Showing posts with label my job. Show all posts
Showing posts with label my job. Show all posts

30.1.11

"Kok Blognya Nggak Pernah Update Lagi, Dis?"

Well. Kalau pekerjaan kamu adalah menulis, kamu akan mengerti. Sehabis kerja, kamu nggak akan pingin menulis apa-apa lagi.





Ah, ya. Ternyata Tuhan cukup baik mengabulkan doa saya yang ini. Saya kembali jadi jurnalis. Kembali menulis. :)

22.11.10

Katanya, Kalau Berdoa Sama Tuhan Harus Spesifik

Karena itu, ya Tuhan, daripada saya memohon yang standar seperti "diberi yang terbaik", lebih baik saya memohon: 

Saya pingin resign dari bank ini. Tanpa ditanya macam-macam sama bos atau HRD. Tanpa one month notice. Tanpa penalti. Terus pindah kerja ke stasiun TV. Jadi reporter berita. Atau di balik layar, di bagian produksi berita atau feature. Metro TV atau TV One atau Trans TV atau Trans 7 atau SCTV atau RCTI atau MNC TV atau Global TV atau antv. Atau koran Kompas, bolehlah. Yang gajinya besar. Setidaknya, lebih besar dari yang dulu. Paling lambat akhir bulan ini.

Saya tidak tahu apa itu yang terbaik buat saya. Saya tidak mau tahu. Saya cuma pingin itu terwujud.




Ya, Tuhan ya?

24.10.10

RESIGN


Apa pekerjaan impian kamu?

Kalau ditanya begitu, saya akan menjawab malu-malu, sebab... umm... pekerjaan impian saya agak sulit diwujudkan. Pekerjaan impian saya adalah rock superstar! Pakai contact lense ala Marylin Monroe, bikin lirik lagu soal penguasa yang lalim, dan makan kelinci hidup-hidup di atas panggung. Pekerjaan impian saya yang lain adalah agen rahasia! Seperti Mrs. Smith atau tiga bidadari Charlie yang mahir memainkan pistol and kick some guy's ass sambil pakai stiletto. Cool banget nggak sih? ;;)

No, seriously.

Pekerjaan impian saya, dari dulu adalah wartawan. Saya ingin tulisan saya dibaca orang dan dijadikan rujukan, seperti Leila S. Chudori yang resensi filmnya terkenal tajam atau Ninok Leksono yang spesialis artikel sains. Saya ingin dikirim meliput peristiwa penting dari berbagai belahan dunia, seperti Meutya Hafid yang sempat disandera tentara Mujahidin segala. Saya ingin jadi pemimpin redaksi sekaligus penulis seperti Fira Basuki. Kalau itu, nggak terlalu sulit kan? ;;)

Just thought you should know, ini skema cita-cita saya setelah lulus kuliah:
1. Kerja di majalah lifestyle franchise, seperti Cosmopolitan atau Elle setahun.
2. Setelah itu kerja di koran/majalah berita, seperti Kompas atau Tempo satu-dua tahun.
3. Setelah itu kerja di stasiun TV berita, seperti Metro TV atau TV One sampai pensiun dan punya anak-cucu.

Dua pertama, alhamdulillah, sudah tercapai. Dan jangan dikira itu gampang.

Tapi toh akhirnya saya bisa menjalani pekerjaan impian saya. Seperti kata Confucius, "Choose a job you love, and you will never have to work a day in your life," saya memang nggak pernah merasa sedang "bekerja". Saya bebas bangun siang. Bebas pakai celana jeans dan sepatu Converse yang sama belelnya. Bebas nongkrong di food ourt Sarinah atau Taman Surapati sambil mengetik berita di saat orang lain mungkin sedang bosan-bosannya di kantor (Well, siapa butuh "kantor" kalau saya bisa bekerja dari BB atau laptop?). Bebas nongkrong bareng sesama wartawan sambil ngobrol ngalor ngidul dan merokok di pressroom, kantor polisi, bahkan pinggir jalan tanpa harus jaim.

Saya geli sendiri melihat teman-teman sekos yang kerja kantoran, yang harus bangun pagi dan berurusan dengan drama seperti, "Mana seragam gue yang mau disetrika? Mana bahan presentasi gue? &^%$#@$%^*&". Saya cuma bisa tersenyum sarkas membaca tweet orang-orang yang mengeluh soal pekerjaannya dan menunggu-nunggu datangnya weekend.

Ah, terlalu banyak cerita selama sembilan bulan jadi wartawan. Mungkin nanti saya akan bikin satu post khusus saja soal ini. :)



Lalu... apa? Setelah mimpi terwujud, lalu apa? Benarkah itu yang terbaik untuk kita? Akankah kita setia pada satu mimpi yang sama? Atau, bagaimana kalau kita terbangun dari mimpi dan mendapati ada realita di luar sana?

***

Siang itu, sehari setelah kaki saya terkilir (gara-gara bengong waktu turun dari metromini, ah sudahlah itu nggak penting :D), saya nggak liputan ke lapangan dan menghabiskan waktu di kantor saja. Redaktur Metro yang bertubuh tambun dan bertato itu memanggil saya ke mejanya. Dia lantas bertanya, apakah saya mau jadi wartawan sampai jangka waktu lama.

Saya bingung menjawabnya. Waktu itu saya masih jadi -meminjam istilah Radix- jurnabil alias jurnalis labil. Yah, saya akui masa-masa awal jadi wartawan memang sulit untuk saya. Dan mungkin redaktur itu sedikit-banyak bisa membacanya.

"Kamu tahu nggak, wartawan yang hebat itu yang gimana?" tanyanya kemudian.

"Nggak tau, mas."

"Wartawan yang hebat itu wartawan yang mencintai pekerjaannya, lalu berhenti jadi wartawan."

"Lho, kok malah hebat?"

"Ya hebat dong. Berarti kan dia mengorbankan hal yang dia suka. Misalnya begini, dia sebenarnya suka jadi wartawan, tapi gaji wartawan nggak cukup. Jadi dia pindah kerja ke tempat lain yang gajinya lebih besar. Atau begini, dia sebenarnya suka jadi wartawan, tapi susah ketemu keluarga dan anaknya karena jam kerja wartawan yang nggak jelas, nggak bisa diprediksi. Jadi dia cari kerjaan lain yang lebih teratur. Pasti berat sekali rasanya."

***

Kata-kata itu, saya jadikan salah satu pertimbangan sebelum resign. Per 1 Oktober ini. Dan pindah kerja ke... bank.

Sebenarnya itu bukan pekerjaan impian saya, tapi kalau saya pikir sekarang, berapa banyak sih orang di dunia ini yang bisa menjalani pekerjaan impiannya? Coba tanyakan pada mereka yang mesti berdiri tegap sepanjang hari di depan gerbang kedutaan besar yang menjulang angkuh, atau mereka yang mesti menyapu jalan dari dedaunan di siang yang terik. Apa itu pekerjaan impian mereka? Atau kalau mau lebih ekstrim lagi, coba tanyakan pada mereka yang menjual tubuhnya. Apa itu pekerjaan impian mereka? Saya pikir, hidup bukan hanya tentang mewujudkan mimpi, tapi juga, lebih penting dari itu, tentang mengambil pilihan. Tentang memanfaatkan kesempatan yang ada. Tentang bersyukur. Lalu melanjutkan hidup.

Jadi, dengan berbagai pertimbangan (dari yang paling dangkal seperti "Saya ingin kantor yang memungkinkan saya pakai high heels dan make up." sampai yang paling ambisius seperti "Saya ingin gaji yang cukup buat nyicil rumah sekian tahun lagi."), saya memutuskan untuk... RESIGN.

Sekarang saya tahu bahwa mewujudkan mimpi sama sekali nggak gampang, tapi melepaskannya jauh lebih nggak gampang lagi. Sekarang saya juga tahu bahwa, ibaratnya berperang, untuk terus berjuang atau mundur sama-sama butuh keberanian. Sebab kadang, mundur bukan berarti kalah, tapi mengalah untuk kebaikan. For a greater good.





(Ngomong-ngomong soal resign, saya jadi penasaran, bagaimana ya perasaaan orang lain waktu resign. Resign saya kemarin cukup heboh. Saya nangis di kantor, di meja redaktur yang sama, sebelum "diculik" teman-teman seangkatan ke tempat nongkrong kami di bilangan Langsat. Dan masih nangis sampai tiga hari berikutnya. :D)

26.5.10

Sekolah Kehidupan Bernama Metro Jakarta Utara

Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta Utara

Saya ingat sekali, sore itu saya baru melangkah keluar dari kos (yang baru saja diisi perabot itu) ketika telepon itu masuk. Sayangnya saya lupa siapa yang menelepon, yang pasti tulisan yang muncul di layar BB saya adalah "kantor".  

Adisti, kamu ditempatin di Metro Jakarta Utara, ya. Kamu pegang berita perkotaan, tapi kamu harus siap cover kriminal juga sekali-kali. Wartawan-wartawannya biasa nongkrong di warung samping polres. Kenalan dulu aja. Nanti kalau sempet mampir ke polsek-polsek, ke kantor walikota, bla bla bla... 

Aduh, aduh. Sekeliling saya seketika gelap rasanya.

Okelah, jadi wartawan memang cita-cita saya sejak dulu. Tapi yang saya bayangkan soal profesi ini adalah: wawancara eksklusif sama menteri siapalah, ikut perjalanan dinas presiden ke manalah, investigasi soal korupsi di lembaga apalah... Bukannya nongkrong di kantor polisi atau lari-lari meliput kerusuhan.

Metro, merupakan satu desk yang dianggap momok, bahkan bagi reporter senior sekalipun. Beda dengan para reporter Desk Ekonomi dan Bisnis yang sering menghadiri undangan liputan di hotel bintang lima, pulang membawa sekantung goodie bag, dan bergaul dengan para dirut; atau para reporter Desk Nasional yang berkeliaran di tempat-tempat kebijakan negeri ini dibuat dan bisa sedikit menyombong, "Kemarin Menteri A telepon saya, klarifikasi soal kasus yang itu.", para reporter Desk Metro harus siaga 24 jam sehari 7 hari seminggu kalau-kalau ada kerusuhan, kebakaran, banjir, bom meledak, atau apalah. Juga harus selalu mobile keliling pos liputannya, kalau-kalau di pelosok sana ada ibu yang membunuh anak kandungnya, atau di ujung sana ada gedung SD yang mau roboh.
 


Dan Jakarta Utara, bukanlah pusat pemerintahan dan bisnis seperti Jakarta Pusat atau Selatan. Jakarta Utara, dalam bayangan saya, adalah daerah pelabuhan dan industri yang "keras". Tempat kejadian kriminal tumpah ruah. Panas, semrawut.

O O O O O H H H . . . W H Y M E , G O D ? ? ?

***

Long story short,
setelah tiga bulan, setelah semua orang bilang, "Dis, lo kurusan dan iteman.", setelah berbagai versi surat pengunduran diri yang akhirnya cuma jadi draft, ternyata saya belajar banyak dari hal yang tadinya amat saya benci. Saya belajar bahwa dunia nyata, ternyata, tidaklah manis dan berwarna-warni bak gulali.

Rasanya semua yang saya pelajari selama kuliah empat tahun lebih, semua idealisme semasa meneriakkan Salam Ganesha bla bla bla itu, semua mimpi masa kanak-kanak, semua tidak ada artinya lagi. Ya, inilah dunia nyata. Selamat datang di dunia nyata. Tidak ada silabus, tidak ada textbook, tidak ada kelas. Tidak ada jadwal ujian karena sepanjang saya bernafas dan membuka mata adalah ujian.

Saya belajar dari pedagang asongan buta huruf yang didakwa sebagai pengedar ganja.
Dari pensiunan petugas pemadam kebakaran yang nyawanya hilang ketika melawan kebakaran besar di pabrik sandal.
Dari bocah lima-enam tahunan yang mengacungkan celurit dan (merasa) mengerti tentang jihad.
Dari guru SMP yang memaksa saya menerima "amplop".
Dari penjaja kerang hijau yang keukeuh berjualan walaupun Teluk Jakarta, tempatnya membudidayakan kerang jelas-jelas sudah dinyatakan tercemar Merkuri.
Dari buruh bongkar muat pelabuhan yang terkatung-katung setelah di-PHK.
Dari kakek yang cucunya meninggal karena ledakan tabung gas tepat di hari ulangtahunnya yang keenam.
Dari tukang becak dan pedagang kaki lima yang kena gusur, maupun Satpol PP yang menggusur.
Dari massa (yang jumlahnya ribuan, yang datang tiba-tiba entah dari mana) yang sedemikian mudahnya terprovokasi dan membakar apa saja yang ada di depan mata.
Dari anak-anak yang makan, tidur, belajar, dan bermain di kolong jalan tol sepanjang hidup mereka.
Dari supir truk kontainer yang tanpa dikurangi pungli pun penghasilannya tidak cukup untuk menghidupi enam anak.
Dari warga yang mengamuk dan merusak ruko yang baru dibangun di pemukiman mereka.
Dari nelayan yang tidak bisa melaut karena tidak mampu beli BBM dan beralih profesi jadi pemulung.
Dari remaja tanggung tidak tamat SD yang membunuh karena cemburu.
Dari satu keluarga yang rumahnya ludes dihanguskan api dan hanya punya baju yang melekat di badan.
Dari pedagang es potong yang tusuk-tusukan pakai pisau pemotong es karena persaingan harga yang cuma selisih 100 rupiah, di depan SD tepat pada jam istirahat.
Dari oknum polisi yang mencak-mencak ketika saya todong soal keterlibatan polisi dalam perampokan warung mie dan apotik.
Dari ABK yang (entah bagaimana) mendorong rekannya ke laut saat mabuk dan baru sadar berhari-hari kemudian.
Dari massa yang sempat-sempatnya menjarah di tengah ribuan orang yang sedang bertikai, celurit, lemparan batu, dan gas air mata.
Dari tuna rungu yang ikut demo.

Juga dari para begundal utara (sebutan untuk para wartawan Metro Jakarta Utara-red), mulai dari yang paling idealis sampai yang paling getol mengumpulkan "amplop".

Dan, di usia yang sudah menginjak 23 ini, saya belajar sesuatu soal cinta. Cinta tidak buta. Cinta hanya menutup mata. Tapi kalau mau kita bisa kok, memilih untuk membukanya. :)

 
Mungkin saya memang harus berterima kasih pada Metro dan Jakarta Utara. Untuk tiga bulan yang membuat saya jadi tiga kali lipat lebih kuat. Well, what doesn't kill you makes you stronger. Yah, setelah puluhan kali menyambangi kerusuhan dan kebakaran, liputan sambil lari-lari menghindari lemparan batu dan gas air mata, disuruh standby di lokasi kebakaran semalam suntuk, menunggui kamar jenazah, melihat darah dan potongan tubuh, melihat bandeng (bahasa sandi polisi untuk mayat-red) dalam kondisi mengenaskan, nongkrong bareng para intel dan kriminal, apa lagi sih yang lebih buruk yang bisa terjadi?

God, now I know why. Because You want me to be stronger.

Setidaknya ada satu hal yang bisa bikin saya senyum: sekarang saya sudah bisa bilang, "The hardest part is over." :) :) :)

18.2.10

...

Setahun lalu kamu bilang,


...dan aku ingin kamu juga fokus pada apa yang
kamu mau. Karena aku tahu, kalau kamu mau, kamu pasti bisa
mendapatkannya.


Hey, kamu sadar tidak sih, aku melakukan ini semua demi kamu?

19.1.10

A Million Girls Would Kill to Have This Job!

If you’ve ever watched the movie The Devil Wears Prada (or read the book), maybe you‘ve ever heard of that line. “This job” here refers to job in a fashion magazine.

Just think you ought to know: I love magazines. I just… I always have! And ever since one of my classmates brought the very first issue of Cosmo Girl Indonesia in my first year of high school (I was 14 then), I immediately want to work in a magazine. An international fashion magazine, to make it more specific. Well, I love fashion (Oh yes, I do! I think every woman do!), and even though I’m not that much into fashion, but wouldn’t it be super awesome? *drooling*

Zillion thanks to God, I’m so lucky to finally got that chance (yeaaayy! :D). There have been a lot of people ask me, how it feels like to work in a high-end fashion magazine. Well, after a week working there, here’s what I can tell you…

1. I think the movie The Devil Wears Prada (and Ugly Betty too) are a wee bit exaggerating. No, there’s no such thing as bitchy office mate who stare at you from head to toe, try to bring you down just because your lack of style, talk shit behind your back, or stab each other’s back (well, at least not in front of me! :D). The girls are quite friendly and they helped me a lot. They invited me to lunch, let me use their computer and cell phone, and shared their snacks. (Yea, I have to admit that after my (canceled) second interview few weeks ago, I cried in the bathroom while making a phone call to my Yandi. But let me just say that that was just a wrong impression I got, and me being a crybaby. :D)
 

2. But it is true that everyone is sooo stylish and glamorous! Even the one whose job seems to have nothing to do with fashion, like the Business Director or Secretary. There’s no formal and boring office look here, everyone’s free to wear whatever they feel like wearing. You name it: ripped jeans, legging (they comes in every color and pattern), mini dress, Doc Marten boots in shocking pink color, smokey eyes…
 

3. Oh, and there’s no strict working hour, too. They usually come to the office at 9, and then go mall-hopping.
 

4. The girls don’t try so hard to be super skinny like in the movies. They eat ‘nasi padang’ and ‘gorengan’, and eat snacks during work. Just like the rest of us… :D
 

5. But the guys are not too friendly. They didn’t even bother to ask my name before they get me to do some job for them. Don’t know why. When I told this to my friend Icha, she asked, “Are you sure they’re straight?” LOL!
 

6. And my Editor-in-Chief? She’s nothing like the wicked dragon lady in The Devil Wears Prada (or the legendary Editor-in-Chief of Vogue US, Anna Wintour, who widely believed as the inspiration for that character). If I were a boy, I would have fallen in love with her, no kidding. She’s still very young, and nice and humble and sincere. And very very stylish too, of course. And what amaze me the most: the moment she heard Adzan maghrib, she left her desk and prayed. I think I should make a new movie, titled The Angel Wears Prada. :D
 

7. No, we don’t get branded stuff for free. I’m telling you: we BORROW them instead. In our office, we’ve got three huge wardrobes loaded with oh-so-fabulous bags, shoes, clothes, and jewelries from fancy brands that I had to try sooo hard to hold the urge to steal them. He-he. There was even a handbag at the same price of a car that I didn’t dare to touch.
 

8. Unlike in other places, noone praised me because I graduated from ‘the-so-called-best-university-in-this-country’. Most of them graduated from private fashion or art schools, or from abroad. They were like, “What? So you’re an engineer? What the hell are you doing here?” So I had to keep my chin down for this time, and I had to work twice harder only to prove that I can really write.

And what did I actually do? Sadly, since I’m the “new kid on the block”, they didn’t let me report something or interview someone, so I had to sit in front of my computer from 9 to 6, and…
- Edited a contributor’s writing about a trip to Komodo Island. Later on, I found out that she’s a well-known traveler and ever worked for a TV program. Wow, it did me an honor to edit her writing.
- Wrote about traveling to London. I made some kind of calendar event for the year 2010 and hotel recommendation. Before writing this, I was warned that our readers comes from A+ class, so they will be attracted by luxurious boutiques, luxurious spas, yada yada yada…, and I had to make sure that the hotels I recommend for them are 5-star ones.
- Translated an interview with Katia Verber (Russian’s socialite, like Paris Hilton)
- Translated two articles from our US edition about career and health tips, and googled some additional infos.
- Googled some images.
And when I’m done with my tasks, they just let me sit on a cozy couch in the corner and read some magazines. We have plenty of international fashion magazines here, from Vogue Australia to Marie Claire Hongkong. And it felt like heaven to a magazines fetish like me! Imagine you’re a chocolate addict and you’re working in a chocolate factory. :D

 

A pretty fine first week, it is. But sadly it’s my last week also. No, it’s not that I give up. In fact, I can’t be more grateful than this. I've made a dream and I've made it come true, and I’ve proved to those who didn’t believe that hey, dreams DO come true! I merely got a better offer, better opportunity, and better challenge in another place. I mean, mall-hopping every single day and brag about Gwen Stefani's lipstick when everyone else in this country is in an uproar over Pansus Bank Century or Artalyta Suryani's unbelievably luxurious cell may be a fun thing to do in few weeks, but there's no way I'm going to do that thing for the rest of my life! Yea, so... I’m moving from fashion to politics.

Maybe a million girls would kill to have this job. The thing is, I’m not one of them… :)

25.12.09

Life Journey...

3rd June 2009. I wrote on this post,

Oh, how fun it would be, to work in a fashion magazine? Hey, Editor in Chief of Cosmopolitan or Harper's Bazaar or Elle, hire me, pleeeaaaseee? ^^
(Confession of a desperate jobseeker)

24th December 2009
. Sign the deal. Can't hardly wait until 11th January 2010. Because from that day on, I will be working for this magazine.



Right now. If anyone ask me how does it feel, I'll certainly answer, "Like a dream come true!" Oh, come on, are you kidding me? It's been my dream job ever since I was 14! I 'm sooo excited that I (almost) forget to mourn over a heartbreaking moment in the end of this week! He-he.

Weeks later. Maybe the "dream come true" will turn out to be "nightmare". What if I don't fit in this glamorous yet full-of-conspiracy world? What if those skinny bitches try to bring me down? I have no idea. But I'll hold on. Because I know I'm already one step closer to my dream, which is to become an Editor in Chief of a magazine. Yes, I'll hold on. And I'll do the best...
:)

 
design by suckmylolly.com