9.9.06

JaHim

Habis iseng buka-buka files lama di flash disk (siapa tahu ada tulisan yang bisa ditaruh di blog ini), terus ‘nemu’ file yang ini. Ini tulisanku buat Boulevard 55 (yang terbitnya molor sekitar 2 bulan itu... =p). Dan berhubung siapapun yang mengedit sepertinya LUPA mencantumkan namaku sebagai penulisnya (yang dicantumkan cuma nama Yasmin), jadi kenapa nggak aku taruh di sini saja? Here’s the original version of my writing:

HMS (Himpunan Mahasiswa Sipil)
HMS, mungkin salah satu himpunan di ITB yang jaketnya paling ‘eksis’. Berdasarkan polling, ... % responden dari HMS mengaku bangga memakai jaket berwarna hijau dengan logo insinyur Sipil di dada kiri yang sudah menjadi ciri khas himpunan itu. Jumlah yang relatif lebih besar dibanding himpunan-himpunan lain.
Karena proses mendapatkannya (baca: Ospek Jurusan) yang berat? “Berat itu kan relatif,” kata Ghozalfan Farabi Basarah (SI’02) yang akrab disapa Ghozy, mantan Ketua HMS.

Ia menerangkan tentang arti jaket himpunan baginya. Menurutnya, jaket sebenarnya cuma sekedar simbol. “Sama saja seperti bendera himpunan,” ia memberi contoh. Tetapi ia mengakui, dengan adanya jaket dapat memberi keterikatan lebih pada sesama anggota himpunan.

Saking strict-nya anak HMS terhadap jaket himpunannya, mereka tidak rela kalau jaketnya dipakai oleh non-himpunan. “Pernah ada kasus anak Sipil yang non-him pakai jaket himpunan. Sayang yang minjemin nggak ketahuan siapa. Jadi yang pinjam itu yang kita proses,” kisah Ghozy.

Ketika dimintai tanggapannya tentang arogansi himpunan, Ghozy menjawab, “Salah satu tujuan kaderisasi emang buat numbuhin arogansi, tapi yang positif.” Ia menambahkan, “HMS itu himpunan yang stratanya cukup tinggi di ITB. Itu kata anak himpunan lain lho...”

KMSR (Keluarga Mahasiswa Seni Rupa)
Kalau himpunan-himpunan lain membuat satu jaket khusus sebagai ciri khas, tidak dengan KMSR. Dari dulu mereka tidak pernah punya yang namanya jaket himpunan. “Yang ada cuma emblem bintang warna merah, jadi terserah setiap orang mau masang di mana. Di sepatu yang buat dinjek-injek pun nggak masalah,” jelas Faisal Habibi (Seni Patung ’03), Presiden KMSR. Alasannya? “Jaket itu nggak penting,” jawabnya enteng.

Ketika ditanya pendapatnya tentang jaket himpunan lain, ia menjawab, “Kalau mereka menganggap jaket sebagai benang merah yang bisa bikin kompak ya nggak apa-apa.”

Lebih lanjut, ia mengakui, sebagian besar anak KMSR sedikit sensitif kalau melihat anak himpunan lain memakai jaket himpunannya di daerah SR. “SR itu clear area buat jaket himpunan!” tegasnya.

Tanggapan Presiden KM
“Jaket almamater itu identitas ITB, salah satu faktor yang bisa menyatukan ITB, harusnya mahasiswa ITB bangga memakainya,” demikian pendapat Dwi Arianto Nugroho (TK ’02), Presiden KM yang baru terpilih.

Namun hasil polling berbicara lain. Jumlah mahasiswa ITB yang bangga memakai jaket himpunan lebih banyak daripada yang bangga memakai jaket almamater. Bahkan ada yang dengan terus terang menjawab malu memakai jaket almamater. Apakah itu menunjukkan kemahasiswaan di ITB terkotak-kotak di himpunan? Menurut Dwi, kita tidak dapat menyimpulkan seperti itu hanya dari jaket. “Kalau sudah terbiasa berkumpul di suatu komunitas, akan tumbuh kebanggaan terhadap komunitas itu. Makanya TPB dicampur untuk menghindari kebanggaan yang berlebihan terhadap jurusan,” katanya lagi.

Ia lalu menceritakan latar belakang historisnya. Dulu, ketika di ITB ada Dema (Dewan Mahasiswa) cuma ada satu jaket, jaket almamater. Lalu Dema dibubarkan, sampai dibentuk KM (Keluarga Mahasiswa) sepuluh tahun yang lalu. Saat terjadi kekosongan itulah dibentuk himpunan-himpunan di tingkat jurusan. Masing-masing himpunan lalu membuat jaket sendiri, walaupun jaket almamater masih tetap ada.

Itulah yang membedakan ITB dengan universitas-universitas lain. UI (Universitas Indonesia) misalnya, terkenal dengan jaket almamaternya yang berwarna kuning. Kalau ada acara jurusan, mahasiswa tetap memakai jaket itu, hanya ditambah dengan emblem jurusan. Mungkinkah di ITB dibuat seperi itu? Menurut Dwi, hal itu memerlukan proses yang bertahap. “Yang pertama perbaiki kinerja KM dulu,” katanya.

Dwi sendiri mengaku waktu pertama masuk ITB bangga memakai jaket almamater, lalu setelah dilantik di himpunan bangga memakai jaket himpunan. “Tapi saya tetap lebih sering memakai jaket almamater,” katanya. “Jaket himpunan cuma dipakai kalau kedinginan.”

0 comments:

 
design by suckmylolly.com