19.5.08

Bukan Pilihan Salah

Jumat, 16 Mei 2008
Aku emosi saat rapat Kabinet. Bayangkan, ada orang yang mengangkat isu tentang tim Bolang (bahkan jelas-jelas menyebut nama) di tengah-tengah rapat yang tadinya membahas isu BBM. Bukan masalah besar sebenarnya, dan masalahnya juga sudah selesai. Mungkin ini memang kultur dimana aku harus menyesuaikan diri. Mungkin juga aku sedang PMS dan jadi over sensitif, atau sifat drama queen-ku sedang muncul. Tapi aku nggak suka ada yang bicara buruk tentang tim Bolang, apalagi di depan umum. Nggak suka, nggak suka, nggak suka! Aku rela melakukan apa saja demi membela kehormatan tim Bolang!

Kalau dipir-pikir, kenapa ya?

Seorang teman sejurusan pernah bertanya, "Kok lu sampai segitunya sih Dis ke Bolang?" melihatku semangat berkampanye 'gerilya' waktu masa kampanye. Seorang teman yang lain pernah bertanya dengan polosnya, "Kenapa lu gabung sama mereka?", terkait isu 'kiri-kanan-depan-belakang-atas-bawah' yang sering dibicarakan di ITB.

Aku cuma menjawab, "Inilah pilihan gue..."

Senin, 19 Mei 2008
Intro lagu We're Going to the Star-nya Goodnight Electric terdengar dari handphone-ku, tanda ada telepon masuk. Aku tersentak dari tidur lelapku. Masih dengan mata setengah terpejam, tanganku menggapai-gapai mencari handphone yang terselip di antara tumpukan bantal dan boneka di kasur.

Jarum jam di dinding menunjukkan pukul setengah tiga pagi. "Orang macem apa sih yang nelepon jam segini!" makiku dalam hati. Di layar handphone tampak nomor tidak dikenal. Refleks, aku menekan tombol reject. Paling juga orang iseng, pikirku.

Aku sedang bersiap-siap menarik selimut kembali ketika ada SMS masuk dari nomor tidak dikenal itu. Dari salah seorang Sobat Bolang, ternyata.

"'Puasa pd prtngahn bulan spt brpuasa spnjg tahun'(H.R.Nasai, Ibn Hibban menshahihkn hadis ini) hr ini udh ayyamul bidh-tengah bulan, puasa yuk.."

Subhanallah, ternyata tadi dia mau membangunkanku untuk salat tahajud dan sahur. Aku baru ingat hari ini kami janjian puasa sunnah bareng dan buka bareng. Bukan untuk pertama kalinya. Sayang aku sedang berhalangan. Tapi mumpung sudah bangun, aku meneruskan membaca buku Principles of Water Quality Control, bahan laporan Kerja Praktekku, yang tergeletak di kasur. Tadi malam aku ketiduran saat membaca buku itu. Aku jadi merasa bersyukur dibangunkan. Kok ada ya, orang yang melawan kantuk di dini hari dan mau buang-buang waktu, tenaga, dan pulsa buat membangunkan temannya?

Kalau dicek, di folder SMS di handphone-ku dan di folder e-mail-ku banyak juga pesan dari para Sobat Bolang yang sengaja kusimpan. Dari yang isinya kata-kata bijak sampai yang sekedar memberi semangat. I know that they, somehow, are there for me. Hmm... mungkin ini alasannya kenapa aku bilang aku rela melakukan apa saja demi tim Bolang... Bukan sekedar tim sukses calon Presiden KM, ini keluarga.

Jadi ingat tiga bulan yang lalu...

Jumat, 23 Februari 2008
Menerima SMS dari Jarwo. Datang ke kantin GKU Barat dengan ragu-ragu. Bertemu Bobby, Gilang, dan beberapa orang lain yang nantinya akan jadi Sobat Bolang juga. Berbagi visi-misi dan mimpi untuk KM ITB. Menuliskan nama dan tanda tangan di lembar promotor. Menyerahkan fotokopi KTP dan KTM yang kebetulan ada di dompet.

Padahal saat itu aku sudah diajak tim lain, tapi aku belum sempat bertemu langsung dengan calon yang didukung tim itu. Tentunya ada beberapa pertimbangan kenapa akhirnya aku gabung dengan tim Bolang, tapi lebih karena intuisilah aku memilih gabung di sini.

Pilihan yang, aku tahu tiga bulan kemudian, bukan pilihan salah...

29.4.08

Fit and Proper Test

Tadi pagi saya baru menjalani fit and proper test calon Menteri Kominfo Kabinet KM ITB periode 2008/2009. Apa yang dites? Ya apakah saya cukup fit dan proper menempati posisi itu...

Kemarin malam Essa (yang juga akan fit and proper test Menteri P&K) menelepon. “Dis, lagi ngapain?”

“Nggak lagi ngapa-ngapain.” Sebenarnya saya sedang mengerjakan tugas kuliah, tapi saya takut dia jadi segan kalau mau curhat.

“Emang udah nyiapin buat besok?”

“Lho, emang mesti nyiapin apa?” Pikir saya, saya nggak usah menyiapkan apa-apa buat tes ini. Kalau ditanya nggak bisa jawab, ya tinggal bilang saja, “Nggak tau.” Toh saya memang nggak berambisi jadi menteri. Nothing to lose. Saya juga sudah bilang ke Shana, saya siap membantu tapi nggak jadi first man. Saya kan ingin memperbaiki IPK. Jadi second atau third man, boleh lah. (Kalau kata Iqbal , “Lu emang nggak akan jadi first man kok, tapi jadi first woman.” :P) Jadi bisa dibilang fit and proper test ini cuma formalitas.

Essa memanas-manasi saya. “Masa kalau ditanya lu mau jawab nggak tau? Malu-maluin dong. Shananya juga malu ntar.” “Orang lain kan nggak tau ini formalitas atau bukan.” “Tadi udah ada yang dites, katanya dibantai lho.”

Oh, begitu ya. Tapi saya sedang tanggung membuat jalur pipa air buangan apartemen dan menghitung dimensinya, tugas Plambing yang deadline-nya besok. Habis ini saja siap-siapnya, pikir saya.

Tapi tugas itu baru selesai sekitar jam 12 malam. Mata lelah memelototi layar laptop terus-terusan. Akhirnya saya malah tidur. Saya cuma sempat membaca sekilas coretan di organizer saya paginya. Coretan yang yang dibuat waktu masa kampanye dengan tim Bolang, tentang mimpi dan harapan untuk KM ITB.

Saya datang awal ke Campus Center. Gilang kebetulan menelepon dari Jakarta. Oh ya, Bobby juga sempat mengirim SMS untuk sekedar memberi semangat. Ah, mereka memang sahabat-sahabat saya...

Dan ternyata, yang ‘mengetes’ saya adalah Ngkong, haha... Ada juga beberapa Senator lain dan Kabinet yang dulu. Sesi pertama tentang wawasan kemahasiswaan. Aduh, kok saya hilang ingatan tentang wewenang Kabinet dan Kongres, dan pola hubungan antara Kabinet-Kongres-Himpunan-Unit. Padahal waktu PMB 2007, saya menjelaskan itu pada anak-anak kelompok mentoring saya. Semoga jawaban saya nggak salah...

Wawancara berlangsung sekitar 60 menit. Umumnya pertanyaan saya jawab berdasarkan pengalaman, pandangan pribadi, atau spontan saja. Ketidaksepakatan soal Campus Channel sempat jadi bahasan. Di akhir, salah seorang pewawancara bilang, “Tanya-tanya lagi ya soal media, kayaknya pengetahuan kamu tentang media masih kurang.” W H A T T H E - ? ? ? Tahu apa dia? Rasanya selama ini saya cukup concern soal media. Pengalaman saya di bidang media malah lebih banyak daripada pengalaman di bidang TL. Tapi yang saya pelajari di Siaware, feedback itu bersifat netral, hehe...

Jadi, apa saya cukup fit dan proper jadi menteri? Kita lihat nanti...

16.4.08

Percakapan, Setelah Sekian Lama

Aku melihat sosokmu yang baru datang, langsung duduk di bangku. Kamu sendirian, acuh menyantap makan siang dari piring yang kamu bawa. Aku terus mengamati sosokmu. Kerinduan yang selama ini terpendam jadi memuncak lagi. Aku sudah terbiasa menikmati keadaanmu selama ini. Aku belum terbiasa dengan ketiadaanmu. Damn, it’s killing me.

Aku ingin bicara denganmu, sudah lama aku ingin bicara denganmu. Kulempar pandangan ke sekeliling. Cuma ada sedikit orang di sini, dan semuanya sedang disibukkan urusan masing-masing. Mungkin ini momen yang tepat...

Kututup file tugas Metodologi Analisis Mengenai Dampak Lingkungan yang sedang kukerjakan. Laptop kutinggalkan dalam keadaan standby.

Aku mendudukkan diri di sebelahmu. Percakapan kubuka dengan pertanyaan basa-basi yang kamu jawab dengan, “Nggak tau.” Tidak apa-apa, aku juga tidak berharap mendapat jawaban yang memuaskan darimu. Aku cuma ingin bicara denganmu, setelah sekian lama.

Aku pernah sayang kamu...

Lalu hening. Kamu asyik menikmati makananmu, dan aku pura-pura sibuk dengan handphone di tanganku.

“Gue capek,” entah kenapa itu yang keluar dari mulutku. Tapi, ya, aku memang capek. Selanjutnya, kata-kata tidak terbendung lagi keluar dari mulutku. Kamu mendengarkanku, sambil sesekali tersenyum atau mengeluarkan beberapa kalimat tanggapan. Kamu, salah satu pendengar terbaik yang kukenal.

Aku pernah sayang kamu...

Seorang teman datang, kita jadi mengobrol bertiga. Dia malah mengajakku rapat segala. “Gue nggak bisa,” jawabku asal. Untunglah, tidak lama kemudian dia pergi. Seorang teman yang lain datang, sibuk mengangkut barang. Kita jadi mengobrol bertiga lagi. Aduh, kenapa orang-orang ini datang di saat yang tidak tepat? Apakah mereka tidak mengerti kalau aku sedang ingin bicara denganmu, berdua saja?

Akhirnya mereka pergi juga. Sekarang aku tinggal berdua lagi denganmu. Kubuka lagi percakapan kita.

Lalu, “Gue boleh nanya sesuatu nggak?”

“Apa?”

“Gue punya salah nggak sih sama lu?” Akhirnya, pertanyaan yang sudah sekian lama tersimpan dalam hati bisa kutanyakan juga.

Kamu terlihat heran atas pertanyaanku barusan. “Ng... Nggak sih. Kenapa emang?”

Tidak apa-apa, aku cuma merasa kamu berubah. Kamu tidak seperti dulu lagi. Kita tidak seperti dulu lagi. Tapi, syukurlah...

Lalu kita bicara tentang banyak hal. Tentang mimpi, harapan, dan cita-cita. Yang terwujud maupun yang tidak. Tentang idealisme. Tentang kemahasiswaan. Tentang kondisi kampus terkini. Tentang kelulusanmu yang mundur dari rencana semula. Tentang harapan keluargamu. Tentang kebingunganmu. Tentang keegoisanku. Tentang perasaanku. Tentang buku yang pernah kubaca. Tentang rencana ke depan. Tentang beberapa orang yang kita kenal. Makanan di piringmu sudah habis, tapi kamu masih di sini, di sampingku.

Aku senang bisa bicara denganmu, apalagi kebetulan saat ini aku sedang butuh teman bicara. Aku menikmati saat ini. Menikmati keadaanmu yang sempat hilang.

Aku pernah sayang kamu...

Teman-teman mulai berdatangan. Beberapa duduk dan mengajak kita mengobrol. Mungkin waktu kita sudah habis...

Ah, ya, tugasku menunggu untuk diselesaikan. “Makasih. It’s nice talking with you,” aku beranjak dari sampingmu.

Ralat! Aku masih sayang kamu!

7.4.08

Kekalahan yang Menyakitkan

Kami menundukkan kepala di belakang pintu.
“Kita kalah, Ma,” bisikku.
“Kita telah melawan, Nak, Nyo, sebaik-baiknya, sehormat-hormatnya.”

-Bumi Manusia (Pramoedya Ananta Toer), hal. terakhir-


Reaksi pertama
? Nggak bisa menerima kenyataan. :-OBerharap ini cuma mimpi dan aku akan segera terbangun, berharap ada yang salah dan seseorang akan meralatnya.

Selisih suara yang sangat tipis bikin pikiran-pikiran seperti, “Seandainya begini... seandainya begitu... kalau saja begini... kalau saja begitu...” jadi terlintas. Banyak analisa, banyak penyesalan.

Lalu jadi defensif dan ingin menyalahkan orang lain. Aku sudah all out supaya bisa menang di kandang sendiri, padahal pesaing punya banyak orang kuat, aku jadi mesti memeras otak buat mencari celah. Tapi apa semua anggota tim sudah begitu? Rasanya masih ada yang setengah-setengah deh.

Kesal membayangkan semua agenda dan rencana jadi nggak bisa terealisasi. Dan sedih membayangkan nggak bisa bareng lagi sama orang-orang yang selama 1,5 bulan terakhir ini selalu bareng.

Dan yang pasti, kesal membayangkan wajah orang-orang yang kemarin berusaha memprovokasi dan menjatuhkan kami, sekarang pasti sedang tertawa puas!!! U G H ! ! ! Kok bisa ya, ada orang sejahat itu? X(Padahal calonnya kan ada 3, kenapa cuma kami yang selalu diserang? Dan kenapa juga orang-orang di timku terlalu ‘lurus’ dan nggak menyerang balik?

Ini bukan pertama kalinya aku mengalami yang namanya ‘kalah’ atau ‘gagal’, tapi rasanya belum pernah sesakit ini. Mungkin karena dari awal yang terpikir adalah menang, menang, dan menang. Aku sendiri nggak menyangka bisa sampai separah ini: nangis selama 1 hari 2 malam (berhenti kalau capek, habis itu nangis lagi), nggak makan dan nggak tidur dengan layak juga selama 1 hari 2 malam, badan lemas, maag kambuh, mata merah dan bengkak, masih terbawa aura perhitungan suara yang tegang, hati nggak tenang...

Tapi, setelah energi habis, air mata kering, mengikuti saran Hendra untuk ambil air wudhu-salat malam-tilawah buat menenangkan hati (Seumur-umur curhat sama orang, baru kali ini ada yang memberi saran seperti itu. But hey, it works! :)), dan kumpul-kumpul lagi sama tim, akhirnya mulai bisa berpikir positif... Toh calon yang menang adalah orang yang kuanggap teman baik, sama seperti aku menganggap calon yang kudukung. Jadi nggak sakit-sakit banget. Lagipula, pasti ada hikmah di balik semua ini. Let’s think positive. Satu hal yang bikin aku puas, aku berhasil menang di kandang sendiri, and they appreciate me for that. Yah, something bigger might be waiting for me out there...

Lessons learned:

~ God works in His mysterious way. Dia punya rencana sendiri. Hal yang kita anggap baik untuk kita, mungkin sebenarnya buruk. Dan hal yang kita anggap buruk untuk kita, mungkin sebenarnya baik. –Al Qur’an surat Al Baqarah-
~ Segala sesuatu yang dilakukan dengan ikhlas dan disempurnakan dengan totalitas pasti akan memberikan dampak positif untuk diri kita sendiri dan orang lain. –Hendra-
~ Sang juara bukan orang yang selalu berhasil, tapi orang yang belajar banyak dari cobaan kecil. –Bobby-
~ Luruskan niat. Niat kita kan untuk kemahasiswaan ITB, bukan untuk mencari eksistensi atau kekuasaan. Jadi Presiden atau MWA cuma salah satu caranya. Kalau cara ini nggak berhasil, ya cari cara lain, yang penting niat itu bisa terwujud. -Someone di tim, lupa siapa-
~ Di ‘luar’ sana dunia jauh lebih kejam. Banyak yang saling menjatuhkan dan main kotor. I must learn to be tough if I want to survive. Anggap saja ini latihan. –Mama-
~ Kita belajar banyak bukan saat berhasil, tapi justru saat gagal. -Poppy-
~ Kalah menang itu biasa. -Andin, yang kapten tim basket sekaligus tim voli HMTL -
~ Jangan pernah lupa diri dan merasa ‘di atas angin’. Always prepare for the worst.
~ Segala sesuatu yang berlebihan itu nggak baik. Too much love will kill you, won’t it?
~ Jadi orang jangan terlalu ‘lurus’ lah. Kalau dipukul sekali, pukul balik 2 kali! (Lho?)

Terima kasih buat VIP (Very Important Persons) in my life: H E N D R A, A N D I N, dan M A M A. Thanks for being there when I was down. Nggak tahu gimana jadinya kalau nggak ada kalian. I'm so lucky to have you around...

Terima kasih buat Bobby, Gilang, promotor-promotor lain, semua tim sukses, dan nggak lupa 2.154 orang yang percaya memberikan suaranya untuk kami... Walaupun kami belum dapat kesempatan, tapi aku sudah belajar banyak di sini. This is priceless. Dan yang lebih penting, aku dapat sahabat dan keluarga baru... :)



Untuk mengetahui nilai


1 tahun

Tanyakan pada seorang siswa yang gagal dalam ujian kenaikannya


1 bulan

Tanyakan pada seorang ibu yang melahirkan bayi prematur

1 minggu
Tanyakan pada seorang editor majalah mingguan

1 hari
Tanyakan pada seorang buruh harian yang punya 6 orang anak untuk diberi makan

1 jam
Tanyakan pada kekasih yang sedang menantikan waktu bertemu

1 menit
Tanyakan pada seorang yang ketinggalan kereta

1 detik
Tanyakan pada seorang yang selamat dari kecelakaan

1 milidetik
Tanyakan pada seorang yang memenangkan medali di Olimpiade

28 suara alias 0,6% suara
Tanyakan pada orang yang gagal memenangkan Pemilu
:P

20.2.08

Hey, Kamu!!!

Iya, kamu!

Kamu tahu nggak, aku nggak suka orang asing. Aku nggak suka mengobrol dengan supir taksi, pegawai salon yang memotong rambutku, atau orang yang duduk di sebelahku di ruang tunggu travel atau dokter. Biasanya kalau diajak mengobrol duluan, aku akan menjawab seadanya dan nggak balas bertanya, sampai mereka sadar aku nggak mau diajak mengobrol dan nggak bertanya apa-apa lagi. Aku nggak suka memulai pembicaraan dengan teman baru atau ‘temannya teman’, walaupun kadang terpaksa melakukannya. Aku malas datang ke suatu acara kalau tahu akan banyak orang asing. See? I’m just a bit anti-social, I guess.

Terus, kamu tahu nggak, sebagai seorang Capricorn yang melankolis, I’d like everything to be well planned and organized. Aku punya organizer berisi to-do list dan agenda harian. Kuliah pengganti, asistensi, ujian, deadline tugas, deadline artikel, rapat, les, wawancara, sampai janji ketemu teman SMA atau ambil celana di penjahit kutulis di sana. Jam berapa dan di mana, semuanya rinci. I love making plans. Aku nggak suka kalau ada perubahan rencana atau sesuatu yang mendadak.

Pasti kamu nggak tahu. You know nothing about me.

Dan tiba-tiba... Kamu masuk ke duniaku, as a complete stranger, in an unlikely situation, mengintervensi hidupku (bahkan mengubah siklus tidurku), dan mengacaukan rencanaku yang seharusnya berjalan sempurna.

And now I know that...

YOU

ARE

A

J E R K ! ! !

A heartless jerk with a big “J” on your forehead! I should have seen it before!

***

“Nggak usah pakai hati, Dis,” kata orang-orang. Iya, dari awal juga aku sudah berpikir seperti itu, tapi tetap saja... S A K I I I T ! ! ! Huhu... :((

Yeah. Shit happens sometimes.

It’s nice to know that you were there
Thanks for acting like you care
And making me feel like I was the only one

It’s nice to know we had it all
Thanks for watching as I fall
And making me know we were done

-My Happy Ending
(Avril Lavigne)-

Well, thanks for all your sweetnesses (although they might be fake).
Thanks for making me stronger.

I miss you, anyway. I miss your annoying phone calls late in the night, I miss your annoying poetic messages. I do...

16.1.08

Untitled


Walaupun semua sudah usai
Aku masih akan di sini
Mendukungmu, membantumu, juga mendoakanmu
Entah sampai kapan
Entah kenapa
Aku hanya masih ingin di sini
...
-diambil dari cerpen terbaruku, Pengobat Luka-

I mean it...

Setahun Sudah...

How it all started: Greenite* (7 Januari 2007)
Di perjalanan, ada SMS dari Jack.
Dis, dateng Greenite ga? Gue belum dapet Koordinator buat Departemen Publikasi nih, calonnya lu & Rani, gimana ya?
Iya dateng. Ya gue sih terserah lu, jadi Koordinator siap, ga pun gue bakal tetep bantu yang gue bisa.
Ntar kita omongin dulu deh sebelum Greenite. Bisa dateng lebih awal kan?
OK.

Sebelum ke GKU Timur, kami bertiga (aku-Jack-Rani) berunding dulu sekitar 5 menit, yang diakhiri dengan Jack menunjukku dengan tangannya (tanpa bicara apa-apa), lalu kami berjabat tangan.

Ya, begitulah. Serba mendadak dan kilat.

Agak geli juga, aku yang dulu punya 1001 alasan buat menghindar dari himpunan (dari kram perut PMS sampai ada saudara baru datang dari luar kota :^o), sekarang diberi kepercayaan memimpin satu departemen.

Apalagi, ini departemen baru. Tadinya masih jadi satu dengan Departemen Luar Negeri, di bawah Departemen Hubungan Masyarakat. Dan kalau biasanya satu departemen dibagi lagi jadi beberapa divisi atau biro yang masing-masing ada ketuanya, sekarang nggak. Jadi aku mesti mengkoordinir satu tim besar secara langsung. Oh ya, nama departemen ini kuganti (dengan persetujuan yang lain, tentunya) jadi Medkominfo (Media, Komunikasi, dan Informasi) supaya scope-nya lebih luas and simply because it’s cooler. ;)

HMTL v.s Panpel
Awal kepengurusan yang adalah masa sibuk-sibuknya, loyalitasku masih dipertanyakan. Mungkin karena sebelumnya memang nggak terlalu aktif di himpunan. Apalagi aku sedang tergabung di Panpel Pemilu KM. Nggak bisa kutinggalkan begitu saja, at least sampai kampanye calon-calon presidennya selesai. Selain itu, ya memang lagi keasyikan di sana... :P

Alhasil, hal-hal yang harusnya segera kukerjakan malah nggak kukerjakan, bahkan ada beberapa kerjaan yang diambil alih Jack. Ada waktu kosong bukannya ke himpunan, malah ke Sekre Panpel.

Puncaknya, rapat anggota pertama yang membahas progress proker tiap departemen, aku nggak datang. Padahal aku ada di kampus, tapi ada kerjaan di Sekre Panpel. Malamnya Nindi (anak 2005 yang jadi wakilku) menelepon dan ’lapor’: banyak yang mengkritik Medkominfo.

Aku yang jadi merasa nggak enak langsung mengirim SMS ke Jack.
Jack, sorry banget ya kalau Medkominfo belum jalan, sekarang gue lagi fokus ke Panpel. Bukannya nomerduain himpunan, tapi sebelum lu minta bantuan gue jadi BP, gue udah lebih dulu gabung sama Panpel, jadi ga bisa gue tinggal. Habis ini janji deh, gue bakal fokus ke himpunan.:-S

Bukannya menegurku atau menuntutku lebih bisa membagi waktu, dia membalas seperti ini:
OK, semoga sukses ya pemilunya! Semangat Dis!

Wah, rasanya tertampar. Aku sudah diberi kepercayaan, kok aku malah cuek.

Saat itu juga, aku menjadikan HMTL prioritasku. Aku mau total di sini!

Buletin
Agak gemas lihat media yang ada di kepengurusan sebelumnya cuma selembar A4, setiap berita cuma beberapa baris, unsur-unsur beritanya pun (5W + 1H) kadang nggak lengkap.

Di kepengurusan ini, kami punya proker baru: buletin beberapa halaman A5 yang di dalamnya termasuk semua info yang perlu diketahui anak-anak TL, termasuk yang ’nggak penting’ seperti profil anak-anak HMTL (ajang buat narsis nih ;)), yang dikemas dengan apik layaknya buletin betulan. Kami juga cukup niat mencari info dari luar HMTL, misalnya wawancara dengan Presiden KM atau dosen Teknik Kimia.

Jadilah selama setahun ini aku selalu dikejar deadline selain deadline tugas dan laporan yang sebenarnya sudah cukup banyak, karena buletin ini harus terbit setiap 2 minggu (yah, walaupun kenyataannya sering telat terbit sih).

Enviro
Media kebanggaan kami, karena dicetak di kertas yang lux dan full color, distribusinya cukup luas (se-Bandung), dan yang penting: gratis! Di kepengurusan-kepengurusan sebelumnya ENVIRO cuma bisa terbit 1X (aku sempat jadi Editor in Chief salah satu edisinya).

Di kepengurusanku, ENVIRO harus terbit 2X, tapi kualitasnya tetap nggak boleh turun! :-w

Aku masih ingat, sehabis menyampaikan itu waktu muker di rumah Rinta, ada yang bilang (sayangnya aku lupa siapa), ”Ah, paling juga ujung-ujungnya cuma bisa terbit sekali, kaya sebelum-sebelumnya.” Well, siapapun kamu, terima kasih, kata-katamu malah jadi cambuk buatku!

Awalnya sempat down karena susah dapat orang yang benar-benar mau dan mampu jadi pemimpinnya. Alhasil, terbentuknya full team pun molor. Sempat khawatir juga masalah danus, karena dulu waktu aku jadi Editor in Chief, susaaah... banget dapat sponsor (yah, mungkin karena caranya salah juga sih). Untung masalah danus bisa dibilang relatif mulus, malah surplusnya bisa menyubsidi proker lain. Kalau dilihat dari segi content dan tampilan juga jauh lebih baik dibanding sebelumnya (ini bukan cuma opiniku lho). Wah, bangga banget rasanya waktu lihat Enviro edisi 4 fresh from the oven! :)

Sayang, edisi 5, aku merasakan semangat dan kinerja tim menurun. Mungkin karena sudah capek, ditambah banyak proker lain yang mepet-mepet.

Selain itu...
Dan nggak lupa kerjaan-kerjaan rutin lainnya seperti mengurus e-mail, mailing list dan website, mengurus mading, mewakili HMTL di forsil-forsil, bikin publikasi ini itu, yah intinya mengurus segala hal yang berhubungan dengan media, komunikasi dan informasi, sesuai namanya.

Ujian datang waktu liburan, karena lagi banyak-banyaknya yang mesti dikerjakan dan orang-orang 'menghilang' KP atau pulang kampung. Aku sempat jadi PJS juga waktu Jack pulang kampung.

Dapat Magangers
Di saat aku merasakan flow anggota mulai turun (mungkin sudah jenuh dengan kerjaan rutin yang itu-itu saja), senang rasanya dapat 18 orang magangers (angkatan 2006). Jumlah ini lebih banyak dari prediksiku. Rasanya seperti dapat suntikan darah segar. Apalagi magangers ini kadang malah lebih semangat dari senor-seniornya (ck... ck...)

Belajar Jadi Pemimpin
”Kalau nggak sekarang belajar memimpin, kapan lagi?” Kata-kata ini kukutip dari mantan Ketua HMTL yang dulu.

Ya, benar juga. Aku punya mimpi: aku mau jadi pemimpin besar! Bukan jadi anggota, bukan jadi staf, tapi harus jadi pemimpinnya!

Kalau nggak belajar sekarang, kapan lagi, ya nggak?

Dan akhirnya...
Gemuruh persatuan di jiwa
Erat lekat membara di dada
Menghujam penyerang
Mencabik penindas
Keadilan harus ditegakkan
Gemuruh!

Entah sudah berapa kali aku mengepalkan tangan dan menghentakkan kaki, meneriakkan yel-yel khas HMTL itu. Tapi baru kali ini aku berdiri bersama BP lainnya dan diberi gemuruh oleh massa HMTL yang lain. Rasanya? Unspeakable... :

LPJ kami (akhirnya) diterima #:-S Nggak terasa sudah setahun. Padahal rasanya masih banyak mimpi yang belum terwujud, masih banyak yang ingin kulakukan. Ah, setahun yang sangat menyenangkan...

Terima kasih buat semua teman-teman Medkominfo, BP, BPA, dan tim Enviro. It was really nice working with you, guys... Terima kasih untuk setahun yang sangat berarti. Terima kasih buat Jack atas… segalanya. Dan terima kasih buat HMTL yang sudah jadi rumah dan keluarga keduaku. Kayaknya nggak akan ketemu lagi organisasi atau komunitas seperti HMTL. I’m gonna miss this all… :((


*Greenite: acara serah terima kepengurusan di HMTL

16.12.07

Cerita Hari Ini

LPJ akhir tahun ditunda. Kuota 100 orang anggota nggak terpenuhi.

Kesal rasanya. 3 minggu terakhir aku kerja ekstra keras dari biasanya: membereskan proker yang tersisa, merekap kerjaan selama setahun, menganalisis hasilnya, rapat sama staf, rakor BP... Tapi, aku juga nggak mau kalau pertanggungjawabanku cuma disaksikan 70an anggota (jumlah yang datang hari ini).

Kultur, lagi-lagi yang dijadikan kambing hitam. "Mau gimana lagi, HMTL dari dulu emang kaya gini." Aduh, kok pasrah banget sih.

Setelah rapat ditutup (keputusannya: LPJ ditunda sampai Januari), di tengah-tengah massa himpunan yang masih berkumpul di ruangan 9009, tiba-tiba datang perasaan ingin menangis yang sama sekali nggak ada hubungannya sama LPJ atau himpunan.

Bingung. Sayang. Sebal. Nggak yakin. Takut. Khawatir. Bingung. Ingin semua berakhir. Nggak mau semua berakhir. Bingung. Sayang. Sayang BANGET.

Bingung.

And I'd give up forever to touch you
'Cause I know that you feel me somehow
You're the closest to heaven that I'll ever be
And I don't want to go home right now

And all I can taste is this moment
And all I can breathe is your life
'Cause sooner or later it's over
I just don't want to miss you tonight
-Iris (Goo Goo Dolls)-

Lagu ini pernah ku-post sebelumnya, tapi kali ini bagian yang di-bold beda. Lagu ini, selalu jadi lagu yang tepat kalau suasana hati lagi mellow seperti hari ini.

It's over means it's over, but I don't want it's over. Not now. Please tell me, it's not over yet...

15.11.07

Hore... Blog Baru!

Let me call myself... a journalist and writer in progress. Karena selama ini tulisan-tulisan yang pernah kubuat kurang terarsipkan dengan baik, jadi aku bikin blog ini khusus buat tulisan-tulisanku yang bersifat feature dan yang sudah pernah dipublikasikan. Ada juga cerita di balik setiap tulisan. Buka ya!!!

5.10.07

Hmm...

Hanya ada kami berdua di ruangan yang biasanya selalu ramai itu. Malam memang sudah larut. Dan kami masih saja meneruskan diskusi kami, dengan notes yang sudah dipenuhi berbagai catatan ini-itu di hadapan kami. Ah, kalau bukan dia, pasti aku sudah memilih untuk pulang... Beberapa kali tangan kami tidak sengaja bersentuhan, mengirimkan getaran-getaran aneh ke dadaku. Atau tatapan matanya yang tajam bertabrakan dengan mataku. Aku sudah tidak bisa berkonsentrasi lagi pada kata-katanya tentang rencana organisasi ke depan. Dia sadar tidak ya, dari tadi aku memperhatikannya? Dia malah beberapa kali sengaja menyentuh bahu atau kakiku saat bercanda. Tidak tahukah dia, itu membuat jantungku berdegup lebih kencang? Sekarang dia mendekat, untuk melihat notes yang sedang kutulisi. Wajahnya cuma beberapa senti dariku. Aku sampai bisa mencium aroma maskulin tubuhnya. Ah, tapi dia memang selalu wangi... Aku sudah tidak tahan lagi. Kuulurkan tanganku untuk menyentuh wajahnya. Dia nampak terkejut karena perbuatanku yang tiba-tiba itu. Aku tetap menatap ke dalam matanya. Lalu, pelan-pelan sekali, aku mendekatkan wajahku padanya. Dia juga mendekatkan wajahnya pelan-pelan. Bibir kami mulai bersentuhan. Hmm... bibirnya terasa lembut di bibirku. Nikmat. Tanganku mulai menyusuri setiap senti rambut ikalnya, lehernya, bahunya, dadanya yang bidang... Lalu kubuka kancing kemeja lengan panjangnya satu per satu. Aku membiarkan tangannya menyusup masuk ke dalam t-shirt-ku. Nafas kami mulai tidak beraturan. Pelan-pelan, kudorong tubuhnya sampai terbaring di lantai. Dia merengkuhku ke dalam pelukannya. Hangat. Sekarang aku sudah berada di atas tubuhnya. And the rest is history...

Gawat, gawat, gawat. Kenapa setiap ada dia, pikiranku selalu ke arah 'sana'? Padahal lagi puasa!

 
design by suckmylolly.com