LPJ akhir tahun ditunda. Kuota 100 orang anggota nggak terpenuhi.
Kesal rasanya. 3 minggu terakhir aku kerja ekstra keras dari biasanya: membereskan proker yang tersisa, merekap kerjaan selama setahun, menganalisis hasilnya, rapat sama staf, rakor BP... Tapi, aku juga nggak mau kalau pertanggungjawabanku cuma disaksikan 70an anggota (jumlah yang datang hari ini).
Kultur, lagi-lagi yang dijadikan kambing hitam. "Mau gimana lagi, HMTL dari dulu emang kaya gini." Aduh, kok pasrah banget sih.
Setelah rapat ditutup (keputusannya: LPJ ditunda sampai Januari), di tengah-tengah massa himpunan yang masih berkumpul di ruangan 9009, tiba-tiba datang perasaan ingin menangis yang sama sekali nggak ada hubungannya sama LPJ atau himpunan.
Bingung. Sayang. Sebal. Nggak yakin. Takut. Khawatir. Bingung. Ingin semua berakhir. Nggak mau semua berakhir. Bingung. Sayang. Sayang BANGET.
Bingung.
And I'd give up forever to touch you
'Cause I know that you feel me somehow
You're the closest to heaven that I'll ever be
And I don't want to go home right now
And all I can taste is this moment
And all I can breathe is your life
'Cause sooner or later it's over
I just don't want to miss you tonight
-Iris (Goo Goo Dolls)-
Lagu ini pernah ku-post sebelumnya, tapi kali ini bagian yang di-bold beda. Lagu ini, selalu jadi lagu yang tepat kalau suasana hati lagi mellow seperti hari ini.
It's over means it's over, but I don't want it's over. Not now. Please tell me, it's not over yet...
16.12.07
Cerita Hari Ini
Posted by Adisti Dini Indreswari at 7:36 PM 2 comments
Labels: my diary
15.11.07
Hore... Blog Baru!
Let me call myself... a journalist and writer in progress. Karena selama ini tulisan-tulisan yang pernah kubuat kurang terarsipkan dengan baik, jadi aku bikin blog ini khusus buat tulisan-tulisanku yang bersifat feature dan yang sudah pernah dipublikasikan. Ada juga cerita di balik setiap tulisan. Buka ya!!!
Posted by Adisti Dini Indreswari at 4:49 PM 0 comments
Labels: miscellaneous
5.10.07
Hmm...
Hanya ada kami berdua di ruangan yang biasanya selalu ramai itu. Malam memang sudah larut. Dan kami masih saja meneruskan diskusi kami, dengan notes yang sudah dipenuhi berbagai catatan ini-itu di hadapan kami. Ah, kalau bukan dia, pasti aku sudah memilih untuk pulang... Beberapa kali tangan kami tidak sengaja bersentuhan, mengirimkan getaran-getaran aneh ke dadaku. Atau tatapan matanya yang tajam bertabrakan dengan mataku. Aku sudah tidak bisa berkonsentrasi lagi pada kata-katanya tentang rencana organisasi ke depan. Dia sadar tidak ya, dari tadi aku memperhatikannya? Dia malah beberapa kali sengaja menyentuh bahu atau kakiku saat bercanda. Tidak tahukah dia, itu membuat jantungku berdegup lebih kencang? Sekarang dia mendekat, untuk melihat notes yang sedang kutulisi. Wajahnya cuma beberapa senti dariku. Aku sampai bisa mencium aroma maskulin tubuhnya. Ah, tapi dia memang selalu wangi... Aku sudah tidak tahan lagi. Kuulurkan tanganku untuk menyentuh wajahnya. Dia nampak terkejut karena perbuatanku yang tiba-tiba itu. Aku tetap menatap ke dalam matanya. Lalu, pelan-pelan sekali, aku mendekatkan wajahku padanya. Dia juga mendekatkan wajahnya pelan-pelan. Bibir kami mulai bersentuhan. Hmm... bibirnya terasa lembut di bibirku. Nikmat. Tanganku mulai menyusuri setiap senti rambut ikalnya, lehernya, bahunya, dadanya yang bidang... Lalu kubuka kancing kemeja lengan panjangnya satu per satu. Aku membiarkan tangannya menyusup masuk ke dalam t-shirt-ku. Nafas kami mulai tidak beraturan. Pelan-pelan, kudorong tubuhnya sampai terbaring di lantai. Dia merengkuhku ke dalam pelukannya. Hangat. Sekarang aku sudah berada di atas tubuhnya. And the rest is history...
Gawat, gawat, gawat. Kenapa setiap ada dia, pikiranku selalu ke arah 'sana'? Padahal lagi puasa!
Posted by Adisti Dini Indreswari at 9:00 PM 6 comments
Labels: my love life
13.9.07
"Dis, gue bangga sama lu..."
Dari semua yang pernah dikatakan orang padaku, kata-kata itulah yang paling kusukai. Ada sensasi tersendiri saat mendengarnya. Bisa bikin orang lain bangga? Wah...
Selama 5 hari kemarin, kebetulan sekali ada 3 orang yang mengatakannya padaku. Orang pertama mengatakannya di forum, kemudian menyampaikannya lagi lewat SMS. Yah, bukan cuma buatku sih, tapi buat orang-orang yang selama ini sudah membantu dia. Sangat normal, malah kebangetan kalau dia nggak bilang apa-apa. Tapi tetap saja senang...
Orang kedua menyampaikannya lewat SMS, saat kami sedang membicarakan orang pertama ini. Masalahnya, dia bukan tipe orang yang akan mengatakan hal-hal semacam ini, hihi... Nggak nyangka. Orang ketiga, salah satu teman baikku, mengatakannya di sela-sela perdebatan kami. Padahal sebelumnya kami belum pernah berdebat tentang apapun lho...
Terima kasih semuanya, aku JANJI akan bikin kalian lebih bangga lagi! ![]()
Posted by Adisti Dini Indreswari at 6:58 PM 0 comments
Labels: my diary
10.8.07
15 Hari Jadi 'Kahim'
Selama 15 hari kemarin (26 Juli-9 Agustus) aku menggantikan Jack yang mesti pulang kampung karena adiknya nikah (iya, adik, adik kandung). Cukup banyak yang mesti kukerjakan, walaupun semuanya lebih ke hal-hal yang sifatnya teknis, seperti:
-Menandatangani beberapa proposal, surat dan sertifikat
-Mendelegasikan orang buat menghadiri undangan-undangan yang masuk, ada juga beberapa undangan yang kuhadiri sendiri
-Menerima tamu dan roadshow
-Ikut rapat-rapat di himpunan (terutama rapat kaderisasi), memberi masukan kalau diminta
-Meng-handle beberapa urusan PMB, jadi contact person HMTL
-Meng-handle beberapa urusan Lustrum prodi
-Meng-handle beberapa urusan training softskill FTSL, termasuk ikut rapat sama dosen-dosen
-Mengawasi renovasi himpunan (sekarang kami punya langit-langit dan warna tembok baru lho!)
Di samping masih harus menjalankan proker-proker departemenku sendiri.
Such a tiring fortnight... Capeknya sih bukan capek fisik, but worse: capek mikir. Lagipula malas juga mesti sering-sering ke himpunan saat libur begini, kan lebih asyik jalan-jalan atau malas-malasan di rumah. Salut deh buat para kahim dan ketua organisasi lainnya yang harus melakukan tugas-tugas seperti itu kira-kira setahun…
Orang bijak bilang, setiap proses yang kita lewati harus diambil hikmahnya. Cukup banyak pelajaran yang kuambil selama jadi ‘kahim’. Lagipula anggap saja ini penebusan karena selama 1,5 tahun pertama masuk himpunan aku bukan anggota yang baik. Ternyata seru juga ya jadi kahim: banyak yang mencari, bisa menyuruh-nyuruh orang, omongan selalu didengar…
Dan akhirnya, setelah 15 hari, Jack pulang, bawa oleh-oleh! ^_^
Posted by Adisti Dini Indreswari at 6:34 PM 3 comments
Labels: my activities
3.7.07
This Beautiful Place...
Keterangan foto:
1: Bendungan Sutami, Malang, Jawa Timur. Salah satu bendungan di WS (Wilayah Sungai) Brantas yang dimanfaatkan antara lain sebagai pengendali banjir 50 tahunan di sungai utama, pengairan sawah, pembangkit listrik tenaga air, sumber air baku untuk PDAM dan industri, dan rekreasi.
2: Cerobong untuk mengatur tekanan air.
3: Stasiun Pemantau Kualitas Air secara online milik Perum Jasa Tirta. Jadi kalau ada polutan yang masuk ke perairan bisa langsung ketahuan, hebat ya? Sekaligus sebagai pengukur tinggi permukaan air untuk pengendalian banjir.
4: Spillway, untuk mengalirkan kelebihan air ke Sungai Brantas biar air nggak meluap.
5: Jalan di sisi waduk saat hujan. It’s just so beautiful!
Posted by Adisti Dini Indreswari at 10:17 PM 2 comments
Labels: my activities
19.6.07
Sungai Cikapundung dan Masyarakat Sekitarnya*
*untuk EVIRO edisi 4 (coming soon!)
Tapi lihatlah kondisi Sungai Cikapundung kini. Anak Sungai Citarum ini sudah sangat tercemar, terutama karena di tepinya berdiri pemukiman penduduk yang padat, contohnya di Kelurahan Tamansari tersebut. Airnya berwarna coklat keruh, dan banyak sampah di mana-mana. Saat saya melakukan observasi ke sana, seorang ibu tanpa ragu-ragu menumpahkan seluruh isi tempat sampahnya ke sungai, menambah kotor sungai yang tadinya sudah kotor. Kondisi ini diperparah oleh pipa-pipa dari kamar mandi penduduk yang menyalurkan air buangan langsung ke sungai. “Memang nggak ada aturan tiap warga harus bikin septic tank, jadi ya langsung dibuang ke sungai aja,” kata Pak Agus. Hal senada juga dikatakan oleh Bu Atik, yang tinggal tidak jauh dari Pak Agus. “Rumah-rumah di sini terlalu berdempet-dempet, nggak memungkinan buat bikin septic tank di bawah tanah.”
Sanitasi lingkungan yang demikian buruknya, tentu saja selain tidak nyaman sebagai lingkungan tempat tinggal juga potensial untuk mendatangkan berbagai penyakit, seperti diare, demam berdarah, typhus, TBC, dan lain-lain. Terutama pada musim hujan. Warga sudah terbiasa dengan luapan air sungai yang menggenangi rumah mereka setiap musim hujan. Padahal air tersebut sudah tercemar oleh air buangan, kadang-kadang juga membawa sampah. Pada musim kemarau keadaan tidak lebih baik. Karena kecilnya debit air yang mengalir, sampah jadi tertahan di badan sungai, akibatnya banyak nyamuk, lalat, dan tercium bau busuk.
Warga mengakui kurangnya perhatian Pemerintah. “Dulu waktu mau Peringatan Konferensi Asia Afrika, ada kegiatan bersih-bersih sungai, tapi setelah itu ya nggak ada lagi, sungainya kotor lagi,” kisah Bu Atik. Kalaupun ada perhatian, datangnya dari LSM KUJBS (Koalisi untuk Jawa Barat Sehat) yang memberi penyuluhan pada warga supaya tidak membuang sampah ke sungai. Namun demikian, masih ada saja warga yang bandel. “Susah juga sih, habis kalau retribusi kebersihan belum dibayar, sampah nggak diambil-ambil sama petugas kebersihan, padahal warga sini kebanyakan dari golongan menengah ke bawah, kadang kalau lagi nggak punya uang bingung juga, makanya sampahnya dibuang ke sungai aja,” kisah Bu Atik lagi.
Dapat kita simpulkan bahwa gaya hidup masyarakat sekitar Sungai Cikapundung yang tidak ramah lingkungan tersebut bukan karena ketidaktahuan mereka, tetapi karena tidak ada pilihan lain. Lagi-lagi, uang yang jadi masalah.
Saat ditanya harapannya, Pak Agus berkata bahwa ia ingin Sungai Cikapundung bisa kembali seperti dulu lagi. Ia sendiri tidak keberatan kalau dibuat peraturan yang ketat megenai kebersihan Sungai Cikapundung. “Misalnya yang buang sampah di sungai didenda.” Sedangkan Bu Atik menjawab, “Wah, saya mah pinginnya pindah aja dari sini, ha… ha…”
Posted by Adisti Dini Indreswari at 11:51 PM 3 comments
Labels: miscellaneous
12.5.07
Because You're Worth It...
What’s wrong with my tongue?
These words keep slipping away
I subtle, I stumble
Like I’ve got nothing to say
‘Cause I’m feeling nervous
Trying to be so perfect
‘Cause I know you’re worth it
You’re worth it
-Things I’ll Never Say (Avril Lavigne)-
Maaf, aku nggak bisa jadi "supergirl" seperti yang kamu harap. Habis, kalau ada kamu, aku malah jadi nggak tahu mesti ngomong apa dan ngapain. Maybe it’s simply because you’re worth it and it makes me lose my mind when you’re around…
Kulap lagi dong… (tapi kali ini bawa oleh-oleh ya ^_^)
Jadi cakahim lagi dong… (nggak nyangka kamu nggak menang…)
Sakit lagi dong… (eh, yang ini jangan ding!)
Biar ada alasan buat sms atau telepon kamu, hi… hi…
Posted by Adisti Dini Indreswari at 12:26 AM 3 comments
Labels: my diary, my love life
24.12.06
Proudly Present...
Go get it at:
· Comics Corner (Jl. Pager Gunung)
· Pitimoss (Jl. Banda)
· Rumah Buku (Hegarmanah)
· Potluck (Dipati Ukur)
· Pondok Dongeng (Ciumbuleuit)
· HMTL ITB, juga di Tokema dan toko deket LFM (masa nggak tahu ITB di mana? ^_^)
· SMA-SMA dan kampus-kampus ternama di Bandung
For free!!!
Akhirnya… terbit juga! Walaupun banyak kesalahan di sana-sini (jawaban kuis ada yang salah, ada tulisan yang kepotong, hasil cetak warnanya kurang tajam, salah eja, dll) yang bikin aku sempat nggak mau lihat majalah ini saking malunya, but this is what I get from my hard work, so I must be proud of it. Next time we must (and I’m sure we can) be better!
So, I would like to say thanks to…
· Dini dan Mir, dua Editor at Large yang sangat bisa diandalkan
· Para penulis: Kak Rian, Oya, Chandra, Imam, Muti, Cindy, Opik, Niken, Orig, Jack, Icha, Mir, Ijul, dan Ery dari Greeners Magazine
· Para fotografer: V-man, Pritta, Dini
· Para layouter: Dini, Puput, Wahyu
· Pinky yang tiba-tiba disuruh bikin iklan layanan masyarakat buat cover belakang dalam waktu kurang lebih cuma 2 jam
· Ipoy & Mike di bagian Keuangan. Yah, walaupun sebenarnya kerja bagian ini belum maksimal. Hampir semua proposal aku yang ngirim, aku juga yang mem-follow up.
· Dua sekretaris: Wulan (yang bikin proposal) & Safrul (Sekretaris HMTL yang sering dimintai tolong bikin surat pengantar proposal dan maksa namanya dicantumkan di box redaksi)
· Magangers Humas (anak-anak TL 2005) yang rajin-rajin dan selalu mau disuruh ngapain aja: Nono, Nindi, Pice, Widya, Nila, Ela, Nur, dan Ezi
· Citra, Kadep Humas yang udah ngasih kepercayaan jadi Editor in Chief dan banyak membantu. Codet (Ketua HMTL) dan Danu (wakilnya) juga.
· Para sponsor: PT. Newmont Pacific Nusantara, Laboratorium Kualitas Udara ITB, FTSL (Fakultas Teknik Sipil dan Lingkungan) ITB, dan IOM (Ikatan Orangtua Mahasiswa) ITB
· Pak Asis, yang nggak lain adalah guru besar di ITB. Kalau nggak ada beliau, mungkin Enviro nggak akan bisa terbit…
· Pepeng dan orang-orang di Tafio Total Solution yang baik-baik, padahal biaya percetakan nggak dibayar-bayar gara-gara duit dari sponsor nggak turun-turun
· Semua yang udah bantu pendistribusian Enviro. Ternyata ngehabisin 2.000 eksemplar majalah lama juga ya…
· Dan pihak-pihak lain yang mungkin terlupakan…
You all did such a great job! Enviro would be nothing without you…
Posted by Adisti Dini Indreswari at 6:12 AM 0 comments
Labels: my activities
6.12.06
I Love You, Dad...
Think back and talk to me
Did I grow up according to plan?
And do you think I'm wasting my time doing things I wanna do?
But it hurts when you disapprove all along
And now I try hard to make it
I just want to make you proud
I'm never gonna be good enough for you
I can't pretend that I'm alright
And you can't change me
'Cause we lost it all
Nothing lasts forever
I'm sorry I can't be perfect
Now it's just too late
And we can't go back
I'm sorry I can't be perfect
-Perfect (Simple Plan)-
Berbeda dengan Mama yang extrovert dan spontan, aku dan Papa punya karakter yang sama: cenderung introvert. Mungkin karena itulah selama ini aku tidak terlalu dekat dengan beliau. Aku jauh lebih dekat dengan Mama. She’s my best friend ever. Dengan beliau, aku bisa curhat tentang segala macam: mulai dari kuliah sampai cowok. Kami juga sering menghabiskan waktu bersama. Karena perbedaan karakter itulah, kami justru saling mengisi. Mirip sekali dengan Rory dan Lorelai di Gilmore’s Girls. Lain halnya dengan Papa. Kalau tidak ada Mama, kami jarang mengobrol, bicara seperlunya saja. Jadi, hubungan kami datar-datar saja: tidak terlalu dekat, tapi juga tidak pernah bertengkar.
Tapi, saat aku sedang meghadapi ‘masa sulit’ seperti kemarin sampai-sampai sempat terpikir untuk pergi ke psikolog (Aku pakai kata “kemarin” karena ‘masa sulit’ itu sudah berakhir. It’s so over and everything’s back to normal.), setelah ‘kehebohan’ di rumah dini hari kemarin, justru Papa-lah yang membesarkan hatiku. Biasanya, saat sedang berdua di mobil kami cuma diam-diaman. Cuma sesekali mengomentari keanehan yang tampak sepanjang jalan atau omongan penyiar radio. Tapi malam itu, saat menjemputku dari kampus, kami sharing tentang banyak hal. Ini kata-kata beliau yang paling mengena:
Yang namanya masalah itu kaya kubangan lumpur di kaki kita. Sebisa mungkin harus dihindari. Siapa sih yang mau kena masalah? Tapi lain soal kalau kita udah kecebur di kubangan lumpur itu. Kita harus cari cara buat keluar. Kalau didiemin aja, atau cuma sibuk nyalahin diri kenapa bisa kecebur, makin lama kita malah makin dalem kecebur di kubangan lumpur itu, dan bakal makin susah juga keluarnya.
Posted by Adisti Dini Indreswari at 1:55 PM 0 comments




