, lo kurusan dan iteman.", setelah berbagai versi surat pengunduran diri yang akhirnya cuma jadi draft, ternyata saya belajar banyak dari hal yang tadinya amat saya benci. Saya belajar bahwa dunia nyata, ternyata, tidaklah manis dan berwarna-warni bak gulali.

Rasanya semua yang saya pelajari selama kuliah empat tahun lebih, semua idealisme semasa meneriakkan Salam Ganesha bla bla bla itu, semua mimpi masa kanak-kanak, semua tidak ada artinya lagi. Ya, inilah dunia nyata. Selamat datang di dunia nyata. Tidak ada silabus, tidak ada textbook, tidak ada kelas. Tidak ada jadwal ujian karena sepanjang saya bernafas dan membuka mata adalah ujian.

Saya belajar dari pedagang asongan buta huruf yang didakwa sebagai pengedar ganja.
Dari pensiunan petugas pemadam kebakaran yang nyawanya hilang ketika melawan kebakaran besar di pabrik sandal.
Dari bocah lima-enam tahunan yang mengacungkan celurit dan (merasa) mengerti tentang jihad.
Dari guru SMP yang memaksa saya menerima "amplop".
Dari penjaja kerang hijau yang keukeuh berjualan walaupun Teluk Jakarta, tempatnya membudidayakan kerang jelas-jelas sudah dinyatakan tercemar Merkuri.
Dari buruh bongkar muat pelabuhan yang terkatung-katung setelah di-PHK.
Dari kakek yang cucunya meninggal karena ledakan tabung gas tepat di hari ulangtahunnya yang keenam.
Dari tukang becak dan pedagang kaki lima yang kena gusur, maupun Satpol PP yang menggusur.
Dari massa (yang jumlahnya ribuan, yang datang tiba-tiba entah dari mana) yang sedemikian mudahnya terprovokasi dan membakar apa saja yang ada di depan mata.
Dari anak-anak yang makan, tidur, belajar, dan bermain di kolong jalan tol sepanjang hidup mereka.
Dari supir truk kontainer yang tanpa dikurangi pungli pun penghasilannya tidak cukup untuk menghidupi enam anak.
Dari warga yang mengamuk dan merusak ruko yang baru dibangun di pemukiman mereka.
Dari nelayan yang tidak bisa melaut karena tidak mampu beli BBM dan beralih profesi jadi pemulung.
Dari remaja tanggung tidak tamat SD yang membunuh karena cemburu.
Dari satu keluarga yang rumahnya ludes dihanguskan api dan hanya punya baju yang melekat di badan.
Dari pedagang es potong yang tusuk-tusukan pakai pisau pemotong es karena persaingan harga yang cuma selisih 100 rupiah, di depan SD tepat pada jam istirahat.
Dari oknum polisi yang mencak-mencak ketika saya todong soal keterlibatan polisi dalam perampokan warung mie dan apotik.
Dari ABK yang (entah bagaimana) mendorong rekannya ke laut saat mabuk dan baru sadar berhari-hari kemudian.
Dari massa yang sempat-sempatnya menjarah di tengah ribuan orang yang sedang bertikai, celurit, lemparan batu, dan gas air mata.
Dari tuna rungu yang ikut demo.

Juga dari para begundal utara (sebutan untuk para wartawan Metro Jakarta Utara-red), mulai dari yang paling idealis sampai yang paling getol mengumpulkan "amplop".

Dan, di usia yang sudah menginjak 23 ini, saya belajar sesuatu soal cinta. Cinta tidak buta. Cinta hanya menutup mata. Tapi kalau mau kita bisa kok, memilih untuk membukanya. :)

 
Mungkin saya memang harus berterima kasih pada Metro dan Jakarta Utara. Untuk tiga bulan yang membuat saya jadi tiga kali lipat lebih kuat. Well, what doesn't kill you makes you stronger. Yah, setelah puluhan kali menyambangi kerusuhan dan kebakaran, liputan sambil lari-lari menghindari lemparan batu dan gas air mata, disuruh standby di lokasi kebakaran semalam suntuk, menunggui kamar jenazah, melihat darah dan potongan tubuh, melihat bandeng (bahasa sandi polisi untuk mayat-red) dalam kondisi mengenaskan, nongkrong bareng para intel dan kriminal, apa lagi sih yang lebih buruk yang bisa terjadi?

God, now I know why. Because You want me to be stronger.

Setidaknya ada satu hal yang bisa bikin saya senyum: sekarang saya sudah bisa bilang, "The hardest part is over." :) :) :)

27.11.09

Dare You to Move-Switchfoot

Definitely my idea of a perfect song: rocking tunes, comes along with thoughtful lyrics, not to mention performed by a band with a cool attitude... Check out the video here, and here's the lyrics:

Welcome to the planet
Welcome to existence
Everyone's here, everyone's here
Everybody's watching you now
Everybody waits for you now
What happens next?
What happens next?

I dare you to move
I dare you to move
I dare you to lift yourself up off the floor
I dare you to move
I dare you to move
Like today never happened
Today never happened before

Welcome to the fallout
Welcome to resistance
The tension is here
The tension is here
Between who you are and who you could be
Between how it is and how it should be


I dare you to move
I dare you to move
I dare you to lift yourself up off the floor
I dare you to move
I dare you to move
Like today never happened
Today never happened

Maybe redemption has stories to tell
Maybe forgiveness is right where you fell
Where can you run to escape from yourself?
Where you gonna go?
Where you gonna go?
Salvation is here

I dare you to move
I dare you to move
I dare you to lift yourself
Lift yourself up off the floor
I dare you to move
I dare you to move
Like today never happened
Today never happened
Today never happened
Today never happened before

And take a look at what Wikipedia says about this song:

This song, written by Switchfoot singer/songwriter Jon Foreman, was originally recorded as the opening track for Switchfoot's 2000 album Learning to Breathe, and also appeared on the A Walk to Remember soundtrack, which featured several other Switchfoot songs. Foreman has called it "a defining song" for the band. "It's me talking to myself and I think a lot of times I feel stagnant and stuck in the same place," says Jon. "And 'Dare You to Move' is kind of a song for myself to get me up and get me moving and tackling a new part of life."

So... I dare you to move, people! :D

11.11.09

Hello, Blog! I've Been Missing You!

So, it’s been 1… 2… 3… 4… 5 months? (If copy-pasted posts from my Facebook’s notes doesn’t count). Ever since the Facebook regime has beaten the Friendster regime and micro-blogging sites such as Twitter and Plurk are becoming huge now (By the way, I just don’t get the idea of constantly telling other people where I’m at or what I’m doing. That is way too lame!), seems like everyone leave their blogs without any recent updates. Blogging is not the same anymore.

Neither am I. I used to read a lot. I used to write a lot. I used to think, cry, mourn, and whine a lot. Now I don’t even have enough time to response to my feelings anymore. My mind is occupied with school, work, school, work, and how to find another job to earn some money. What the hell is wrong with me? Sometimes I think I need a break time, I need a little room to breathe, like how I label this blog. But life doesn’t have a parking lot, the clock keep on ticking, and we’ve got to keep on running.

Maybe all I have to do is just keep on writing then, no matter how lame it is, no matter if nobody care enough to read it. I know that I’m such an extreme introvert, and writing has always been like a therapy for me. Same thing goes with shopping. If they say
Shopping is cheaper than therapist”,hey, writing is even much cheaper! :D

Oh, by the way, one of my blog readers once asked me about how I was bragging about gloom, depression, or even suicidal tendency in my writings. Pssstt, let me share you a little secret:
Nggak semua yang lo baca itu bener.”I’ve been exaggerating a bit. There, I admit. I think every writer does the same thing, otherwise they wouldn’t able to make a best-selling novel. I just think that the unhappy feelings are parts of this so-called-life that we have to admit as much as all the happy feelings. Don’t freak out. But… I-am-OK. Oh yes, I am!

And for the very moment, let me just share you this. I copy-pasted it from someone else’s blog who copy-pasted it from someone else’s blog, too. It’s pretty much fun!

Bold whatever applies to you!

You like showers better than bubble baths.
You cannot stand pop music.
You have a sister.
You are an only child.
You have black hair.
You have blonde hair.
You have red hair.
You have glasses.
You wear contacts.
You like TV more than movies.
You don’t talk on the phone often.
You like to shop.
You like emo music.
You are tall.
You are short.
You are average height.
You have long hair.
You have medium length hair.
You have short hair.
You use AIM.
You use Yahoo IM.
You have more than 3 pets.
You like sushi.
You love sushi.
You are on a diet.
You are currently on the second floor of your house.
You have a small room.
You are in high school.
You have 1 little brother.
You have an older brother.
You are allergic to something.
You have a boyfriend/girlfriend.
You have a current crush.
You have many crushes.
You have been kissed.
You have kissed another girl.
You laugh a lot.
You have lots of friends.
You are lonely.
You are depressed.
You are listening to music.
You are doing homework.
You have school tomorrow.
You are sick.
You hate your teacher.
You think your teacher is OK.
There is drama in your school, constantly.
You are wearing sweat pants.
You are wearing socks.
You are wearing a T-shirt.
You have lost a loved one.
You hate your school.
You loved your school.
You have been picked on.
You have been yelled at.
You have gotten in a fight.
You have said a bad word.
You shop at Abercrombie and Fitch.
You play basketball.
You play softball.
You play baseball.
You play soccer.
You play football.
You hate sports.
You get manicures.
You shop at Pac Sun.
You go to the mall a lot.
You are close with your family.
You never fight with your parents.
You have been grounded.
You have driven a car.
You are listening to your iPod.
You are watching TV.
You are watching a movie.
You are listening to the radio.
You are singing.
You are happy.
You are sad.
You are blah.
You are anxious.
You are about to go somewhere.
You haven’t been out of your house for over 3 days.
Someone besides you is in the same room with you.
You love your natural hair.
You hate your eye color.
You wish you were never been born.
You write your own songs.
You write books.
You hate to write.
You hate your hometown.
You love your hometown.
You are smart.
You are average.
You are dumb.
You get good grades.
You enjoy having people at your house.
You love going to the movies with a lot of people.
You like to go bowling with your friends.
You have ice-skated before.
You like popsicles.
You think Vanilla is better than Chocolate.

Isn’t it funny, how I’m happy and sad, and how I hate and love my hometown at the very same time? Life is funny indeed. Don’t forget to laugh in our every single day then! :)

21.9.09

ITB Itu Biasa Saja*


*inspirasi judul dari Efek Rumah Kaca, Jatuh Cinta Itu Biasa Saja


Saya baru (akhirnya) selesai (juga) membaca Gading-Gading Ganesha. Lembar-lembar pertama, kesan yang saya tangkap adalah: berlebihan. Saya merasa, penulis terlalu berlebihan menggambarkan ITB sebagai “perguruan tinggi terbaik”, “tempat sang proklamator menuntut ilmu”, “kampus idaman setiap insan muda Indonesia yang baru lulus SMA”, yada… yada… yada… sehingga membawa eforia bagi enam tokoh utamanya ketika baru masuk ITB. Seakan masuk ITB = sudah jaminan sukses. Saya kok biasa-biasa saja ya dulu.

Mungkin karena sejak kecil saya tinggal di Bandung, dan ITB bukan hal asing buat saya. Jadi saya tidak tahu rasanya diantar orang sekampung atau dititipi kain batik oleh Ibu, seperti salah satu tokoh utamanya. Sebelum kuliah di ITB, saya sudah bolak balik ke Laboratorium Pengolahan Air TL (yang dulu saya ‘kutuk’ karena banyak alat aneh dan bau-bauan aneh, tapi ternyata saya malah masuk jurusan yang memiliki laboratorium itu, huh, kualat!). Saya sudah pernah ikut prosesi wisuda di Sabuga, makan siang di Kantin Borju, hunting barang murah meriah di Pasar Jumat, dan syuting di daerah Sipil (seriously, waktu SMA saya ikut unit Sinematografi, dan pernah syuting di ITB). Bahkan saya membeli Supernova Ksatria, Puteri, dan Bintang Jatuh-nya Dee di Kokesma. Maklum, harga edisi mahasiswanya jauh lebih ekonomis.

Mungkin juga karena saya sudah tahu diterima di ITB beberapa minggu sebelum pengumuman resmi, jadi saya belum sempat merasakan dag-dig-dug menunggu pengumuman. Teman Mama yang kebetulan dosen TL suatu malam menelepon, memberitahu nama saya ada di daftar nama peserta USM yang diterima di TL. Saya bahkan belum sempat belajar ekstra keras buat SPMB. I know, I’m such a lucky bastard. He-he.

Tidak ada yang (terlalu) istimewa. ITB itu biasa saja kok.

Karena itulah saya merasa novel itu berlebihan. Hal yang sama juga saya rasakan ketika beberapa waktu yang lalu melihat caleg yang mencantumkan “Alumni ITB” di spanduknya. Ya terus kenapa kalau situ alumni ITB???

Dan, bukankah sudah sering kita mendengar isu bahwa alumni ITB di dunia kerja arogan, egonya tinggi, terlalu percaya diri, kutu loncat, dan tidak bisa bekerja sama?

Padahal apa sih istimewanya ITB? Lulus dari ITB, sama saja tuh, harus rajin-rajin mencari lowongan kerja seperti sejuta pengangguran intelektual lain di Indonesia (data tahun 2009-red). Kalau diterima pun harus ikut on job training dulu, apalagi kalau bidangnya tidak sesuai dengan latar belakang pendidikan kita. Tidak bisa langsung jadi bos, kecuali kalau perusahaan itu punya ayah kita ;). Atau harus berburu beasiswa ke luar negeri, bagi yang berminat melanjutkan studi. Atau harus mengumpulkan modal dan berebut konsumen dengan kompetitor, bagi yang tertarik berwirausaha.


***

Memasuki bagian tengah, barulah novel ini terasa real. Benar bahwa universitas yang sesungguhnya ada di dunia nyata. Para alumni kampus cap gajah itu ada yang kena PHK, usahanya kolaps, tidak bisa mempertahankan idealisme, bahkan terpaksa jadi supir tembakan dan salesman bebek mainan door-to-door di negeri orang. Oh iya, khusus mengenai “tidak bisa mempertahankan idealisme” ini, saya melihat pola yang mirip dengan Epigram-nya Jamal dan Orang-Orang Proyek-nya Ahmad Tohari: aktivis kampus semasa kuliah meneriakkan idealisme, setelah lulus tidak bisa bertahan pada idealismenya.

Tapi akhirnya, bersinergi, mereka memberikan apa yang mereka bisa untuk masyarakat, sesuai bidang keahlian dan kemampuan masing-masing di bawah slogan “Indonesia Jaya”. Menghasilkan karya nyata, bukan sekedar wacana. Membuat kampus tidak sekedar menara gading.

Ah, mungkin saya yang salah. Mungkin ITB tidak biasa saja. Bukankah beratnya beban akademis yang membuat siklus tidur jadi tidak normal itu, ditambah ospek yang keras (untuk jurusan tertentu lho ;p), ditambah maraknya kegiatan kemahasiswaan, ditambah interaksi dengan orang dari berbagai latar belakang daerah sampai-sampai ITB dijuluki Indonesia mini, sudah menempa kita menjadi insan yang tidak biasa saja?

Mungkin, kita memang tidak biasa saja. Kalau bersinergi.

Yang jelas, membaca novel ini membuat saya ingin kembali mengenakan jaket almamater dan meneriakkan Salam Ganesha. Ah, berjuta rakyat menanti tangan kita, mereka lapar dan bau keringat… ;)

15.10.08

RUU Pornografi vs RUU APP

Pertama-tama, saya permisi dulu kalau-kalau tulisan ini dianggap vulgar atau kurang sopan.

RUU APP (Anti Pornografi dan Pornoaksi) yang sempat dilupakan orang mulai terdengar gaungnya lagi akhir-akhir ini. Pertama kali mendengar RUU ini (tahun 2006 kalau tidak salah), saya bingung. Harga BBM naik terus, harga sembako selangit, korupsi merajalela, hutang luar negeri menumpuk, banyak anak putus sekolah, banyak anak busung lapar, aset negara diprivatisasi pihak asing, emisi gas rumah kaca makin tidak terkendali, kok sempat-sempatnya para wakil rakyat yang duduk di DPR itu membahas paha dan dada perempuan. Apa tidak lebih baik biaya untuk pembahasan RUU ini dialokasikan untuk hal lain yang lebih krusial dan lebih konkret? Tapi ya sudahlah, sebagai warga negara yang baik saya manut saja. Masa mau mengkudeta pemerintah atau mengungsi ke luar negeri? :D

Sekarang RUU APP sudah direvisi menjadi RUU Pornografi. Dibanding RUU APP, RUU Pornografi ini terasa lebih longgar. Kalau RUU APP cenderung melarang segala bentuk pornografi, RUU Pornografi cenderung mengatur pornografi. Dulu, saya termasuk golongan yang kontra terhadap RUU APP. Kalau saya cermati sekarang, draft RUU Pornografi ini sudah jauh lebih baik dibanding draft RUU APP yang super ‘geje’ alias ‘ga jelas’. Tapi masih ada beberapa cacat:

1. Definisi pornografi sendiri belum jelas
Ingat, "...atau bentuk pesan komunikasi lain melalui berbagai bentuk media komunikasi..." bisa berarti apapun, lho!Oh ya, saya jadi kepikiran, dalam draft ini banyak istilah seperti senggama, alat kelamin, telanjang, anal seks, dan oral seks. Bagaimana ya kalau ada orang yang pikirannya saking ngeresnya mendengar kata-kata itu saja bisa terangsang? Berarti RUU Pornografi juga harus dimusnahkan dong! :)):)):))

2. Mendiskriminasi perempuan
“Kami, kaum perempuan, selalu saja dicurigai sebagai mesin perusak masyarakat bila berusaha membebaskan tubuh, pikiran, dan perasaan dari perangkap nilai dan sistem sosial yang menjadikan kami manusia kelas dua, Second Sex kata Simone de Beauvoir. Kami ingin keluar dari harga mati bahwa perempuan adalah lubang rahim di dalam perut. Kami ingin keluar dari jeratan tubuh biologis ini. Mengakui tubuh keperempuanan kami, dan bebas menentukan apa saja masa depan tubuh, pikiran, dan perasaan kami. Inilah yang sebenarnya ditakuti kekuasaan politik, sosial, budaya, dan laki-laki.”
-Bulan Jingga dalam Kepala (M. Fadjroel Rachman) hal.242-


Walaupun RUU ini bertujuan untuk memberikan perlindungan bagi perempuan seperti tercantum dalam Pasal 3, saya takut dalam prakteknya perempuan Indonesia akan (makin) terdiskriminasi. RUU ini berangkat dari paradigma sesat bahwa seakan-akan perempuanlah yang menjadi penyebab kerusakan moral negeri ini.

Oh, come on! Laki-laki yang tidak bisa mengontrol syahwatnya, kok perempuan yang disalahkan? Ini kan tidak masuk akal! Lihat saja di Arab Saudi. Perempuan di sana bajunya tertutup semua, tapi TKW Indonesia banyak yang diperkosa. Tanya kenapa? Lihat juga di Bali.Turis-turisnya bebas berbikini bahkan topless di pantai, lukisan dan patung perempuan telanjang di mana-mana, apa perempuan Bali jadi pada diperkosa?

Ibaratnya kalau ada orang punya permata, tentu saja dia akan menjaga permata itu sebaik-baiknya. Mana ada sih orang waras yang mau barang berharganya dicuri? Tapi yang namanya maling ya pasti akan mencari celah untuk mencuri. Kalau sudah begitu, apa si pemilik permata yang disalahkan?

Saya juga perempuan, punya agama, punya orangtua, punya moral. Yakinlah bahwa semua perempuan yang punya agama, punya orangtua, punya moral, tidak akan mengumbar seksualitasnya. Kami ingin perlindungan, tapi tidak dengan cara yang diskriminatif. Kalau mau benar-benar melindungi perempuan, pertegas tuh undang-undang kekerasan seksual, kekerasan dalam rumah tangga, dan human trafficking!

3. Memasung kreativitas dalam seni
Dalam RUU ini sebenarnya sudah ada pengecualian untuk seni dan budaya, tapi masih belum jelas juga.
seperti tercantum dalam Pasal 4 ayat (1).

Contoh lain lagi adalah majalah Playboy Indonesia. Menurut saya, foto-foto di majalah ini artistik dan tidak vulgar sama sekali. Artikel-artikelnya pun berbobot. Tapi kenapa pada awal penerbitannya banyak pihak yang menentang? (Sayangnya, orang-orang yang katanya mau menjaga moral bangsa itu malah melakukan tindakan anarkis dengan melempari kantor majalah Playboy dengan batu. Huu... munafik!). Tabloid yang memuat foto perempuan berbikini ngangkang dengan tampang mesum, yang beredar bebas dengan harga murah sehingga anak SD bisa membelinya dengan mudah malah tidak diapa-apakan. Hm... saya jadi curiga ada permainan pihak tertentu.

Oh ya, juga tidak ada penjelasan kalau ada barang/kegiatan seni yang mengandung unsur pornografi, apakah seluruhnya harus dihilangkan atau hanya bagian yang mengandung unsur pornografi itu saja.

Masih ada lagi nih:

Pasal 8: Setiap orang dilarang dengan sengaja atau atas persetujuan dirinya menjadi objek atau model yang mengandung muatan pornografi.

Pasal 9: Setiap orang dilarang menjadikan orang lain sebagai objek atau model yang mengandung muatan pornografi.
Ini, selain memasung kreativitas dalam seni juga mengekang kebebasan pribadi. Bagaimana kalau untuk konsumsi pribadi dan tidak disebarluaskan? Khusus untuk Pasal 9, bagaimana kalau orang lain yang dijadikan objek itu tidak keberatan atau tidak tahu (dan tidak akan tahu karena tidak akan disebarluaskan)? Lalu bagaimana dengan karya sastra yang tidak menampilkan si objek secara eksplisit? Biasanya, karya sastra yang memuat adegan seks dibuat penulisnya berdasarkan imajinasinya, yang objeknya adalah dia sendiri atau orang dekatnya.

4. Prakteknya
Karena kerancuannya, saya takut dalam pelaksanaannya RUU Pornografi malah cuma akan melahirkan ‘polisi-polisi moral’ yang sok suci dan membuka peluang bagi oknum aparat yang kurang bertanggung jawab untuk... ehm, you know lah. Terutama karena adanya bagian Peran Serta Masyarakat (Pasal 21-23). Saya takut rezim Taliban akan dimulai di Indonesia! Saya takut kasus majalah Playboy akan terulang!

Jadi... S A Y N O T O P O R N !
Tapi saya juga belum sepenuhnya pro terhadap RUU Pornografi. Kecualiii... kalau ada revisi. Tapi pada prinsipnya saya tetap pada pendapat saya yang pertama di atas: masih banyak hal lain yang perlu diprioritaskan, wahai para wakil rakyat!

Oh by the way, tulisan saya yang ini dan ini masuk kategori pornografi nggak ya? Well, I was just trying to be honest while most people are being hypocrite...

Sekali lagi, maaf kalau tulisan ini dianggap vulgar atau kurang sopan. It’s just my humble opinion. Since it’s my blog, and it’s my prerogative to write anything I want here. Hidup citizen journalism!

Pasal 1: Pornografi adalah materi seksualitas yang dibuat oleh manusia dalam bentuk gambar, sketsa, ilustrasi, foto, tulisan, suara, bunyi, gambar bergerak, animasi, kartun, syair, percakapan, gerak tubuh, atau bentuk pesan komunikasi lain melalui berbagai bentuk media komunikasi dan/atau pertunjukan di muka umum, yang dapat membangkitkan hasrat seksual dan/atau melanggar nilai-nilai kesusilaan dalam masyarakat.
Hal yang dapat membangkitkan hasrat seksual itu kan berbeda-beda tergantung setiap individu. Bagaimana kalau ada yang hasrat seksualnya bangkit gara-gara melihat bibir tebal Angelina Jolie? Apa setiap foto Angelina Jolie yang beredar di Indonesia bibirnya harus di-blur? Seorang teman laki-laki pernah mengaku, kalau melihat perempuan pakai kain batik dia seringkali berimajinasi lilitan kainnya itu lepas satu per satu. Apa perempuan tidak boleh pakai kain seperti itu lagi? Saya sendiri, jujur nih, bisa turn on gara-gara laki-laki yang badannya tegap, agak kurus, dan tangannya cukup berotot. Nah lho!

Lalu, melanggar nilai-nilai kesusilaan dalam masyarakat itu masyarakat yang mana maksudnya? Kita kan hidup di tengah masyarakat yang plural.

Iya, saya tahu sebagai manusia kita telah dikaruniai akal untuk berpikir, untuk membedakan yang mana yang baik dan yang mana yang buruk sesuai konteksnya, tapi ada baiknya hal-hal di atas diperjelas supaya tidak menimbulkan multitafsir.
Pasal 14: Pembuatan, penyebarluasan, dan penggunaan materi seksualitas dapat dilakukan untuk kepentingan dan memiliki nilai:
a.seni dan budaya;
b.adat istiadat; dan
c.ritual tradisional.

Penjelasan: Yang dimaksud dengan "materi seksualitas" adalah materi yang tidak mengandung unsur yang dapat membangkitkan hasrat seksual dan/atau tidak melanggar kesusilaan dalam masyarakat, misalnya patung telanjang yang menggambarkan lingga dan yoni.
Wah wah, nilai seni dan budaya itu parameternya apa? Lagi-lagi... multitafsir!

Menurut saya sih, asal hal-hal yang berbau seksualitas itu dikemas dengan artistik dan tidak vulgar tidak masalah. Toh seksualitas bukan aib. Contohnya film Babel (an Academy Award winning movie yang dibintangi Brad Pitt). Di film itu ada adegan anak laki-laki (kira-kira 13 tahun) di Timur Tengah (maaf) masturbasi setelah mengintip adik perempuannya ganti baju, si adik (kira-kira 11 tahun) yang setelah tahu diintip kakaknya malah sengaja membuka jilbab dan bajunya satu per satu, dan remaja perempuan (kira-kira 17 tahun) di Jepang yang telanjang (yup, totally naked) dan menggoda beberapa laki-laki dewasa sebagai bentuk pemberontakan dan pencarian jati dirinya. Kalau merujuk pada RUU Pornografi film ini seharusnya dilarang karena memuat masturbasi dan ketelanjangan seperti tercantum dalam Pasal 4 ayat (1). Tapi menurut saya ini sama sekali bukan pornografi. Kalau dicermati, ada nilai sosial dalam ketiga adegan tersebut.

Contoh lain adalah kutipan novel ini.
"Di tengah mimpinya kuda putih itu datang membangunkan. Dengan matanya makhluk cantik itu berkata. Sesuatu yang tak ia mengerti. Tapi sesuatu yang menguak keinginan di dalam dirinya. Pelan-pelan ia menjadi berani, untuk menakjubi tubuh betina itu dengan tangannya. Seperti yang dilakukan Sang Tuan si penunggang. Lalu ia beranikan diri menakjubi dengan kakinya. Dan seluruh tubuhnya. Ia telah berada di atas kuda itu sekarang, meski dengan susah payah dan gemetar yang sangat, tubuhnya tidak tegak, melainkan runduk memeluk leher dan menghirup hangat surai. Kuda putih itu membawanya. Gulung gemulung. Di antara jerami."
-Bilangan Fu (Ayu Utami), hal.336-


Ini sebenarnya adegan seks pemuda 17 tahun dengan ibu tirinya. Kalau merujuk pada RUU Pornografi tulisan ini juga seharusnya dilarang karena memuat persenggamaan

10.9.06

Dunia Tanpa Koma


Tiga nama pemeran utamanya: Dian Sastro (the lovable girl, siapa sih yang nggak suka sama dia?), Fauzi Baadilla (nggak cuma punya tampang keren dan perut six packs yang bikin ngiler, tapi aktingnya juga OK), dan Tora Sudiro (siapa juga sih yang nggak suka sama dia?), sebenarnya cuma alasan kedua yang membuatku menunggu-nunggu film seri yang mulai tayang sejak tadi malam ini.

Alasan pertamanya, karena film seri ini bercerita tentang dunia wartawan, dunia yang sangat ingin aku masuki.

Tapi setelah menonton episode pertamanya tadi malam, terbersit sedikit rasa kecewa juga. Ceritanya masih standar, nggak jauh beda sama sinetron kebanyakan. Sinematografinya (dari sudut pandangku sebagai orang awam, yah… tahu sedikit lah tentang sinematografi waktu ikut ekskul Sinematografi di SMA dan pendidikan Cakru di LFM) juga standar. Penggambaran tokohnya terlalu hitam-putih.

Tapi masih lebih bagus sih daripada sinetron-sinetron yang mungkin karena faktor kejar tayang, kelogisan ceritanya, akting pemainnya, dan sinematografinya jadi nggak penting lagi.

Film seri ini juga bisa memberi gambaran tentang pekerjaan wartawan: bagaimana seorang wartawan harus gigih mencari berita, bagaimana seorang wartawan harus punya link ke ‘orang-orang penting’, bagaimana seorang wartawan harus punya rasa ingin tahu dan memperhatikan sekitarnya, bagaimana stresnya kalau belum berhasil mewawancarai narasumber padahal sudah dikejar deadline, bagaimana harus bersaing dengan media lain untuk mendapatkan berita eksklusif, sampai bagaimana seorang wartawan berbicara dan berdandan.

Makanya, ayo Dis, kuliah yang benar biar dapat IP bagus, keep on practicing, ambil S2 Communication-Journalism di luar negeri, and make yourself a great journalist!

Hmm… what a life…

26.8.06

Mahasiswa?

Mahasiswa.
Agent of change.
Guardian of value.
Iron stock.
Middle-class position.


Terlalu muluk-muluk?
Well, tadinya aku juga berpikir begitu.

Sampai OSKM 2006. Di sini aku bertemu orang-orang dengan idealisme mahasiswa yang begitu besar. Orang-orang yang sangat paham apa arti ‘maha’ pada kata ‘mahasiswa’. Orang-orang yang rela mengesampingkan kepentingan pribadi. Orang-orang dengan pemikiran jauh ke depan.

Aku? Sudah 2 tahun aku jadi mahasiswa. Tiap hari berangkat ke kampus – kuliah – pulang. Waktu kuliah pun kadang nggak ngerti apa-apa (Ck… ck… mau jadi apa?). Jangankan memikirkan kondisi bangsa ini, aku masih sibuk memikirkan hari ini pakai baju apa ke kampus, istirahat nanti mau makan siang di mana, ngeceng sana-sini, film ini belum ditonton, tas merk itu belum terbeli. Ikut himpunan, unit, atau kepanitiaan di kampus pun cuma untuk senang-senang.

Aku merasa… hmm, sepertinya ‘tertampar’ merupakan kata yang tepat. Jujur, aku tidak (belum) bisa seperti mereka.

But too much of something is never been good, right? Kalau terlalu idealis, mau hidup bagaimana?

24.7.06

OSKM (lagi)

OSKM kurang dari sebulan lagi (kalau opening jadi tanggal 17 Agustus). Auranya sudah terasa di kampus (contoh: banyak orang pakai jaket almamater, banyak poster publikasi di papan pengumuman). Apalagi di Sekre KM dimana pasti ada kegiatan persiapan OSKM setiap hari, dimana terpajang tulisan “Setiap kita adalah penting” besar-besar di dindingnya.

Tidak berlebihan kalau aku bilang aku sangat mencintai OSKM. Bermula dari OSKM 2004 yang sangat berkesan buatku. Padahal kalau dibandingkan dengan Osjur di TL yang 6 bulan dan jauh lebih berat, OSKM yang cuma 5 hari sepertinya memang ‘nggak ada apa-apanya’. Tapi tetap saja berkesan. Baru kali itu aku mengalami berkumpul bersama begitu banyak orang (ada kira-kira 3500 peserta dan panitia dari berbagai divisi) di satu lapangan luas, pakai atribut tameng dan topi wayang (bikin bareng teman-teman sekelompok di basecamp), terkesan pada Danlap yang berorasi dengan gagahnya, terkesan pada Punggawa yang mau-maunya ikut capek bareng peserta (tapi tetap senyum dan ngasih semangat terus), dimarahi Rahwana gara-gara rok kependekan (oh ya, aku sempat sengaja nggak bawa tugas, cuma karena pingin ngerasain dihukum), lari-lari sambil megang tas teman yang di depan (pundak sampai sakit rasanya gara-gara tas ditarik-tarik sama teman yang di belakang, padahal harus lari nyusul teman yang di depan juga), lingkar wacana sama mentor, nyanyi lagu-lagu kampus, senam pagi bareng LSS yang kocak, Salam Ganesha, body wave sampai kaki mati rasa (tapi pas lihat hasil rekamannya ternyata keren banget!).

Lalu, OSKM 2005 yang lebih berkesan lagi. Aku jadi Supernova (taplok). Ikut Diklat selama kurang lebih 2 bulan, belajar banyak tentang kemahasiswaan, nyari stempel di BEC, bagi-bagi selebaran di Dago, bikin drama tentang kaderisasi dan kemahasiswaan terpusat, kumpul di CC jam 5.15 pagi, lari keliling kampus dan olahraga bareng, bikin papan kelompok sama pasangan, dan tentunya... malam Pra OSKM yang sampai sekarang masih jadi salah satu momen paling berkesan buatku. Malam itu, untuk pertama kalinya aku memberi Salam Ganesha dan nyanyi lagu Mentari benar-benar dari hati. (Ha... ha... does this sentence make you wanna puke?)

Sayang, waktu itu baru pergantian Rektor, dan Rektor yang baru sepertinya sedikit alergi pada kegiatan-kegiatan kaderisasi seperti OSKM ini. OSKM jauh dari yang aku (dan sepertinya semua panitia lain) bayangkan. Kami tak ubahnya seperti EO untuk acara Rektorat, dengan segala peraturan dan batasan ini-itu.

But, still, OSKM has always been so meaningful to me. Aku dapat banyak hal di sini, lebih dari sekedar kenalan baru, teman baru, atau kecengan baru. ^_^

And now, OSKM 2006 is approaching! Sekarang aku bergabung dengan tim Acara.

Dan kenapa aku mau jadi panitia OSKM (lagi)? Kenapa aku mau-maunya rapat hampir setiap hari dan panas-panasan ngurus Diklat calon panitia, sementara orang lain pergi liburan atau malah tidur di rumah?
- Ingin berbuat ‘sesuatu’ untuk almamater tercinta ini, mumpung masih jadi mahasiswa.
Seriously.
- Sense of belonging. Sebagai alumni OSKM 2004, aku merasa punya keterikatan dengan OSKM dan masih punya tanggung jawab untuk OSKM selanjutnya.
- OSKM mungkin satu-satunya momen yang paling bisa menyatukan anak ITB dari berbagai jurusan dan angkatan. Bisa banget buat nambah teman baru!
- Memang sejak OSKM 2004 sudah terpikir, “Tahun depan mau jadi panitia!” dan sejak OSKM 2005 sudah terpikir, “Tahun depan mau jadi panitia lagi!”
- Buat ngisi liburan. Sudah terbiasa sibuk semester 4 ini, sampai sering nggak sempat makan, tidur di atas jam 12, kalau selama liburan nggak ada kegiatan yang berarti bisa-bisa cuma bikin badan melar...
- Kapan lagi pakai jaket almamater? Kapan lagi merasakan jadi mahasiswa?
- Dan bukankah “Segala yang indah berawal dari OSKM?” (mengutip pernyataan Danang (PL ’01), Sekjen OSKM 2004) ^_^

Untuk Tuhan, bangsa, dan almamater.
Merdeka.

3.1.06

Another birthday

Yesterday was my 19th birthday.

Aku terbangun tengah malam karena HP yang kutaruh di samping bantal bergetar. My first ‘happy birthday’ message. It was Uti.

Padahal jam di HP-ku masih menunjukkan pukul 23.58. Belum tanggal 2 Januari. Aku menunggu sampai tepat pukul 00.00.

5... 4... 3... 2... 1... HAPPY BIRTHDAY TO ME!!!

Lalu aku sadar aku merasa kedinginan. Padahal aku sudah memakai selimut yang cukup tebal. Aku mengambil sweater dan kaos kaki dari lemari, memakainya, lalu tidur lagi. Ketika aku bangun esok paginya, kepalaku terasa pusing. Badanku panas, tapi aku merasa kedinginan. Tenggorokanku sakit, suaraku mulai serak. Hidungku juga tersumbat. Damn! Kenapa aku mesti sakit di hari ulang tahunku?

Kalau diingat-ingat, tiga tahun terakhir ini aku selalu sakit waktu ulang tahun. Ulang tahun ke 17, aku bersin-bersin terus dan mataku bengkak. Sampai-sampai bolos sekolah. Padahal aku nggak punya alergi apa-apa. Ulang tahun ke 18, pulang dari kos Andin sehabis menginap waktu malam tahun baru tiba-tiba aku demam. Tahun ini, aku demam lagi, ditambah flu dan batuk. Mungkin karena waktu di Bali kemarin cuacanya nggak enak: panas terik lalu hujan deras lalu panas terik lagi lalu hujan deras lagi.

Jadilah aku menghabiskan hari ulang tahunku dengan berbaring di balik selimut, menerima SMS dan telepon dari teman kuliah, teman SMA, teman SMP, saudara, kenalan, gebetan, dan mantan gebetan =D. Terima kasih, kalian ingat ulang tahunku...

Well, nothing really special happened. It was just another birthday. But I thanked God for giving me one more year to live in this world. Semoga aku bisa jadi orang yang lebih baik lagi. Amin.

Happy birthday, my lovely self!

 
design by suckmylolly.com