24.12.06

Proudly Present...

ENVIRO
3RD EDITION

Go get it at:
· Comics Corner (Jl. Pager Gunung)
· Pitimoss (Jl. Banda)
· Rumah Buku (Hegarmanah)
· Potluck (Dipati Ukur)
· Pondok Dongeng (Ciumbuleuit)
· HMTL ITB, juga di Tokema dan toko deket LFM (masa nggak tahu ITB di mana? ^_^)
· SMA-SMA dan kampus-kampus ternama di Bandung
For free!!!



Notes from the Editor in Chief
Akhirnya… terbit juga! Walaupun banyak kesalahan di sana-sini (jawaban kuis ada yang salah, ada tulisan yang kepotong, hasil cetak warnanya kurang tajam, salah eja, dll) yang bikin aku sempat nggak mau lihat majalah ini saking malunya,
but this is what I get from my hard work, so I must be proud of it. Next time we must (and I’m sure we can) be better!

So, I would like to say thanks to…
·
Dini dan Mir, dua Editor at Large yang sangat bisa diandalkan
· Para penulis: Kak Rian, Oya, Chandra, Imam, Muti, Cindy, Opik, Niken,
Orig, Jack, Icha, Mir, Ijul, dan Ery dari Greeners Magazine
· Para fotografer: V-man, Pritta, Dini
· Para layouter: Dini, Puput, Wahyu
· Pinky yang tiba-tiba disuruh bikin iklan layanan masyarakat buat cover belakang dalam waktu kurang lebih cuma 2 jam
· Ipoy & Mike di bagian Keuangan. Yah, walaupun sebenarnya kerja bagian ini belum maksimal. Hampir semua proposal aku yang ngirim, aku juga yang mem-follow up.
· Dua sekretaris: Wulan (yang bikin proposal) & Safrul (Sekretaris HMTL yang sering dimintai tolong bikin surat pengantar proposal dan maksa namanya dicantumkan di box redaksi)
· Magangers Humas (anak-anak TL 2005) yang rajin-rajin dan selalu mau disuruh ngapain aja: Nono, Nindi, Pice, Widya, Nila, Ela, Nur, dan Ezi
· Citra, Kadep Humas yang udah ngasih kepercayaan jadi Editor in Chief dan banyak membantu. Codet (Ketua HMTL) dan Danu (wakilnya) juga.
· Para sponsor: PT. Newmont Pacific Nusantara, Laboratorium Kualitas Udara ITB, FTSL (Fakultas Teknik Sipil dan Lingkungan) ITB, dan IOM (Ikatan Orangtua Mahasiswa) ITB
· Pak Asis, yang nggak lain adalah guru besar di ITB. Kalau nggak ada beliau, mungkin Enviro nggak akan bisa terbit…
· Pepeng dan orang-orang di Tafio Total Solution yang baik-baik, padahal biaya percetakan nggak dibayar-bayar gara-gara duit dari sponsor nggak turun-turun
· Semua yang udah bantu pendistribusian Enviro. Ternyata ngehabisin 2.000 eksemplar majalah lama juga ya…
· Dan pihak-pihak lain yang mungkin terlupakan…
You all did such a great job! Enviro would be nothing without you…

6.12.06

I Love You, Dad...

Hey dad look at me
Think back and talk to me
Did I grow up according to plan?
And do you think I'm wasting my time doing things I wanna do?
But it hurts when you disapprove all along
And now I try hard to make it
I just want to make you proud
I'm never gonna be good enough for you
I can't pretend that I'm alright
And you can't change me

'Cause we lost it all
Nothing lasts forever
I'm sorry I can't be perfect
Now it's just too late
And we can't go back
I'm sorry I can't be perfect
-Perfect (Simple Plan)-

Berbeda dengan Mama yang extrovert dan spontan, aku dan Papa punya karakter yang sama: cenderung introvert. Mungkin karena itulah selama ini aku tidak terlalu dekat dengan beliau. Aku jauh lebih dekat dengan Mama. She’s my best friend ever. Dengan beliau, aku bisa curhat tentang segala macam: mulai dari kuliah sampai cowok. Kami juga sering menghabiskan waktu bersama. Karena perbedaan karakter itulah, kami justru saling mengisi. Mirip sekali dengan Rory dan Lorelai di Gilmore’s Girls. Lain halnya dengan Papa. Kalau tidak ada Mama, kami jarang mengobrol, bicara seperlunya saja. Jadi, hubungan kami datar-datar saja: tidak terlalu dekat, tapi juga tidak pernah bertengkar.

Tapi, saat aku sedang meghadapi ‘masa sulit’ seperti kemarin sampai-sampai sempat terpikir untuk pergi ke psikolog (Aku pakai kata “kemarin” karena ‘masa sulit’ itu sudah berakhir. It’s so over and everything’s back to normal.), setelah ‘kehebohan’ di rumah dini hari kemarin, justru Papa-lah yang membesarkan hatiku. Biasanya, saat sedang berdua di mobil kami cuma diam-diaman. Cuma sesekali mengomentari keanehan yang tampak sepanjang jalan atau omongan penyiar radio. Tapi malam itu, saat menjemputku dari kampus, kami sharing tentang banyak hal. Ini kata-kata beliau yang paling mengena:

Yang namanya masalah itu kaya kubangan lumpur di kaki kita. Sebisa mungkin harus dihindari. Siapa sih yang mau kena masalah? Tapi lain soal kalau kita udah kecebur di kubangan lumpur itu. Kita harus cari cara buat keluar. Kalau didiemin aja, atau cuma sibuk nyalahin diri kenapa bisa kecebur, makin lama kita malah makin dalem kecebur di kubangan lumpur itu, dan bakal makin susah juga keluarnya.

Ternyata tidak usah ke psikolog kalau sedang punya masalah, just come to our parents. They’re the ones who will always love and support us no matter what. Thanks Dad, I really love you…

27.11.06

I Just Want to... Run!

It’s easier to run
Replacing this pain with something numb
It’s so much easier to go
Than face all this pain here all alone
-Easier to Run (Linkin Park)-

Yes, it would be a lot easier to run. Tapi… mau sampai kapan?

8.11.06

Aku Cuma Berharap...

Jika tiba saatku,
dia juga akan datang dengan senyum yang sama lebarnya,
pertanyaan-pertanyaan yang sama antusiasnya,
telinga yang sama siapnya untuk mendengarkan,
dan ketulusan yang sama besarnya.

Untuk sekarang...

I'M HAPPY FOR YOU!!!
\(^o^)/

16.9.06

Being Selfish and Irresponsible

Baru saja membuat keputusan yang sangat nggak bertanggung jawab dan nggak profesional. Keputusan yang sulit, tapi mau bagaimana lagi? Keputusan itu sudah dibuat. SMS itu sudah dikirim.

Alasannya? Simply, aku cuma nggak mau memori tentang salah satu hal terindah dalam hidupku dirusak oleh hal-hal yang (mungkin) akan terjadi.
Yes, I’m a coward. I’m too scared to face what may come. I’m too scared to face reality.

Jadi, biarkan memori itu sampai di sini saja, nggak usah ada tambahan apa pun, karena mungkin tambahan itu justru akan merusaknya.

Lagipula, sepertinya selama ini aku sudah cukup banyak berkontribusi. Sekarang saatnya untuk memunculkan sifat utama seorang anak tunggal, yaitu EGOIS! Sekarang saatnya kembali oportunis dan apatis, seperti dulu lagi.

OSKM? Kemahasiswaan?
Hell with them!

*Ternyata susah ya untuk bertindak profesional dan memisahkan urusan pribadi dari urusan lain…

14.9.06

Dealing with broken heart

Rasanya baru kemarin aku membuat post berjudul ‘I Think I’m in Love’ itu. Rasanya baru kemarin aku pergi ke kampus dengan hati berbunga-bunga, hoping that my hair and my clothes are fine, kalau-kalau aku kebetulan bertemu dengannya di salah satu sudut kampus. Rasanya baru kemarin aku merasa begitu gembira menerima SMS atau menjawab telepon darinya.

And suddenly I feel so STUPID…

Rasanya baru kemarin aku menulis nggak akan menangis 7 hari 7 malam, mengurung diri di kamar ditemani buku dan musik yang gloomy (as usual...), or even hurt myself physically (I’m a sort of person who have a tendency to do that kind of thing) karena Senopati.

Tapi...
Rasanya, sekarang aku HARUS melakukannya.

Bukan karena Senopati, tapi karena orang yang sempat membuatku berpikir, “This guy’s so adorable! Senopati nggak ada apa-apanya kalau dibandingin sama dia!”

Ini bukan broken heart ala novel atau film yang cheesy. Sejak awal aku sudah tau dia cuma untuk dikagumi, bukan untuk dimiliki.

Ya, justru karena ITU lah...

10.9.06

Dunia Tanpa Koma


Tiga nama pemeran utamanya: Dian Sastro (the lovable girl, siapa sih yang nggak suka sama dia?), Fauzi Baadilla (nggak cuma punya tampang keren dan perut six packs yang bikin ngiler, tapi aktingnya juga OK), dan Tora Sudiro (siapa juga sih yang nggak suka sama dia?), sebenarnya cuma alasan kedua yang membuatku menunggu-nunggu film seri yang mulai tayang sejak tadi malam ini.

Alasan pertamanya, karena film seri ini bercerita tentang dunia wartawan, dunia yang sangat ingin aku masuki.

Tapi setelah menonton episode pertamanya tadi malam, terbersit sedikit rasa kecewa juga. Ceritanya masih standar, nggak jauh beda sama sinetron kebanyakan. Sinematografinya (dari sudut pandangku sebagai orang awam, yah… tahu sedikit lah tentang sinematografi waktu ikut ekskul Sinematografi di SMA dan pendidikan Cakru di LFM) juga standar. Penggambaran tokohnya terlalu hitam-putih.

Tapi masih lebih bagus sih daripada sinetron-sinetron yang mungkin karena faktor kejar tayang, kelogisan ceritanya, akting pemainnya, dan sinematografinya jadi nggak penting lagi.

Film seri ini juga bisa memberi gambaran tentang pekerjaan wartawan: bagaimana seorang wartawan harus gigih mencari berita, bagaimana seorang wartawan harus punya link ke ‘orang-orang penting’, bagaimana seorang wartawan harus punya rasa ingin tahu dan memperhatikan sekitarnya, bagaimana stresnya kalau belum berhasil mewawancarai narasumber padahal sudah dikejar deadline, bagaimana harus bersaing dengan media lain untuk mendapatkan berita eksklusif, sampai bagaimana seorang wartawan berbicara dan berdandan.

Makanya, ayo Dis, kuliah yang benar biar dapat IP bagus, keep on practicing, ambil S2 Communication-Journalism di luar negeri, and make yourself a great journalist!

Hmm… what a life…

9.9.06

JaHim

Habis iseng buka-buka files lama di flash disk (siapa tahu ada tulisan yang bisa ditaruh di blog ini), terus ‘nemu’ file yang ini. Ini tulisanku buat Boulevard 55 (yang terbitnya molor sekitar 2 bulan itu... =p). Dan berhubung siapapun yang mengedit sepertinya LUPA mencantumkan namaku sebagai penulisnya (yang dicantumkan cuma nama Yasmin), jadi kenapa nggak aku taruh di sini saja? Here’s the original version of my writing:

HMS (Himpunan Mahasiswa Sipil)
HMS, mungkin salah satu himpunan di ITB yang jaketnya paling ‘eksis’. Berdasarkan polling, ... % responden dari HMS mengaku bangga memakai jaket berwarna hijau dengan logo insinyur Sipil di dada kiri yang sudah menjadi ciri khas himpunan itu. Jumlah yang relatif lebih besar dibanding himpunan-himpunan lain.
Karena proses mendapatkannya (baca: Ospek Jurusan) yang berat? “Berat itu kan relatif,” kata Ghozalfan Farabi Basarah (SI’02) yang akrab disapa Ghozy, mantan Ketua HMS.

Ia menerangkan tentang arti jaket himpunan baginya. Menurutnya, jaket sebenarnya cuma sekedar simbol. “Sama saja seperti bendera himpunan,” ia memberi contoh. Tetapi ia mengakui, dengan adanya jaket dapat memberi keterikatan lebih pada sesama anggota himpunan.

Saking strict-nya anak HMS terhadap jaket himpunannya, mereka tidak rela kalau jaketnya dipakai oleh non-himpunan. “Pernah ada kasus anak Sipil yang non-him pakai jaket himpunan. Sayang yang minjemin nggak ketahuan siapa. Jadi yang pinjam itu yang kita proses,” kisah Ghozy.

Ketika dimintai tanggapannya tentang arogansi himpunan, Ghozy menjawab, “Salah satu tujuan kaderisasi emang buat numbuhin arogansi, tapi yang positif.” Ia menambahkan, “HMS itu himpunan yang stratanya cukup tinggi di ITB. Itu kata anak himpunan lain lho...”

KMSR (Keluarga Mahasiswa Seni Rupa)
Kalau himpunan-himpunan lain membuat satu jaket khusus sebagai ciri khas, tidak dengan KMSR. Dari dulu mereka tidak pernah punya yang namanya jaket himpunan. “Yang ada cuma emblem bintang warna merah, jadi terserah setiap orang mau masang di mana. Di sepatu yang buat dinjek-injek pun nggak masalah,” jelas Faisal Habibi (Seni Patung ’03), Presiden KMSR. Alasannya? “Jaket itu nggak penting,” jawabnya enteng.

Ketika ditanya pendapatnya tentang jaket himpunan lain, ia menjawab, “Kalau mereka menganggap jaket sebagai benang merah yang bisa bikin kompak ya nggak apa-apa.”

Lebih lanjut, ia mengakui, sebagian besar anak KMSR sedikit sensitif kalau melihat anak himpunan lain memakai jaket himpunannya di daerah SR. “SR itu clear area buat jaket himpunan!” tegasnya.

Tanggapan Presiden KM
“Jaket almamater itu identitas ITB, salah satu faktor yang bisa menyatukan ITB, harusnya mahasiswa ITB bangga memakainya,” demikian pendapat Dwi Arianto Nugroho (TK ’02), Presiden KM yang baru terpilih.

Namun hasil polling berbicara lain. Jumlah mahasiswa ITB yang bangga memakai jaket himpunan lebih banyak daripada yang bangga memakai jaket almamater. Bahkan ada yang dengan terus terang menjawab malu memakai jaket almamater. Apakah itu menunjukkan kemahasiswaan di ITB terkotak-kotak di himpunan? Menurut Dwi, kita tidak dapat menyimpulkan seperti itu hanya dari jaket. “Kalau sudah terbiasa berkumpul di suatu komunitas, akan tumbuh kebanggaan terhadap komunitas itu. Makanya TPB dicampur untuk menghindari kebanggaan yang berlebihan terhadap jurusan,” katanya lagi.

Ia lalu menceritakan latar belakang historisnya. Dulu, ketika di ITB ada Dema (Dewan Mahasiswa) cuma ada satu jaket, jaket almamater. Lalu Dema dibubarkan, sampai dibentuk KM (Keluarga Mahasiswa) sepuluh tahun yang lalu. Saat terjadi kekosongan itulah dibentuk himpunan-himpunan di tingkat jurusan. Masing-masing himpunan lalu membuat jaket sendiri, walaupun jaket almamater masih tetap ada.

Itulah yang membedakan ITB dengan universitas-universitas lain. UI (Universitas Indonesia) misalnya, terkenal dengan jaket almamaternya yang berwarna kuning. Kalau ada acara jurusan, mahasiswa tetap memakai jaket itu, hanya ditambah dengan emblem jurusan. Mungkinkah di ITB dibuat seperi itu? Menurut Dwi, hal itu memerlukan proses yang bertahap. “Yang pertama perbaiki kinerja KM dulu,” katanya.

Dwi sendiri mengaku waktu pertama masuk ITB bangga memakai jaket almamater, lalu setelah dilantik di himpunan bangga memakai jaket himpunan. “Tapi saya tetap lebih sering memakai jaket almamater,” katanya. “Jaket himpunan cuma dipakai kalau kedinginan.”

Obsesi (Part 2): Sebuah Cerita Tentang Senopati

“Jadi pernahkah kamu memiliki seorang ‘Nimo’? Seseorang yang menjadi obsesi kamu selama bertahun-tahun?
Setelah sampai sejauh ini, aku yakin bahwa kita punya kekuatan untuk memilih, menyimpan obsesi itu atau mencoba membuatnya nyata-walau lewat jalan misterius bernama kebetulan dan keberuntungan sekalipun.”
-Cintapuccino (hal. 249), Icha Rahmanti-

Hmm... adakah obsesi yang menjadi kenyataan?

Sedikit flashback ke 2 tahun yang lalu...

OSKM 2004
Tadinya, aku tipe orang yang nggak percaya sama ‘falling in love at the first sight’. There’s no such thing. Kalaupun ada, paling cuma sebatas tertarik physically.
Sampai aku mengalaminya sendiri.

Waktu itu, ada sekitar 3500 orang peserta dan panitia dari berbagai divisi. Kalau jumlah laki-laki dan perempuan seimbang, berarti ada sekitar 1750 laki-laki. Tapi, entah kenapa, mataku cuma tertuju pada satu orang ini. Mungkin karena jaket almamater membuatnya tampak ‘wah’ (Sedangkan aku, masih pakai putih-abu-abu. Cupu.) Mungkin karena panji yang ada di tangannya. Mungkin karena dia sempat memberiku semangat sekilas. Mungkin karena dia terlihat berwibawa sekaligus ramah.
Yang jelas, aku langsung tertarik padanya since the very first sight. And no, it was not just physically.

Selama setahun aku sering mengambil jalan memutar lewat himpunannya walaupun ada jalan lain yang lebih dekat (dan dalam sehari bisa bolak-balik beberapa kali). Aku mencari account Friendster-nya sampai-sampai semua account yang kira-kira berhubungan dengannya aku buka satu per satu (dan ternyata dia nggak punya account Friendster). Aku mencari tahu semua informasi tentangnya dari teman-teman yang sejurusan atau seunit dengannya. Oh ya, sekali waktu aku pernah semeja dengannya di Perpus Pusat. Aku langsung meraih HP, pura-pura menelepon, padahal diam-diam aku memotretnya. Sampai sekarang foto itu masih kusimpan. We’re all insane when it comes to love, aren’t we?

Masalahnya, he didn’t even realize that I’m alive!

OSKM 2005
Akhirnya, ada kesempatan untuk mengenalnya. Walaupun cuma sekedar mengenalnya. Tapi akhirnya, at least dia tahu namaku (dan nomor HP-ku, he... he... ;p). Padahal aku bukannya sengaja mendaftarkan diri jadi panitia. Padahal aku bukannya sengaja masuk divisi Taplok. Sebut saja ini kebetulan.

Oh ya, kalau kita melihat seseorang dan langsung menyukainya, biasanya setelah kita mengenalnya pasti akan ilfeel karena ternyata dia nggak seperti yang kita bayangkan. Tapi ini lain. Semakin aku mengenalnya, justru semakin aku menyukainya. Setelah melihat bahwa he’s not all that I think he is pun, yah... it’s OK, he’s just human.

“... bilang aku gila, tapi... knowing that he’s not perfect after all malah bikin aku mikir kalau he’s even more perfect than before!
I realize that seeing someone like this doesn’t come by itself. It comes with love... (I think I start to fall for him...) And yes, I am so cliche.”

-Dari buku yang sama, hal. 255-

But I wasn't only fall for him, I was obsessed with him! I’ve let him know about this feeling, and I feel no regret after all...

Well
, sepertinya previous posts di blog ini sudah bisa menggambarkan bagaimana aku terobsesi pada seorang Senopati. Yang paling akut sih, waktu aku mau dioperasi bulan Februari lalu, beberapa saat setelah obat bius yang disuntikkan melalui infus di tanganku mulai bekerja, beberapa saat sebelum aku mulai kehilangan kesadaran, yang terbayang adalah sosoknya. Memangnya aku siapa, dia siapa? Tolong... aku terobsesi!!!

Beberapa hari yang lalu
Suci memberiku kabar (lalu kabar ini dibenarkan oleh Uti) yang kalau aku dengar setahun yang lalu, mungkin aku akan menangis 7 hari 7 malam, mengurung diri di kamar ditemani buku dan musik yang gloomy (as usual...), or even hurt myself physically (I’m a sort of person who have a tendency to do that kind of thing), tapi sepertinya aku baik-baik saja! Well, a bit surprised, I confess, but I’m doing just fine, seriously!

It means: I (finally) got over him! Fiuh... lega rasanya. Seperti terbebas dari beban yang selama ini memberatiku. Seperti waktu Osjur, bawa tas carrier yang beratnya minta ampun (sekitar 13 kg) seharian, lalu ada kesempatan untuk melepas tas itu dari pundak. Lega kan? (He... he... pembandingnya nggak banget ya?)

Jadi, adakah obsesi yang menjadi kenyataan?
Sepertinya itu cuma terjadi di chick-lit. Atau film-film Hollywood. Atau komik-komik Jepang. Yang jelas tidak di kehidupan nyata.
Wake up... wake up... daydreamer! Get into real life!

Btw, sah-sah saja kan mengambil kutipan dari chick-lit? ;p

27.8.06

I Think I'm in Love...

Oh no, I think I’m in love with you
Oh no, I’m hoping you want me too
So please don’t let me down
-Nggak tahu judulnya, Mocca-

Can’t help myself for not humming that so-not-me song! =p


I can’t tell more details here ('cause if I do, everyone will find out what happened), but it’s one of the happiest days I ever lived, and one of the most precious moments I won’t forget.
Guess I’ve never been this brave.
Guess I’ve never been this honest.
But I wasn’t exaggerating, what I said to him was just the way it is!

So, who the hell is
Senopati?
Ha… ha… ha…

26.8.06

Mahasiswa?

Mahasiswa.
Agent of change.
Guardian of value.
Iron stock.
Middle-class position.


Terlalu muluk-muluk?
Well, tadinya aku juga berpikir begitu.

Sampai OSKM 2006. Di sini aku bertemu orang-orang dengan idealisme mahasiswa yang begitu besar. Orang-orang yang sangat paham apa arti ‘maha’ pada kata ‘mahasiswa’. Orang-orang yang rela mengesampingkan kepentingan pribadi. Orang-orang dengan pemikiran jauh ke depan.

Aku? Sudah 2 tahun aku jadi mahasiswa. Tiap hari berangkat ke kampus – kuliah – pulang. Waktu kuliah pun kadang nggak ngerti apa-apa (Ck… ck… mau jadi apa?). Jangankan memikirkan kondisi bangsa ini, aku masih sibuk memikirkan hari ini pakai baju apa ke kampus, istirahat nanti mau makan siang di mana, ngeceng sana-sini, film ini belum ditonton, tas merk itu belum terbeli. Ikut himpunan, unit, atau kepanitiaan di kampus pun cuma untuk senang-senang.

Aku merasa… hmm, sepertinya ‘tertampar’ merupakan kata yang tepat. Jujur, aku tidak (belum) bisa seperti mereka.

But too much of something is never been good, right? Kalau terlalu idealis, mau hidup bagaimana?

23.8.06

Back to Campus, Back to Dull Routine

Rasanya sudah lama sekali nggak buka blog ini dan bikin post baru (just realised how unproductive I am as a blogger). Padahal kalau aku produktif, siapa tahu blog ini bisa dibikin buku seperti Kambing Jantannya Raditya Dika, ha... ha...

Sekarang semua kesibukan OSKM dan OHU sudah berakhir, kembali lagi ke rutinitas kuliah yang membosankan. Sedih juga rasanya... Nggak ada kesibukan lagi, nggak ada rapat-rapat lagi, HP yang biasanya bergetar terus sekarang jadi sepi.
My days feels so empty...

Seminggu ini, aku selalu pulang cepat. Makan siang di rumah, terus tidur siang. Jadi anak manis lah. Kecuali hari Kamis kemarin, aku pulang sore karena ada studi instalasi ke PT. Ultrajaya di Padalarang sama anak-anak HMTL.

Pingin cari kesibukan lagi. Padahal Enviro belum ada progress baru, he... he...

Oh ya, besok mau kumpul sama anak-anak Acara OSKM. Hope we’ll have a lot of fun...

24.7.06

What color purple are you?

You Are Lavender
You are a sweet person with a very soft personality. People become easily entranced with you. They seem to glow around you. You have a quiet energy that can keep you active late into the night. Even if you aren't the life of the party, you definitely keep the party going.
I don't give a damn on what kind of color purple I am. I just loooveee... this color!

OSKM (lagi)

OSKM kurang dari sebulan lagi (kalau opening jadi tanggal 17 Agustus). Auranya sudah terasa di kampus (contoh: banyak orang pakai jaket almamater, banyak poster publikasi di papan pengumuman). Apalagi di Sekre KM dimana pasti ada kegiatan persiapan OSKM setiap hari, dimana terpajang tulisan “Setiap kita adalah penting” besar-besar di dindingnya.

Tidak berlebihan kalau aku bilang aku sangat mencintai OSKM. Bermula dari OSKM 2004 yang sangat berkesan buatku. Padahal kalau dibandingkan dengan Osjur di TL yang 6 bulan dan jauh lebih berat, OSKM yang cuma 5 hari sepertinya memang ‘nggak ada apa-apanya’. Tapi tetap saja berkesan. Baru kali itu aku mengalami berkumpul bersama begitu banyak orang (ada kira-kira 3500 peserta dan panitia dari berbagai divisi) di satu lapangan luas, pakai atribut tameng dan topi wayang (bikin bareng teman-teman sekelompok di basecamp), terkesan pada Danlap yang berorasi dengan gagahnya, terkesan pada Punggawa yang mau-maunya ikut capek bareng peserta (tapi tetap senyum dan ngasih semangat terus), dimarahi Rahwana gara-gara rok kependekan (oh ya, aku sempat sengaja nggak bawa tugas, cuma karena pingin ngerasain dihukum), lari-lari sambil megang tas teman yang di depan (pundak sampai sakit rasanya gara-gara tas ditarik-tarik sama teman yang di belakang, padahal harus lari nyusul teman yang di depan juga), lingkar wacana sama mentor, nyanyi lagu-lagu kampus, senam pagi bareng LSS yang kocak, Salam Ganesha, body wave sampai kaki mati rasa (tapi pas lihat hasil rekamannya ternyata keren banget!).

Lalu, OSKM 2005 yang lebih berkesan lagi. Aku jadi Supernova (taplok). Ikut Diklat selama kurang lebih 2 bulan, belajar banyak tentang kemahasiswaan, nyari stempel di BEC, bagi-bagi selebaran di Dago, bikin drama tentang kaderisasi dan kemahasiswaan terpusat, kumpul di CC jam 5.15 pagi, lari keliling kampus dan olahraga bareng, bikin papan kelompok sama pasangan, dan tentunya... malam Pra OSKM yang sampai sekarang masih jadi salah satu momen paling berkesan buatku. Malam itu, untuk pertama kalinya aku memberi Salam Ganesha dan nyanyi lagu Mentari benar-benar dari hati. (Ha... ha... does this sentence make you wanna puke?)

Sayang, waktu itu baru pergantian Rektor, dan Rektor yang baru sepertinya sedikit alergi pada kegiatan-kegiatan kaderisasi seperti OSKM ini. OSKM jauh dari yang aku (dan sepertinya semua panitia lain) bayangkan. Kami tak ubahnya seperti EO untuk acara Rektorat, dengan segala peraturan dan batasan ini-itu.

But, still, OSKM has always been so meaningful to me. Aku dapat banyak hal di sini, lebih dari sekedar kenalan baru, teman baru, atau kecengan baru. ^_^

And now, OSKM 2006 is approaching! Sekarang aku bergabung dengan tim Acara.

Dan kenapa aku mau jadi panitia OSKM (lagi)? Kenapa aku mau-maunya rapat hampir setiap hari dan panas-panasan ngurus Diklat calon panitia, sementara orang lain pergi liburan atau malah tidur di rumah?
- Ingin berbuat ‘sesuatu’ untuk almamater tercinta ini, mumpung masih jadi mahasiswa.
Seriously.
- Sense of belonging. Sebagai alumni OSKM 2004, aku merasa punya keterikatan dengan OSKM dan masih punya tanggung jawab untuk OSKM selanjutnya.
- OSKM mungkin satu-satunya momen yang paling bisa menyatukan anak ITB dari berbagai jurusan dan angkatan. Bisa banget buat nambah teman baru!
- Memang sejak OSKM 2004 sudah terpikir, “Tahun depan mau jadi panitia!” dan sejak OSKM 2005 sudah terpikir, “Tahun depan mau jadi panitia lagi!”
- Buat ngisi liburan. Sudah terbiasa sibuk semester 4 ini, sampai sering nggak sempat makan, tidur di atas jam 12, kalau selama liburan nggak ada kegiatan yang berarti bisa-bisa cuma bikin badan melar...
- Kapan lagi pakai jaket almamater? Kapan lagi merasakan jadi mahasiswa?
- Dan bukankah “Segala yang indah berawal dari OSKM?” (mengutip pernyataan Danang (PL ’01), Sekjen OSKM 2004) ^_^

Untuk Tuhan, bangsa, dan almamater.
Merdeka.

20.6.06

Libur Telah Tiba!

Senior-senior di TL bilang, semester 4 itu semester yang paling ditakuti di TL. Mata kuliah yang ‘angker’ berkumpul semua di sini. Tapi akhirnya, setelah 6 bulan berkutat dengan macam-macam Praktikum (belum lagi Pengamatan dan laporannya) dan tugas-tugas Menggambar Teknik yang menggunung, setelah 6 bulan sering nggak sempat makan dan tidur di atas jam 2 pagi, semester 4 berakhir juga, dengan IP yang ‘lumayan’... ;p Dan sekarang... libur telah tiba! Waktunya menyibukkan diri dengan berbagai kepanitiaan di kampus, sebelum mulai mikirin KP tahun depan!

Things to do liburan ini (berdasarkan prioritas):
-Enviro (majalahnya HMTL): jadi Editor in Chief

-OSKM: jadi Sekretaris tim Acara, tim Diklat calon panitia lapangan
-OHU: jadi Staf Humas (PJ untuk Zona 1)
-OHU-nya Boulevard: tadinya jadi PJ, tapi kayaknya nggak sanggup karena ternyata jadi panitia OHU lebih berat dari yang kukira. Sekarang Arfah yang ngurus semuanya. Maaf ya Fah aku lepas tangan...
-Dies natalis HMTL, workshop Indonesia Power: bantu-bantu aja kali ya...
Oh, it’s gonna be a busy holiday...

Libur telah tiba! Libur telah tiba! Hore! Hatiku gembiraaa...

31.5.06

Losing My Sanity: Being a Stalker

Ternyata, jadi stalker itu asyik juga. Lumayan bisa membuat jantung berdebar-debar dan memacu adrenalin. Kalau tidak percaya, coba saja.

Hari ini, sehabis UAS Menggambar Teknik, rencananya aku mau ke Gramedia untuk refreshing. Siapa tahu ada buku baru yang bagus.

Di perempatan Jalan Purnawarman, mataku menangkap mobil yang rasanya familiar. Jaket yang rasanya familiar. Dan sosok yang rasanya sangat familiar.

Senopati. Tidak salah lagi.

Sedang berurusan dengan polisi rupanya. Mungkin dia salah mengambil jalur.

Refleks, aku menghentikan angkot yang kunaiki.

Lalu aku mesti bagaimana? Meneriakkan namanya? Mengetuk kaca mobilnya? Sounds ridiculous.

Tidak lama kemudian, mobil bercat hitam itu mulai melaju. Aku melihat selain dia, ada seorang lagi yang duduk di jok depan. Rambutnya pendek. Entah laki-laki atau perempuan. Lalu aku melihat mobil itu menuju basement BEC.

Entah apa yang menghipnotisku untuk melangkahkan kaki ke BEC.
Aku harus bertemu dengannya. Harus menyapanya. Dan harus tahu siapa yang sedang bersamanya.

Dan entah apa yang menghipnotisku untuk memutari setiap lantai untuk mencarinya. I was losing my mind. I was losing my sanity.

Akhirnya, aku menemukannya di lantai 2. Di dalam sebuah toko di dekat food court. Dia tampak sedang asyik melihat-lihat kamera yang ada di tangannya. Sesekali dia memotret dengan kamera itu.

Aneh. Aku yakin sekali tadi ada seorang lagi di mobilnya, tapi saat itu kulihat dia cuma sendirian. Ada seorang pengunjung lain di toko itu, seorang laki-laki yang kelihatannya sebaya dengannya, tapi posisi mereka jauh, dan mereka tidak terlihat bercakap-cakap.

Lalu aku mesti bagaimana? Masuk ke toko itu lalu menegurnya, lalu keluar lagi? Tidak, tidak. Sepertinya akan terlihat terlalu ‘disengaja’. Jadi, lebih baik aku menunggu dia keluar dari toko itu, lalu cari jalan supaya bisa berpapasan dengannya, lalu menegurnya as if aku juga sedang ada perlu di sana dan kebetulan saja bertemu dengannya. Ya, ya. Plan yang bagus.

Aku menemukan tempat yang sangat strategis: toko CD game di seberang toko kamera itu. Dari sana, aku bisa melihatnya dengan sangat jelas, tapi dia tak bisa melihatku.

Dia menghabiskan waktu cukup lama di toko kamera itu. Penjaga toko CD game ini sepertinya mulai curiga padaku yang dari tadi cuma berdiri diam di tokonya. Untuk kamuflase, aku pura-pura melihat-lihat CD game Curious George.

Ketika aku menoleh ke arah toko kamera lagi, lho... kok sudah kosong? Damn, he’s gone!

Aku memberanikan diri masuk ke toko itu. Penjaganya yang memakai seragam kemeja putih-biru menyapaku dengan ramah, “Cari apa, Mbak?”

“Ng... nggak, Mas.”

Nyari cowok yang tadi sebenernya...

Sekali lagi, aku memutari setiap lantai untuk mencarinya. Tapi kali ini aku tidak berhasil menemukannya lagi.

Kakiku mulai terasa pegal. Akhirnya aku memutuskan untuk pulang. Tidak jadi ke Gramedia.

Sampai sekarang aku masih tidak percaya, what on earth made me do this? Seems like I begin to lose my sanity...

28.4.06

Reality Bites!!!

Yes, it does.

And it hurts.
Hurts.
Hurts.
Hurts.
Hurts.
Hurts.
Hurts.
Hurts.
Hurts.
Like hell.

I'm broken and shattered right now.
But I choose not to show the world even a single tear...

29.3.06

Galau

Kenapa ya, akhir-akhir ini aku sering merasa...

galau...

unhappy...

desperate...

miserable...

helpless...

depressive...

I’m just sick of the whole tedious live-happily-ever-after and positive-thinking and life-is-beautiful stuff.
What a crap!
Bullshit!
Big fat lie!

And what make it even worse, I really enjoy this kind of feeling!
Mengerikan...

Sebagai contoh, di saat galau seperti ini aku malah memilih lagu Everybody Loves Irene (lirik yang dark dan gloomy, suara vokalis yang menyayat hati, what more can I ask?) dan buku The Catcher in the Rye-nya J. D. Salinger (it’s nice to know that I’m not the only one with these negative feelings in mind, seperti menemukan diriku sendiri dalam diri Holden Caulfield...) sebagai teman.

*whining*
Am I sooo... difficult?

12.2.06

Obsesi

“Duh, Dis, yg namanya obsesi itu di mana-mana nggak bagus, apalagi terobsesi sama cowok. Lu harus bisa ngilangin obsesi lu, gimanapun caranya. Kalau nggak sama aja lu nyiksa diri sendiri.”

Kira-kira begitu isi message dari Andin waktu aku curhat via SMS dengannya, beberapa bulan yang lalu.

Senopati, sepertinya memang aku harus melupakanmu. I must go on with my life.

Tapi…
Sampai sekarang, aku masih menyimpan rasa itu.

Senopati, salahkah aku? Benarkah aku?

Andin benar. Aku sudah mulai menyiksa diri sendiri.

27.1.06

Iris

And I’d give up forever to touch you
'Cause I know that you feel me somehow
You’re the closest to heaven that I’ll ever be
And I don’t want to go home right now

And all I can taste is this moment
And all I can breathe is your life
'Cause sooner or later it’s over
I just don’t want to miss you tonight

And I don’t want the world to see me
'Cause I don’t think that they’d understand
When everything’s made to be broken
I just want you to know who I am

And you can’t face the tears that ain’t coming
Or the moment the truth in your lies
When everything feels like the movie
Yeah, you’re bleed just to know you’re alive
-Iris by Goo Goo Dolls-
This song's just so me...

Sebuah Cerita di Hari Selasa

Hari ini hari Selasa. Hari yang paling ditunggu-tunggu seorang gadis sepanjang minggunya. Hari saat ia menghabiskan waktu lebih lama untuk mematut diri di depan cermin sebelum berangkat ke kampus. Hanya karena hari ini hari Selasa.

Gadis ini hanya seorang mahasiswi biasa. Tak ada yang istimewa.

Sekitar pukul 2 siang, dosen PPKN-nya memutuskan untuk menyudahi kuliah. Kuliah Perpetaan masih sejam lagi.

”Ke Comlabs yuk!” ajak seorang teman si gadis.

Nggak ah, kagok cuma sejam.”

”Ke CC yuk!” ajak temannya yang lain lagi.

Gue nggak ikut ah, males.”

Sendirian, gadis ini bergegas menuruni tangga GKU Timur, melewati Kantin Borju yang sedang sepi pengunjung dan Labtek V, lalu menerobos gerimis melalui CC sampai ke 9009. Pintu ruangan itu masih tertutup rapat ketika ia tiba. Jelas masih digunakan oleh kelas sebelumnya.

Dengan sabar ia menunggu. Teman-temannya mulai berdatangan. Sesekali ia mengobrol dengan mereka, tapi matanya selalu tertuju ke pintu, seakan-akan tak ingin melewatkan sesuatu. Pukul 3 kurang sedikit, pintu ruangan itu baru dibuka. Satu per satu mahasiswa yang mayoritas adalah laki-laki keluar dari sana. Beberapa memakai jaket hijau tua dengan logo di dada. Beberapa menyandang tabung tempat kertas-kertas gambar di punggung.

Dan... ini dia. Mata gadis ini tertuju pada sosok seorang pemuda. Ialah Senopati. Pemuda yang langsung menarik perhatian gadis ini sejak pertama kali melihatnya. Pemuda yang tak pernah pergi dari pikirannya selama setahun lebih. Mengenakan celana jeans, sweater, dan tas punggung yang sangat-sangat biasa, tapi pemuda ini terlihat begitu menarik. Ada sesuatu yang lain dalam dirinya –entah itu kebaikan hatinya, sikapnya yang simpatik, atau wibawanya– yang membuat gadis ini (dan mungkin masih banyak gadis lain) jatuh hati setengah mati. Pemuda yang istimewa. He’s one in a million.

Sendirian, pemuda itu berjalan dengan cepat, terburu-buru. Ia bahkan tidak melihat ke arah gadis ini sama sekali, cuma melewatinya begitu saja. Tak apalah, pikir gadis ini, toh aku belum menyiapkan kata sapaan, belum merapihkan rambut, dan belum... menenangkan jantung yang berdegup kencang. Gadis ini bahkan tak yakin apakah pemuda itu masih akan mengenalinya atau tidak. Baginya, aku bukan siapa-siapa.

Pemuda itu belok di LFM. Gadis ini menjulurkan kepalanya supaya bisa terus melihat punggung si pemuda sampai menghilang dari sudut pandangnya. Gadis ini tersenyum, lalu melangkah masuk 9009 dengan sukacita. Sudah tak sabar menunggu hari Selasa berikutnya, yang berarti... 7 hari lagi.

Pathetic, huh?

(written in my 3rd semester)

3.1.06

Another birthday

Yesterday was my 19th birthday.

Aku terbangun tengah malam karena HP yang kutaruh di samping bantal bergetar. My first ‘happy birthday’ message. It was Uti.

Padahal jam di HP-ku masih menunjukkan pukul 23.58. Belum tanggal 2 Januari. Aku menunggu sampai tepat pukul 00.00.

5... 4... 3... 2... 1... HAPPY BIRTHDAY TO ME!!!

Lalu aku sadar aku merasa kedinginan. Padahal aku sudah memakai selimut yang cukup tebal. Aku mengambil sweater dan kaos kaki dari lemari, memakainya, lalu tidur lagi. Ketika aku bangun esok paginya, kepalaku terasa pusing. Badanku panas, tapi aku merasa kedinginan. Tenggorokanku sakit, suaraku mulai serak. Hidungku juga tersumbat. Damn! Kenapa aku mesti sakit di hari ulang tahunku?

Kalau diingat-ingat, tiga tahun terakhir ini aku selalu sakit waktu ulang tahun. Ulang tahun ke 17, aku bersin-bersin terus dan mataku bengkak. Sampai-sampai bolos sekolah. Padahal aku nggak punya alergi apa-apa. Ulang tahun ke 18, pulang dari kos Andin sehabis menginap waktu malam tahun baru tiba-tiba aku demam. Tahun ini, aku demam lagi, ditambah flu dan batuk. Mungkin karena waktu di Bali kemarin cuacanya nggak enak: panas terik lalu hujan deras lalu panas terik lagi lalu hujan deras lagi.

Jadilah aku menghabiskan hari ulang tahunku dengan berbaring di balik selimut, menerima SMS dan telepon dari teman kuliah, teman SMA, teman SMP, saudara, kenalan, gebetan, dan mantan gebetan =D. Terima kasih, kalian ingat ulang tahunku...

Well, nothing really special happened. It was just another birthday. But I thanked God for giving me one more year to live in this world. Semoga aku bisa jadi orang yang lebih baik lagi. Amin.

Happy birthday, my lovely self!

 
design by suckmylolly.com