Sebuah tweet di suatu malam yang galau:
Have I told you that I've moved on and don't care anymore about you? Well, I was actually lying.
... this is all i need.
Sebuah tweet di suatu malam yang galau:
Have I told you that I've moved on and don't care anymore about you? Well, I was actually lying.
Posted by Adisti Dini Indreswari at 7:32 AM 2 comments
Labels: my diary, my love life
Ketika mimpimu yang begitu indah tak bisa terwujud
Ya sudahlah
Saat kau berlari mengejar anganmu dan tak pernah sampai
Ya sudahlah
-Ya Sudahlah (Bondan Prakoso feat. Fade 2 Black)-
Mungkin saya sudah ratusan kali mendengar lagu itu. Di radio, di mall, di winamp komputer seseorang di kantor... Tapi baru tadi, seorang pengamen memilih posisi persis di sebelah kursi yang saya duduki di metromini, untuk memetik kunci gitar lagu itu. Saya mau tidak mau jadi ikut menyimak liriknya.
Dan... saya suka! :) Saya suka empat bait pertamanya. "Ya sudahlah." Dalam hidup, mungkin memang ada kalanya kita perlu mendengarnya dari mulut orang lain. Bukan sampah semacam "Kamu pasti bisa melakukannya" atau "Semuanya akan baik-baik saja". Mungkin memang ada kalanya kita kembali diingatkan untuk menapak tanah. Mungkin memang ada kalanya kita perlu rehat sejenak, setelah kaki ini letih berlari.
Ngomong-ngomong, seminggu yang lalu, saya baru ditampar oleh dua peristiwa, bahwa tidak semua mimpi bisa terwujud.
Tapi... ya sudahlah... (Selain malas mengungkit-ungkit lagi, juga malas mengetik. Sudah hampir jam 3 pagi ini... :D :D :D)
Posted by Adisti Dini Indreswari at 12:22 PM 1 comments
Labels: my diary
Insomnia adalah gejala kelainan dalam tidur berupa kesulitan berulang untuk tidur atau mempertahankan tidur walaupun ada kesempatan untuk itu. Gejala tersebut biasanya diikuti gangguan fungsional saat bangun. Insomnia sering disebabkan oleh adanya suatu penyakit atau akibat adanya permasalahan psikologis. Dalam hal ini, bantuan medis atau psikologis akan diperlukan.
-Wikipedia-
Insomnia saya tidak sembuh-sembuh sudah sebulan lebih.
Sebelum ngekos di Jakarta, saya tipe orang yang menganggap pulang di atas Maghrib itu kemalaman, dan sudah ganti piyama-sikat gigi-pakai krim malam-berbaring manis di kasur jam 9.
Oh, well, dunia ini dan segala isinya memang berubah. Sekarang saya malah kagok kalau masuk kos sebelum jam 9. Sekarang saya belum bisa tidur kalau jarum jam belum menunjuk angka 2 atau 3. Bisa sih, tapi jadinya saya terbangun terus-terusan. Percaya deh, terbangun tengah malam hanya untuk merasakan sendirian di kamar kos 3 x 5 meter itu... ngelangut. Hasilnya? Saya selalu melewatkan Salat Subuh, terburu-buru ke lokasi liputan (syukur-syukur dapat proyeksi liputan siang), dan rasanya seperti jetlag sepanjang hari.
Izinkan saya menyalahkan jam kerja wartawan yang serba tidak jelas, belum lagi kalau kebagian piket malam. Sekarang orientasi waktu saya jadi kacau begini. :(
Berbagai usaha sudah saya coba untuk menunggu kantuk:
Baca, sudah.
Blogwalking, download lagu, main looklet atau polyvore, sudah. (Sayangnya, saya sedang tidak tertarik pada semua situs social networking)
Beres-beres kamar, sudah.
Merokok sendirian di kamar, sudah. (Yang akhirnya saya sesali karena kamar saya jadi bau asap. Baunya nggak hilang-hilang, huh!)
Sit up di kasur, dengan harapan besok paginya perut saya sudah rata, sudah.
Melanggar komitmen dengan menelepon atau meng-SMS kamu setiap setengah jam sekali, memastikan kamu baik-baik saja (di manapun sedang apapun bersama siapapun), dan menceritakan sedikit hari saya (entah kamu benar-benar mau tahu atau tidak), tentu saja sudah.
Lucunya, kalau ada orang lain, saya jadi bisa tidur. Waktu pulang ke Bandung, raker kantor di Puncak, liputan di Savoy Homan, ke rumah Eyang Semarang, saya selalu jadi yang tidur duluan dan bangun belakangan. ;p
A-ha! Timbul ide untuk mengajak teman-teman sekos pajamas party di kamar saya. Hihihi... lucu juga melihat mereka gotong-gotong kasur, bantal, dan selimut masing-masing. Kadang, saya menginap di tempat teman kalau malas pulang ke kos. Saya tidak mau tidur sendirian.
Dan, kadang, kalau semuanya sedang baik-baik saja dan setan bertanduk di kiri saya mengalahkan malaikat berhalo di sisi kanan, saya akan memilih untuk menghabiskan malam bersama kamu. Kamu selalu tidur duluan. Tangan kamu melingkar di perut saya, nafas kamu yang pendek-pendek terasa hangat di tengkuk saya. Dan saya selalu sok tidak mengantuk. Tapi lama-lama saya menyerah dan ikut tidur pulas di samping kamu. Selalu begitu.
Mau tahu perasaan paling membahagiakan di dunia? Bukan ketika berhasil mendaki puncak gunung tertinggi atau meraih medali emas (padahal saya belum pernah juga sih... ;p), tapi ketika melihat orang yang kita sayang sebelum menutup mata, dan melihatnya lagi ketika membuka mata.
Huff, insomnia ini membunuh saya pelan-pelan...
Posted by Adisti Dini Indreswari at 8:48 AM 8 comments
Labels: my diary, my love life
Nobody likes you when you’re 23
And you still act like you’re in freshmen year
What the hell is wrong with me?
My friends say I should act my age
What’s my age again? What’s my age again?
-What’s My Age Again (Blink 182)-
That was one of the songs I used to listen back then in my high school age. When all the things that matter were “that basketball captain and guitarist boy is drop dead gorgeous” or “that girl’s got a fancy bag I should immediately buy a new bag too”, scheming to skip class with the whole classmates, feeling like the coolest kid in town if I could take daddy’s car to school, whining all day because of mommy wouldn’t allow me to go out at night, and wondering where I’m gonna be when I turn 23.
Well, I’m now 23 already. You know what, I’ve been spending a lot of time lately in front of my netbook, googling the keyword “quarter life crisis” and scrolling through the symptoms:
Are you in a "funk" where you feel like nothing is terribly wrong, but nothing seems right either? Check.
Do you ever feel that time is running out in regards to figuring out your career and deciding whether you want to get married and/or have children? Check.
Do you feel that you have failed because you don't know what you want to do with your life, or do you know what you want to do but can't seem to make it work? Check.
Do you frequently compare yourself to other people your age and feel like you don't measure up? Check.
Are you thinking about going back to grad school because you don't know what else to do with your life? Check.
Is your life just not at all turning out like you planned? Check.
A-ha! I’m officially in quarter life crisis. Quite funny that it doesn’t freak me out (too much), it’s just a phase in this so-called-life and it’s completely normal and I’m going to get through it, I daresay.
Well, 2009 has been the toughest year ever to me. But I’ve learned a lot this year. I’ve learned that “indah pada waktunya” is such a magic spell (but still, waiting is sucks big time, especially when we have no idea when the time will come while we’re repeatedly told to be patient and keep the faith). I’ve learned that we can’t have everything in life. We just can’t. Life is all about choices and we have to choose, and sometimes we have to sacrifice something for an even greater good. I’ve learned that life is, indeed, beautiful, so don’t be a drama queen (or king) and sweat small stuff. I’ve learned that our future lies in our own hand, not in anyone else’s, so have the guts to take a stand, make a move! It’s between who we are and who we could be, it’s between how it is and how it should be.
And I’m pretty much sure that the best is yet to come.
Happy birthday to me! :)
PS: For those of you who would want to give me presents, books will do, and I’ll make things easier by putting my wish list here (hehehee…):
Posted by Adisti Dini Indreswari at 5:44 AM 3 comments
Labels: my diary
Kamu masih punya janji. Membawaku ke tempat tinggi, sepi, di malam hari saat hujan tidak turun, supaya aku bisa menikmati citylight.
Posted by Adisti Dini Indreswari at 4:11 AM 3 comments
Labels: my diary
So, it’s been 1… 2… 3… 4… 5 months? (If copy-pasted posts from my Facebook’s notes doesn’t count). Ever since the Facebook regime has beaten the Friendster regime and micro-blogging sites such as Twitter and Plurk are becoming huge now (By the way, I just don’t get the idea of constantly telling other people where I’m at or what I’m doing. That is way too lame!), seems like everyone leave their blogs without any recent updates. Blogging is not the same anymore.
Neither am I. I used to read a lot. I used to write a lot. I used to think, cry, mourn, and whine a lot. Now I don’t even have enough time to response to my feelings anymore. My mind is occupied with school, work, school, work, and how to find another job to earn some money. What the hell is wrong with me? Sometimes I think I need a break time, I need a little room to breathe, like how I label this blog. But life doesn’t have a parking lot, the clock keep on ticking, and we’ve got to keep on running.
Maybe all I have to do is just keep on writing then, no matter how lame it is, no matter if nobody care enough to read it. I know that I’m such an extreme introvert, and writing has always been like a therapy for me. Same thing goes with shopping. If they say “Shopping is cheaper than therapist”,hey, writing is even much cheaper! :D
Oh, by the way, one of my blog readers once asked me about how I was bragging about gloom, depression, or even suicidal tendency in my writings. Pssstt, let me share you a little secret: “Nggak semua yang lo baca itu bener.”I’ve been exaggerating a bit. There, I admit. I think every writer does the same thing, otherwise they wouldn’t able to make a best-selling novel. I just think that the unhappy feelings are parts of this so-called-life that we have to admit as much as all the happy feelings. Don’t freak out. But… I-am-OK. Oh yes, I am!
And for the very moment, let me just share you this. I copy-pasted it from someone else’s blog who copy-pasted it from someone else’s blog, too. It’s pretty much fun!
Posted by Adisti Dini Indreswari at 9:59 PM 1 comments
Labels: miscellaneous, my diary, my thoughts
Iya, itu dia, tidak salah lagi! Berdiri mematung seorang diri di pinggir jalan. Aku sampai meminta supir taksi memutar sekali lagi –yang berarti membuat argo berjalan lebih lama– untuk memastikan.
Bukan pertama kali ini aku tidak sengaja bertemu dengannya. Yang pertama di satu tempat wisata di Bandung. Aku dengan keluargaku, dia dengan keluarganya. Yang kedua di perjalanan-mencari-peruntungan-di-Jakarta entah yang ke berapaku ini. Memang kecil ya dunia ini, ternyata.
Posted by Adisti Dini Indreswari at 7:29 PM 0 comments
Labels: my diary, my love life
Posted by Adisti Dini Indreswari at 7:44 PM 4 comments
Labels: my diary, my love life

Is there such thing as 'succeed' and 'live happily ever after'?
Will I ever make it somehow, or will I fail over and over again?
Will I be brave enough to face it? What if I don't even have the guts to take a stand?
Will God raise me up, or will He be too busy taking care of His other matters? I know I'm just a tiny, little, unnoticed dot in this world. I know I've been a real bad person.
Will there be someone to be entrusted? It's not that I want to be dependent forever, it's just nice to know if I have someone.
Will I make them proud, or will I be awfully disappointing?
Is the miracle I'm looking for really exist?
Will the X factor work for me?
Will I calm down for a bit?
...
..
.
help.me.i'm.too.scared
Posted by Adisti Dini Indreswari at 8:06 PM 2 comments
Labels: my diary
Posted by Adisti Dini Indreswari at 8:58 PM 1 comments
Labels: my activities, my diary
Cobalah mengerti keinginanku yang sederhana ini.
Aku cuma ingin mengerahkan segenap waktu, pikiran, dan tenagaku untuk kamu, untuk kita. Menjadi bagian dari hari-harimu yang sibuk. Menjadikan keberhasilanmu, keberhasilan kita, adalah prioritas. Menjadi orang yang selalu bisa kamu andalkan. Berkata "Ya" untuk hal-hal yang kamu minta, bahkan melakukannya duluan sebelum kamu minta. Diam-diam membantumu dan berdoa untukmu. Menunjukkan respek padamu sebagai pemimpinku. Duduk berdua denganmu, berbagi banyak hal yang biasanya diakhiri dengan kamu mengepalkan tangan atau menepuk bahuku, menyemangatiku. Mendiskusikan hal-hal serius, lalu tertawa bersamamu. Mengingatkanmu hal-hal kecil yang seringkali terlupa akibat kesibukanmu, seperti makan siang atau mengumpulkan tugas yang sudah deadline. Berdiri tepat di belakangmu dan berkata tanpa perlu bersuara, "Aku ada", dan tetap di sana saat masa-masa sulit tiba, saat tekanan datang dari sana-sini. Dan akhirnya, mendengar kata "Bangga" dan "Terima kasih" itu keluar dari mulutmu, dan rasanya semua lelahku terbayar.
Seperti dulu.
Tidak bisakah, kita mengulanginya?
Posted by Adisti Dini Indreswari at 12:17 AM 6 comments
Labels: my activities, my diary, my love life

Aku haus. Benar-benar haus.
Tapi aku tidak mau air putih. Air putih terlalu sederhana buatku dengan segala ego ini. Aku mau anggur mahal dalam botol yang mewah. Yang rasanya memabukkan. Yang bisa memberi kesan 'wah'. Tidak peduli berapa uang yang harus kukeluarkan untuk sebotolnya. Tidak peduli walaupun aku hanya bisa menyicip seteguk, tidak bisa memiliki semuanya. Tidak peduli walaupun aku harus mengorbankan banyak hal.
Segelas air putih tersaji di meja. Tidak kusentuh, kubiarkan saja di sana. Aku pergi mencari seteguk anggur mahal. Toh air putih itu akan tetap di sana, menungguku, menawarkan kesejukan dan kesegarannya untukku.
Tapi ternyata seseorang telah mengambil segelas air putih itu. Dan sekarang, kenapa aku justru merindukan kehadirannya?
Segelas air putih yang menyembuhkan dahaga.
Segelas air putih yang menyejukkan.
Segelas air putih yang sederhana...
-Ditulis setelah kebetulan bertemu seseorang, yang kebetulan sedang bersama seseorang yang lain lagi, A A A R R G H ! ! ! Tapi ya sudahlah, hahaha...-
Posted by Adisti Dini Indreswari at 11:53 PM 4 comments
Labels: my diary, my love life
Another graduation day. Selamat buat para wisudawan:
~ Sahabat-sahabat SEQUEL (ini nama angkatan TL 2004-red) yang saya beri bunga: Christy, Nova, dan Miranti. Juga Ayi, Iin, Bunga, dan Ade. Mereka ini teman duduk bareng saat kuliah, ngerjain tugas bareng, belajar bareng, makan siang bareng, ketawa-ketiwi, ngegosip, foto-foto narsis, ngeceng, jalan-jalan, hunting tempat makan, shopping, nginep bareng, curhat, nangis-nangis, berbagi mimpi, saling support... Wow, we've been through a lot of things... Juga 29 SEQUEL lain yang nggak saya beri bunga, tapi percaya deh, kalian juga sangat spesial buat saya.
Empat tahun ternyata sebentar ya. Rasanya baru kemarin kuliah TPB dan MPAM bareng kalian. Hmm... isn't it funny how time flies?
Guys, it's kinda hard letting you go. Terutama sebagai pihak yang 'ditinggal'. jadi ingat puisi yang dibacakan Bos waktu syukwis HMTL, yang sempat kami banjir air mata: ![]()
Posted by Adisti Dini Indreswari at 9:33 PM 2 comments
Labels: my activities, my diary
Please, saya sudah capek. Capek memaklumi kamu. Capek bersikap permisif kepadamu. Capek menutupi kesalahanmu.
Bukankah keputusan ini kamu sendiri yang ambil? Rasanya kita sudah sama-sama dewasa. Harusnya kamu bisa bersikap seperti seorang yang dewasa.
Asal kamu tahu, saya juga punya masalah. Siapa sih yang tidak? Kalau tidak mau punya masalah, tidak usah hidup lah!
Maaf, tapi saya sudah kehilangan respek padamu. Saya tidak mau kamu pimpin.
Kamu tahu kan karakter saya. Jadi please, jangan membuat saya merasa bersalah dan bertanggung jawab. Jangan membuat saya terpaksa mengambil alih kendali. Jangan membebani saya...
-saya lagi kesal karena (lagi-lagi) harus jadi PJS Menteri-
Posted by Adisti Dini Indreswari at 7:39 PM 4 comments
Labels: my diary
I could tell from the minute I woke up
It was going to be a lonely lonely lonely lonely day
Rise and shine rub the sleep out of my eyes
And try to tell myself I can't go back to bed
It's gonna be a lonely lonely lonely lonely day
Even though the sun is shining down on me and I should feel about as happy as can be
I just got here and I already want to leave
It's gonna be a lonely lonely lonely lonely day
-Lonely Day (Phantom Planet)-
Memulai minggu pertama kuliah dengan perasaan nggak karuan. Hal-hal yang dulu aku anggap biasa saja, hal-hal yang dulu seringkali taken for granted, sekarang jadi suatu privilege. Kangen, kangen, kangen, kangen semuanya.
-si melankolis lagi mellow-
Posted by Adisti Dini Indreswari at 1:02 AM 2 comments
Labels: my diary
"Dia itu emang orangnya kalau kerja sama orang lain, kalau deket sama orang lain, selalu nunjukin kalau dia nggak punya intention apa-apa," katanya. "Lu sendiri nggak punya intention jelek kan ke dia?"
Aku menggeleng pelan.
"Kalau gitu maju terus, Dis!"
Hmm... intention, ya.
Hey, watch out! I'm not giving up on you! Y E A H ! ! ! ![]()
Posted by Adisti Dini Indreswari at 8:07 PM 1 comments
Labels: my diary, my love life
Wisuda kali ini cukup spesial buat saya, karena ada beberapa orang yang spesial buat saya yang diwisuda.
Saya standby di gerbang Ganesha menunggu arak-arakan, memberi bunga dan kolase foto buat Sobat Bolang yang diwisuda: Fahri (Kimia, mantan ketua Amisca), Edo (Teknik Mesin, mantan ketua HMM), Ikur (Farmasi, mantan ketua UKB, sekarang Menteri Seni-Budaya Kabinet), dan Zack (Farmasi juga, mantan ketua UKA). Oh ya, sempat juga memberi setangkai mawar merah -spontaneously- buat bos saya, si Hendra. (He?! What the hell were you thinking, Dis?)
Walaupun teman seangkatan saya di TL yang diwisuda sekarang cuma 3 orang: Uti (dengan predikat cum laude, tentunya), Anggy, dan Fitria, dari jurusan lain ternyata cukup banyak juga... Sebagian dari mereka saya kenal sejak masih pakai seragam putih-abu saat PMB di Sabuga. Sebagian lagi baru saya kenal beberapa bulan lalu, tapi sudah saya anggap teman baik. Ada yang sudah dapat beasiswa S2, ada juga yang sudah dapat kerja.
Dulu, kami masih sama-sama di garis start, ambil ancang-ancang untuk berlari. Dan sekarang, rasanya mereka sudah meninggalkan saya... Ah, saya takut. Takut kalau nanti mereka sudah menancapkan bendera di garis finish, saya masih terengah-engah berlari. Takut tertinggal terlalu jauh. Takut terjatuh dan tidak ada yang menolong karena semuanya sudah jauh di depan saya. Tapi kalau kata salah satu teman saya yang diwisuda: “I’m going nowhere, Dis. Still be here and run together with you.” ![]()
Yah, apapun, selamat mengejar mimpi kalian. Same here, saya juga sedang mengejar mimpi saya...
Posted by Adisti Dini Indreswari at 3:12 AM 0 comments
Labels: my diary
Jumat, 16 Mei 2008
Aku emosi saat rapat Kabinet. Bayangkan, ada orang yang mengangkat isu tentang tim Bolang (bahkan jelas-jelas menyebut nama) di tengah-tengah rapat yang tadinya membahas isu BBM. Bukan masalah besar sebenarnya, dan masalahnya juga sudah selesai. Mungkin ini memang kultur dimana aku harus menyesuaikan diri. Mungkin juga aku sedang PMS dan jadi over sensitif, atau sifat drama queen-ku sedang muncul. Tapi aku nggak suka ada yang bicara buruk tentang tim Bolang, apalagi di depan umum. Nggak suka, nggak suka, nggak suka! Aku rela melakukan apa saja demi membela kehormatan tim Bolang!
Kalau dipir-pikir, kenapa ya?
Seorang teman sejurusan pernah bertanya, "Kok lu sampai segitunya sih Dis ke Bolang?" melihatku semangat berkampanye 'gerilya' waktu masa kampanye. Seorang teman yang lain pernah bertanya dengan polosnya, "Kenapa lu gabung sama mereka?", terkait isu 'kiri-kanan-depan-belakang-atas-bawah' yang sering dibicarakan di ITB.
Aku cuma menjawab, "Inilah pilihan gue..."
Senin, 19 Mei 2008
Intro lagu We're Going to the Star-nya Goodnight Electric terdengar dari handphone-ku, tanda ada telepon masuk. Aku tersentak dari tidur lelapku. Masih dengan mata setengah terpejam, tanganku menggapai-gapai mencari handphone yang terselip di antara tumpukan bantal dan boneka di kasur.
Jarum jam di dinding menunjukkan pukul setengah tiga pagi. "Orang macem apa sih yang nelepon jam segini!" makiku dalam hati. Di layar handphone tampak nomor tidak dikenal. Refleks, aku menekan tombol reject. Paling juga orang iseng, pikirku.
Aku sedang bersiap-siap menarik selimut kembali ketika ada SMS masuk dari nomor tidak dikenal itu. Dari salah seorang Sobat Bolang, ternyata.
"'Puasa pd prtngahn bulan spt brpuasa spnjg tahun'(H.R.Nasai, Ibn Hibban menshahihkn hadis ini) hr ini udh ayyamul bidh-tengah bulan, puasa yuk.."
Posted by Adisti Dini Indreswari at 10:48 PM 3 comments
Labels: my activities, my diary
Kami menundukkan kepala di belakang pintu.
“Kita kalah, Ma,” bisikku.
“Kita telah melawan, Nak, Nyo, sebaik-baiknya, sehormat-hormatnya.”
-Bumi Manusia (Pramoedya Ananta Toer), hal. terakhir-
Reaksi pertama? Nggak bisa menerima kenyataan.
Berharap ini cuma mimpi dan aku akan segera terbangun, berharap ada yang salah dan seseorang akan meralatnya.
Padahal calonnya kan ada 3, kenapa cuma kami yang selalu diserang? Dan kenapa juga orang-orang di timku terlalu ‘lurus’ dan nggak menyerang balik?
Ini bukan pertama kalinya aku mengalami yang namanya ‘kalah’ atau ‘gagal’, tapi rasanya belum pernah sesakit ini. Mungkin karena dari awal yang terpikir adalah menang, menang, dan menang. Aku sendiri nggak menyangka bisa sampai separah ini: nangis selama 1 hari 2 malam (berhenti kalau capek, habis itu nangis lagi), nggak makan dan nggak tidur dengan layak juga selama 1 hari 2 malam, badan lemas, maag kambuh, mata merah dan bengkak, masih terbawa aura perhitungan suara yang tegang, hati nggak tenang...
Tapi, setelah energi habis, air mata kering, mengikuti saran Hendra untuk ambil air wudhu-salat malam-tilawah buat menenangkan hati (Seumur-umur curhat sama orang, baru kali ini ada yang memberi saran seperti itu. But hey, it works!
), dan kumpul-kumpul lagi sama tim, akhirnya mulai bisa berpikir positif... Toh calon yang menang adalah orang yang kuanggap teman baik, sama seperti aku menganggap calon yang kudukung. Jadi nggak sakit-sakit banget. Lagipula, pasti ada hikmah di balik semua ini. Let’s think positive. Satu hal yang bikin aku puas, aku berhasil menang di kandang sendiri, and they appreciate me for that. Yah, something bigger might be waiting for me out there...
Lessons learned:
~ God works in His mysterious way. Dia punya rencana sendiri. Hal yang kita anggap baik untuk kita, mungkin sebenarnya buruk. Dan hal yang kita anggap buruk untuk kita, mungkin sebenarnya baik. –Al Qur’an surat Al Baqarah-
Terima kasih buat VIP (Very Important Persons) in my life: H E N D R A, A N D I N, dan M A M A. Thanks for being there when I was down. Nggak tahu gimana jadinya kalau nggak ada kalian. I'm so lucky to have you around...
1 minggu
1 hari
1 jam
1 menit
1 milidetik
28 suara alias 0,6% suara
Posted by Adisti Dini Indreswari at 10:15 PM 6 comments
Labels: my activities, my diary
Iya, kamu!
Kamu tahu nggak, aku nggak suka orang asing. Aku nggak suka mengobrol dengan supir taksi, pegawai salon yang memotong rambutku, atau orang yang duduk di sebelahku di ruang tunggu travel atau dokter. Biasanya kalau diajak mengobrol duluan, aku akan menjawab seadanya dan nggak balas bertanya, sampai mereka sadar aku nggak mau diajak mengobrol dan nggak bertanya apa-apa lagi. Aku nggak suka memulai pembicaraan dengan teman baru atau ‘temannya teman’, walaupun kadang terpaksa melakukannya. Aku malas datang ke suatu acara kalau tahu akan banyak orang asing. See? I’m just a bit anti-social, I guess.
Terus, kamu tahu nggak, sebagai seorang Capricorn yang melankolis, I’d like everything to be well planned and organized. Aku punya organizer berisi to-do list dan agenda harian. Kuliah pengganti, asistensi, ujian, deadline tugas, deadline artikel, rapat, les, wawancara, sampai janji ketemu teman SMA atau ambil celana di penjahit kutulis di sana. Jam berapa dan di mana, semuanya rinci. I love making plans. Aku nggak suka kalau ada perubahan rencana atau sesuatu yang mendadak.
Pasti kamu nggak tahu. You know nothing about me.
Dan tiba-tiba... Kamu masuk ke duniaku, as a complete stranger, in an unlikely situation, mengintervensi hidupku (bahkan mengubah siklus tidurku), dan mengacaukan rencanaku yang seharusnya berjalan sempurna.
And now I know that...
YOU
ARE
J E R K ! ! !
A heartless jerk with a big “J” on your forehead! I should have seen it before!
***
“Nggak usah pakai hati, Dis,” kata orang-orang. Iya, dari awal juga aku sudah berpikir seperti itu, tapi tetap saja... S A K I I I T ! ! ! Huhu... ![]()
Yeah. Shit happens sometimes.
It’s nice to know that you were there
Thanks for acting like you care
And making me feel like I was the only one
Thanks for watching as I fall
And making me know we were done
-My Happy Ending (Avril Lavigne)-
Thanks for making me stronger.
Posted by Adisti Dini Indreswari at 1:02 AM 2 comments
Labels: my diary, my love life