24.10.10

RESIGN


Apa pekerjaan impian kamu?

Kalau ditanya begitu, saya akan menjawab malu-malu, sebab... umm... pekerjaan impian saya agak sulit diwujudkan. Pekerjaan impian saya adalah rock superstar! Pakai contact lense ala Marylin Monroe, bikin lirik lagu soal penguasa yang lalim, dan makan kelinci hidup-hidup di atas panggung. Pekerjaan impian saya yang lain adalah agen rahasia! Seperti Mrs. Smith atau tiga bidadari Charlie yang mahir memainkan pistol and kick some guy's ass sambil pakai stiletto. Cool banget nggak sih? ;;)

No, seriously.

Pekerjaan impian saya, dari dulu adalah wartawan. Saya ingin tulisan saya dibaca orang dan dijadikan rujukan, seperti Leila S. Chudori yang resensi filmnya terkenal tajam atau Ninok Leksono yang spesialis artikel sains. Saya ingin dikirim meliput peristiwa penting dari berbagai belahan dunia, seperti Meutya Hafid yang sempat disandera tentara Mujahidin segala. Saya ingin jadi pemimpin redaksi sekaligus penulis seperti Fira Basuki. Kalau itu, nggak terlalu sulit kan? ;;)

Just thought you should know, ini skema cita-cita saya setelah lulus kuliah:
1. Kerja di majalah lifestyle franchise, seperti Cosmopolitan atau Elle setahun.
2. Setelah itu kerja di koran/majalah berita, seperti Kompas atau Tempo satu-dua tahun.
3. Setelah itu kerja di stasiun TV berita, seperti Metro TV atau TV One sampai pensiun dan punya anak-cucu.

Dua pertama, alhamdulillah, sudah tercapai. Dan jangan dikira itu gampang.

Tapi toh akhirnya saya bisa menjalani pekerjaan impian saya. Seperti kata Confucius, "Choose a job you love, and you will never have to work a day in your life," saya memang nggak pernah merasa sedang "bekerja". Saya bebas bangun siang. Bebas pakai celana jeans dan sepatu Converse yang sama belelnya. Bebas nongkrong di food ourt Sarinah atau Taman Surapati sambil mengetik berita di saat orang lain mungkin sedang bosan-bosannya di kantor (Well, siapa butuh "kantor" kalau saya bisa bekerja dari BB atau laptop?). Bebas nongkrong bareng sesama wartawan sambil ngobrol ngalor ngidul dan merokok di pressroom, kantor polisi, bahkan pinggir jalan tanpa harus jaim.

Saya geli sendiri melihat teman-teman sekos yang kerja kantoran, yang harus bangun pagi dan berurusan dengan drama seperti, "Mana seragam gue yang mau disetrika? Mana bahan presentasi gue? &^%$#@$%^*&". Saya cuma bisa tersenyum sarkas membaca tweet orang-orang yang mengeluh soal pekerjaannya dan menunggu-nunggu datangnya weekend.

Ah, terlalu banyak cerita selama sembilan bulan jadi wartawan. Mungkin nanti saya akan bikin satu post khusus saja soal ini. :)



Lalu... apa? Setelah mimpi terwujud, lalu apa? Benarkah itu yang terbaik untuk kita? Akankah kita setia pada satu mimpi yang sama? Atau, bagaimana kalau kita terbangun dari mimpi dan mendapati ada realita di luar sana?

***

Siang itu, sehari setelah kaki saya terkilir (gara-gara bengong waktu turun dari metromini, ah sudahlah itu nggak penting :D), saya nggak liputan ke lapangan dan menghabiskan waktu di kantor saja. Redaktur Metro yang bertubuh tambun dan bertato itu memanggil saya ke mejanya. Dia lantas bertanya, apakah saya mau jadi wartawan sampai jangka waktu lama.

Saya bingung menjawabnya. Waktu itu saya masih jadi -meminjam istilah Radix- jurnabil alias jurnalis labil. Yah, saya akui masa-masa awal jadi wartawan memang sulit untuk saya. Dan mungkin redaktur itu sedikit-banyak bisa membacanya.

"Kamu tahu nggak, wartawan yang hebat itu yang gimana?" tanyanya kemudian.

"Nggak tau, mas."

"Wartawan yang hebat itu wartawan yang mencintai pekerjaannya, lalu berhenti jadi wartawan."

"Lho, kok malah hebat?"

"Ya hebat dong. Berarti kan dia mengorbankan hal yang dia suka. Misalnya begini, dia sebenarnya suka jadi wartawan, tapi gaji wartawan nggak cukup. Jadi dia pindah kerja ke tempat lain yang gajinya lebih besar. Atau begini, dia sebenarnya suka jadi wartawan, tapi susah ketemu keluarga dan anaknya karena jam kerja wartawan yang nggak jelas, nggak bisa diprediksi. Jadi dia cari kerjaan lain yang lebih teratur. Pasti berat sekali rasanya."

***

Kata-kata itu, saya jadikan salah satu pertimbangan sebelum resign. Per 1 Oktober ini. Dan pindah kerja ke... bank.

Sebenarnya itu bukan pekerjaan impian saya, tapi kalau saya pikir sekarang, berapa banyak sih orang di dunia ini yang bisa menjalani pekerjaan impiannya? Coba tanyakan pada mereka yang mesti berdiri tegap sepanjang hari di depan gerbang kedutaan besar yang menjulang angkuh, atau mereka yang mesti menyapu jalan dari dedaunan di siang yang terik. Apa itu pekerjaan impian mereka? Atau kalau mau lebih ekstrim lagi, coba tanyakan pada mereka yang menjual tubuhnya. Apa itu pekerjaan impian mereka? Saya pikir, hidup bukan hanya tentang mewujudkan mimpi, tapi juga, lebih penting dari itu, tentang mengambil pilihan. Tentang memanfaatkan kesempatan yang ada. Tentang bersyukur. Lalu melanjutkan hidup.

Jadi, dengan berbagai pertimbangan (dari yang paling dangkal seperti "Saya ingin kantor yang memungkinkan saya pakai high heels dan make up." sampai yang paling ambisius seperti "Saya ingin gaji yang cukup buat nyicil rumah sekian tahun lagi."), saya memutuskan untuk... RESIGN.

Sekarang saya tahu bahwa mewujudkan mimpi sama sekali nggak gampang, tapi melepaskannya jauh lebih nggak gampang lagi. Sekarang saya juga tahu bahwa, ibaratnya berperang, untuk terus berjuang atau mundur sama-sama butuh keberanian. Sebab kadang, mundur bukan berarti kalah, tapi mengalah untuk kebaikan. For a greater good.





(Ngomong-ngomong soal resign, saya jadi penasaran, bagaimana ya perasaaan orang lain waktu resign. Resign saya kemarin cukup heboh. Saya nangis di kantor, di meja redaktur yang sama, sebelum "diculik" teman-teman seangkatan ke tempat nongkrong kami di bilangan Langsat. Dan masih nangis sampai tiga hari berikutnya. :D)

13.8.10

Ya Sudahlah...

Ketika mimpimu yang begitu indah tak bisa terwujud
Ya sudahlah
Saat kau berlari mengejar anganmu dan tak pernah sampai
Ya sudahlah
-Ya Sudahlah (Bondan Prakoso feat. Fade 2 Black)-

Mungkin saya sudah ratusan kali mendengar lagu itu. Di radio, di mall, di winamp komputer seseorang di kantor... Tapi baru tadi, seorang pengamen memilih posisi persis di sebelah kursi yang saya duduki di metromini, untuk memetik kunci gitar lagu itu. Saya mau tidak mau jadi ikut menyimak liriknya.

Dan... saya suka! :) Saya suka empat bait pertamanya. "Ya sudahlah." Dalam hidup, mungkin memang ada kalanya kita perlu mendengarnya dari mulut orang lain. Bukan sampah semacam "Kamu pasti bisa melakukannya" atau "Semuanya akan baik-baik saja". Mungkin memang ada kalanya kita kembali diingatkan untuk menapak tanah. Mungkin memang ada kalanya kita perlu rehat sejenak, setelah kaki ini letih berlari.

Ngomong-ngomong, seminggu yang lalu, saya baru ditampar oleh dua peristiwa, bahwa tidak semua mimpi bisa terwujud.

Tapi... ya sudahlah... (Selain malas mengungkit-ungkit lagi, juga malas mengetik. Sudah hampir jam 3 pagi ini... :D :D :D)

Dan Kita Bicara Tentang Mimpi...

"Kamu pernah nggak, mimpi jadi penyanyi?" tanyamu malam itu. Matamu tidak lepas dari panggung La Piazza, Kelapa Gading walaupun sang biduan wanita sudah turun, melangkah tergesa sambil mengenakan jaket di atas gaun pendeknya untuk melawan dingin malam. Yang tersisa tinggal beberapa teknisi membereskan kabel-kabel dan alat musik.

Dari binar matamu saja pun aku tahu, kamu ingin kamulah yang ada di atas panggung itu. Berteriak, berjingkrak. Bersinar. Menyerap energi dari gemuruhnya penonton yang terbius olehmu. Mendengar namamu dielu-elukan. Untuk sesaat, merasa menjadi raja dunia.

"Nggak pernah. Aku kan mimpinya jadi penulis," jawabku. "Tapi aku ngerti kok mimpi kamu."

Dan tanganmu pun semakin erat di pinggangku.





Baru empat bulan yang lalu, tapi kenapa rasanya sudah lama sekali ya?

2.7.10

Mencoba Menyapa

Percakapan di BBM...
Saya : Oi... Pa kabar, bos?

Saya : Domisili masih di ***?
Dia : Baik
Dia : Iye masih di *** aja
Saya : Masih kerja di ***?
Dia : Yup, masih
Saya : Okeee sukses deh...
Dia: Sukses juga


Harusnya saya tanya saja:
Kenapa Brazil bisa kalah dari Belanda di perempat final?
Apa yang harus dilakukan Kapolri untuk mengusut kasus rekening gendut perwira polisi?
 
Bagaimana kenaikan TDL akan memengaruhi pelaku UKM?
 
Mungkin kalau begitu, dia akan menjawab lebih dari satu-dua kata :D

***

Sudah setahun berlalu sejak saya memohon kamu untuk mengerti, sudah setahun berlalu sejak saya menangis di bahu kamu, sudah setahun berlalu sejak kita sama-sama menanggalkan jaket himpunan dan jaket almamater, saya sudah berganti-ganti pekerjaan (dari konsultan, desainer grafis amatiran, penulis lepas, sampai wartawan), saya sudah sempat melanjutkan kuliah (dan berhenti di tangah jalan), saya sudah mencoba menjalin hubungan dengan dua orang yang berbeda, ternyata kamu masih menganggap saya tidak ada.

Lebih baik kamu caci-maki-marah-marah-bentak-bentak saja saya. Saya akan merasa mendingan. Serius, deh.

23.6.10

Tentang Insomnia

Insomnia adalah gejala kelainan dalam tidur berupa kesulitan berulang untuk tidur atau mempertahankan tidur walaupun ada kesempatan untuk itu. Gejala tersebut biasanya diikuti gangguan fungsional saat bangun. Insomnia sering disebabkan oleh adanya suatu penyakit atau akibat adanya permasalahan psikologis. Dalam hal ini, bantuan medis atau psikologis akan diperlukan.
-
Wikipedia-

Insomnia saya tidak sembuh-sembuh sudah sebulan lebih.

Sebelum ngekos di Jakarta, saya tipe orang yang menganggap pulang di atas Maghrib itu kemalaman, dan sudah ganti piyama-sikat gigi-pakai krim malam-berbaring manis di kasur jam 9.

Oh, well, dunia ini dan segala isinya memang berubah. Sekarang saya malah kagok kalau masuk kos sebelum jam 9. Sekarang saya belum bisa tidur kalau jarum jam belum menunjuk angka 2 atau 3. Bisa sih, tapi jadinya saya terbangun terus-terusan. Percaya deh, terbangun tengah malam hanya untuk merasakan sendirian di kamar kos 3 x 5 meter itu... ngelangut. Hasilnya? Saya selalu melewatkan Salat Subuh, terburu-buru ke lokasi liputan (syukur-syukur dapat proyeksi liputan siang), dan rasanya seperti jetlag sepanjang hari.

Izinkan saya menyalahkan jam kerja wartawan yang serba tidak jelas, belum lagi kalau kebagian piket malam. Sekarang orientasi waktu saya jadi kacau begini. :(

Berbagai usaha sudah saya coba untuk menunggu kantuk:
Baca, sudah.
Blogwalking, download lagu, main looklet atau polyvore, sudah. (Sayangnya, saya sedang tidak tertarik pada semua situs social networking)
Beres-beres kamar, sudah.
Merokok sendirian di kamar, sudah. (Yang akhirnya saya sesali karena kamar saya jadi bau asap. Baunya nggak hilang-hilang, huh!)
Sit up di kasur, dengan harapan besok paginya perut saya sudah rata, sudah.
Melanggar komitmen dengan menelepon atau meng-SMS kamu setiap setengah jam sekali, memastikan kamu baik-baik saja (di manapun sedang apapun bersama siapapun), dan menceritakan sedikit hari saya (entah kamu benar-benar mau tahu atau tidak), tentu saja sudah.

Lucunya, kalau ada orang lain, saya jadi bisa tidur. Waktu pulang ke Bandung, raker kantor di Puncak, liputan di Savoy Homan, ke rumah Eyang Semarang, saya selalu jadi yang tidur duluan dan bangun belakangan. ;p

A-ha! Timbul ide untuk mengajak teman-teman sekos pajamas party di kamar saya. Hihihi... lucu juga melihat mereka gotong-gotong kasur, bantal, dan selimut masing-masing. Kadang, saya menginap di tempat teman kalau malas pulang ke kos. Saya tidak mau tidur sendirian.

Dan, kadang, kalau semuanya sedang baik-baik saja dan setan bertanduk di kiri saya mengalahkan malaikat berhalo di sisi kanan, saya akan memilih untuk menghabiskan malam bersama kamu. Kamu selalu tidur duluan. Tangan kamu melingkar di perut saya, nafas kamu yang pendek-pendek terasa hangat di tengkuk saya. Dan saya selalu sok tidak mengantuk. Tapi lama-lama saya menyerah dan ikut tidur pulas di samping kamu. Selalu begitu.

Mau tahu perasaan paling membahagiakan di dunia? Bukan ketika berhasil mendaki puncak gunung tertinggi atau meraih medali emas (padahal saya belum pernah juga sih... ;p), tapi ketika melihat orang yang kita sayang sebelum menutup mata, dan melihatnya lagi ketika membuka mata.





Huff, insomnia ini membunuh saya pelan-pelan...

21.6.10

Minggu Pagi di Victoria Park yang Serba Realistis


Judul: Minggu Pagi di Victoria Park
Sutradara: Lola Amaria
Pemain: Lola Amaria, Titi Sjuman, Donny Damara, Donny Alamsyah
Produksi: Pic[K]Lock Productions

 
Saya sedang jenuh pada film-film berlatar dunia antah berantah yang mengumbar efek spesial yang memanjakan mata, berbiaya fantastis, tapi ketika keluar dari bioskop tidak meninggalkan kesan mendalam. Saya rindu film berlatar biasa saja tentang orang biasa saja. Film Indonesia, terutama.

Ah, tapi seandainya tidak begitu pun, nama Titi Sjuman yang didapuk jadi salah satu pemain utama sudah jadi alasan cukup kuat untuk menyeret saya menonton Minggu Pagi di Victoria Park. Sejak Mereka Bilang, Saya Monyet!, boleh dibilang saya jadi fans beratnya. ;)

Ketika tahu ini film soal TKW, yang terpikir oleh saya adalah: aduh, kasihan Titi Sjuman. Nanti pasti dia harus berakting dipukuli majikan, disetrika, disiram air panas... Tapi majikan (setidaknya yang ditampilkan dalam film ini) ternyata baik-baik tuh.

Oh, ternyata... itu sih TKW Arab. Sedangkan TKW Hong Kong masalahnya "hanya" seputar terjerat hutang sampai-sampai dicekal tidak bisa pulang ke negeri asal, luntang-lantung di negeri orang, dijadikan sapi perahan keluarga di kampung halaman, dan gegar budaya.

Saya memang bukan kritikus film profesional, tapi sebagai seorang penikmat film amatir, saya menilai film ini "pas". Ibarat makanan, ia tidak pedas, tidak kemanisan atau keasinan, tapi juga tidak hambar. Realistis lah. Tidak ada yang dramatis bak sinetron, bahkan ketika salah satu tokohnya baru saja bunuh diri. Tidak terlalu banyak polesan dari segi sinematografi ala film-film surealisme.

Mata saya terhibur melihat pemandangan pasar tradisional, deretan pertokoan, dan pelabuhan Hong Kong. Tapi pemandangan utama film ini tetap para TKW dengan anting besar berwarna mencolok dan rok mini, mengobrol dengan logat medok di Victoria Park. Kadang diselipi Bahasa Inggris yang tidak tepat. Sebuah Indonesia mini versi mereka.

Lola Amaria sudah tidak diragukan lagi sebagai sutradara. Tapi, maaf-maaf saja, saya terganggu sekali dengan aktingnya sebagai Mayang. Saya terganggu melihat tampangnya yang merengut terus dari awal sampai akhir film, saya terganggu mendengar logat Jawanya yang tidak pas. Duh! Mending merem dan menutup telinga saja deh kalau dia muncul!

Satu lagi, walaupun akting Donny Alamsyah sebagai Vincent sangat bagus, tapi rasanya kalau tokoh itu dihilangkan tidak akan memengaruhi cerita. Vincent yang rela jatuh bangun membantu Mayang -lalu jatuh cinta pada Mayang- tanpa alasan yang jelas malah jadi mengobrak-abrik logika cerita. Bilang saya sinis, tapi dari dulu saya memang tidak suka kisah tentang "upik abu buruk rupa yang mendapatkan pangeran tampan berkuda putih". Klise.

Sedangkan akting Titi Sjuman sebagai Sekar, baik waktu jadi gadis desa lugu yang baru berangkat jadi TKW, maupun waktu terpaksa merelakan keperawanannya di Hong Kong, pas sekali. Sayang, tokoh ini kurang dieksplor untuk menciptakan keterikatan emosional dengan penonton. Dari awal penonton sudah diberi tahu, si Sekar ini terjerat hutang, tapi yaa... terus kenapa?

Sesungguhnya, adegan klimaks film ini adalah epilog yang menampilkan potongan-potongan adegan pelatihan TKW, disertai narasi tertulis. Pesannya kena.

Maju terus film Indonesia! Hmmm, habis ini, Tanah Air Beta kayaknya bagus nih...

5.6.10

Menyelami Kehidupan Wartawan Lewat 9 dari Nadira


Judul: 9 dari Nadira
Penulis: Leila S. Chudori
Penerbit: Kepustakaan Populer Gramedia (cetakan pertama Oktober 2009)


Inikah hari terbaik bertemu dengan-Mu.”
“Kami menemukan sosok yang telentang bukan karena sakit atau terjatuh, tetapi karena dia memutuskan: hari ini, aku bisa mati.”

Leila S. Chudori sudah membuka halaman pertama bukunya dengan sesuatu yang biasanya menjadi klimaks: kematian. Tokoh Ibu memilih mati bunuh diri. Tema yang masih jarang diangkat penulis Indonesia, sementara penulis kawakan Jepang, Haruki Murakami sudah lama memakainya di Norwegian Wood.

Lantas kita digiring memasuki konflik psikologis tokoh-tokohnya yang amat rumit. Nadira Suwandi bungsu dari tiga bersaudara. Ia wartawan majalah berita Tera. Ayahnya, Bram Suwandi, mantan wartawan senior yang bergulat dengan post-power syndrome, berasal dari keluarga sederhana fanatik Islam. Ibunya, Kemala Suwandi yang liberal, berasal dari keluarga pengusaha yang sekuler dan dekat dengan penguasa. Setiap kali keluarga besar Suwandi salat berjamaah, Kemala cukup ambil bagian dengan duduk di shaf terbelakang menggenggam seuntai tasbih (tasbih ini kelak jadi bagian penting dalam hidup Nadira). Si anak sulung, Nina Suwandi , amat perfeksionis dan “terancam” dengan keberadaan Nadira yang sejak kecil sudah menulis cerpen dan digadang-gadang sebagai penerus ayahnya. Nina dan Nadira tak pernah akur. Si anak tengah, Arya Suwandi, hmm... ibarat semangkuk es campur, Arya pastilah air mineral yang menetralkan semua. Ia kelewat “normal” di tengah-tengah keluarga Suwandi. Arya bandel, tapi juga yang paling religius di antara dua saudaranya.

Sayang, pembangunan plot dan penokohan yang sudah kuat di awal jadi mengendor di tengah. Buku ini jadi tak ubahnya kisah cinta biasa. Ah, bukankah kita sudah bosan dengan tema sejenis? Meskipun Leila tetap menghadirkannya dengan apik.

Kisah cinta itu hadir lewat sejumlah tokoh: Utara Bayu, Kepala Biro yang dingin dan punya hubungan tarik-ulur dengan Nadira; Kris, Desainer yang diam-diam menaruh perhatian pada Nadira; Niko Yuliar, mantan aktivis yang sempat menikah dengan Nadira sebelum akhirnya bercerai; Gilang Sukma, suami Nina yang mencoba menggoda Nadira; Marc Gillard, seseorang dari masa lalu; hingga sosok Panji (atau Kirana?) yang membawa Nadira pada dunia seksualitas yang tak pernah disentuhnya.


“Bisakah kita beberapa saat terlupa. Siapa engkau, siapa aku. Siapa malam, siapa siang. Siapa perempuan, siapa lelaki. Bisakah kita membebaskan diri. Dari semua nama-nama yang membatasi tubuh ini. Bisakah kita bergerak mengikuti hasrat?”

Leila S. Chudori kini menjabat Redaktur Senior di Tempo. Resensi filmnya yang terkenal tajam merupakan rubrik kedua yang saya baca setiap majalah Tempo terbit (setelah Laporan Utama, tentunya). Mungkin karena sekarang saya juga bekerja di Tempo, nuansa ketempoan sangat kental terasa di sini. Beberapa bagian rasanya begitu familiar: hiruk pikuk para Reporter, Redaktur, dan Desainer di kantor, Pemimpin Redaksi yang penyair, makan malam istimewa setiap tanggal 28 (karena tanggal 28 adalah sehari setelah tanggal 27, hehehe…), sampai rooftop tempat berkumpulnya para staf redaksi.

Banyak yang meyakini, Nadira sesungguhnya merupakan representasi Leila sendiri. Terlalu banyak kemiripannya untuk disebut kebetulan: sama-sama wartawan majalah berita, kuliah di Kanada, putri wartawan senior, bungsu dari tiga bersaudara, sudah menulis cerpen sejak kecil, dan punya anak tunggal. Mengenai Tera merupakan representasi Tempo, ini diakui Leila dalam ucapan terima kasihnya.

Yang jelas, sama seperti Jika Kami Bersama-nya Superman is Dead yang saya putar berulang kali dan saya jadikan ringtone, buku ini salah satu muse saya. Ketika harus melewati masa-masa sulit itu, memanggul ransel keluar masuk kantor polisi, saya membayangkan Leila juga harus seperti itu di awal karier jurnalistiknya (dalam kisah ini, Nadira memegang rubrik Hukum dan Kriminal). Kalau Leila bisa, kenapa saya tidak? :)

Dengan kepiawaiannya merangkai kata, Leila menjadikan buku ini sama sekali tidak membosankan. Tidak semua kisah di buku ini menggunakan sudut pandang Nadira, tapi juga Bram, Kemala, Nina, dan Kris (lengkap dengan coretan sketsanya). Juga, Leila menunjukkan kekayaannya akan referensi budaya: mulai dari filsuf Perancis Simone de Beauvoir sampai sastrawan Virginia Woolf yang tewas mengenaskan, mulai dari legenda Panji Semirang sampai Freddy Mercury-nya Queen disebut-sebut dalam buku ini. Bahkan di ucapan terima kasihnya, Leila juga menyebut band indie masa kini, Everybody Loves Irene dan The Trees and the Wild menemaninya selama masa penulisan!

Similar to: 
  • Norwegian Wood (Haruki Murakami), The Virgin's Suicide (Jeffrey Eugenides), The Catcher in the Rye (J. D. Sallinger). Satu kata yang mewakili semua buku itu: gloomy. Sepertinya Leila memang menjadikan J. D. Sallinger salah satu inspirasinya, terbukti dengan seringnya nama penulis itu disebut. 
  • Karya-karya Djenar Maesa Ayu yang feminin dan sering menampilkan tokoh ibu sebagai sentral konflik.
  • Film seri Dunia Tanpa Koma, yang skenarionya juga ditulis oleh Leila. Beberapa bagian di buku ini penggambarannya terlalu "sinetron". Percayalah, suasana saat rapat redaksi maupun mewawancarai narasumber tidak sedramatis itu kok. Dan setiap tokoh Utara Bayu muncul, yang langsung terbayang adalah Tora Sudiro yang berkemeja rapih dan klimis, yang terlalu gimanaaa gitu untuk jadi wartawan. :D

Rating: 5/5

26.5.10

Sekolah Kehidupan Bernama Metro Jakarta Utara

Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta Utara

Saya ingat sekali, sore itu saya baru melangkah keluar dari kos (yang baru saja diisi perabot itu) ketika telepon itu masuk. Sayangnya saya lupa siapa yang menelepon, yang pasti tulisan yang muncul di layar BB saya adalah "kantor".  

Adisti, kamu ditempatin di Metro Jakarta Utara, ya. Kamu pegang berita perkotaan, tapi kamu harus siap cover kriminal juga sekali-kali. Wartawan-wartawannya biasa nongkrong di warung samping polres. Kenalan dulu aja. Nanti kalau sempet mampir ke polsek-polsek, ke kantor walikota, bla bla bla... 

Aduh, aduh. Sekeliling saya seketika gelap rasanya.

Okelah, jadi wartawan memang cita-cita saya sejak dulu. Tapi yang saya bayangkan soal profesi ini adalah: wawancara eksklusif sama menteri siapalah, ikut perjalanan dinas presiden ke manalah, investigasi soal korupsi di lembaga apalah... Bukannya nongkrong di kantor polisi atau lari-lari meliput kerusuhan.

Metro, merupakan satu desk yang dianggap momok, bahkan bagi reporter senior sekalipun. Beda dengan para reporter Desk Ekonomi dan Bisnis yang sering menghadiri undangan liputan di hotel bintang lima, pulang membawa sekantung goodie bag, dan bergaul dengan para dirut; atau para reporter Desk Nasional yang berkeliaran di tempat-tempat kebijakan negeri ini dibuat dan bisa sedikit menyombong, "Kemarin Menteri A telepon saya, klarifikasi soal kasus yang itu.", para reporter Desk Metro harus siaga 24 jam sehari 7 hari seminggu kalau-kalau ada kerusuhan, kebakaran, banjir, bom meledak, atau apalah. Juga harus selalu mobile keliling pos liputannya, kalau-kalau di pelosok sana ada ibu yang membunuh anak kandungnya, atau di ujung sana ada gedung SD yang mau roboh.
 


Dan Jakarta Utara, bukanlah pusat pemerintahan dan bisnis seperti Jakarta Pusat atau Selatan. Jakarta Utara, dalam bayangan saya, adalah daerah pelabuhan dan industri yang "keras". Tempat kejadian kriminal tumpah ruah. Panas, semrawut.

O O O O O H H H . . . W H Y M E , G O D ? ? ?

***

Long story short,
setelah tiga bulan, setelah semua orang bilang, "Dis, lo kurusan dan iteman.", setelah berbagai versi surat pengunduran diri yang akhirnya cuma jadi draft, ternyata saya belajar banyak dari hal yang tadinya amat saya benci. Saya belajar bahwa dunia nyata, ternyata, tidaklah manis dan berwarna-warni bak gulali.

Rasanya semua yang saya pelajari selama kuliah empat tahun lebih, semua idealisme semasa meneriakkan Salam Ganesha bla bla bla itu, semua mimpi masa kanak-kanak, semua tidak ada artinya lagi. Ya, inilah dunia nyata. Selamat datang di dunia nyata. Tidak ada silabus, tidak ada textbook, tidak ada kelas. Tidak ada jadwal ujian karena sepanjang saya bernafas dan membuka mata adalah ujian.

Saya belajar dari pedagang asongan buta huruf yang didakwa sebagai pengedar ganja.
Dari pensiunan petugas pemadam kebakaran yang nyawanya hilang ketika melawan kebakaran besar di pabrik sandal.
Dari bocah lima-enam tahunan yang mengacungkan celurit dan (merasa) mengerti tentang jihad.
Dari guru SMP yang memaksa saya menerima "amplop".
Dari penjaja kerang hijau yang keukeuh berjualan walaupun Teluk Jakarta, tempatnya membudidayakan kerang jelas-jelas sudah dinyatakan tercemar Merkuri.
Dari buruh bongkar muat pelabuhan yang terkatung-katung setelah di-PHK.
Dari kakek yang cucunya meninggal karena ledakan tabung gas tepat di hari ulangtahunnya yang keenam.
Dari tukang becak dan pedagang kaki lima yang kena gusur, maupun Satpol PP yang menggusur.
Dari massa (yang jumlahnya ribuan, yang datang tiba-tiba entah dari mana) yang sedemikian mudahnya terprovokasi dan membakar apa saja yang ada di depan mata.
Dari anak-anak yang makan, tidur, belajar, dan bermain di kolong jalan tol sepanjang hidup mereka.
Dari supir truk kontainer yang tanpa dikurangi pungli pun penghasilannya tidak cukup untuk menghidupi enam anak.
Dari warga yang mengamuk dan merusak ruko yang baru dibangun di pemukiman mereka.
Dari nelayan yang tidak bisa melaut karena tidak mampu beli BBM dan beralih profesi jadi pemulung.
Dari remaja tanggung tidak tamat SD yang membunuh karena cemburu.
Dari satu keluarga yang rumahnya ludes dihanguskan api dan hanya punya baju yang melekat di badan.
Dari pedagang es potong yang tusuk-tusukan pakai pisau pemotong es karena persaingan harga yang cuma selisih 100 rupiah, di depan SD tepat pada jam istirahat.
Dari oknum polisi yang mencak-mencak ketika saya todong soal keterlibatan polisi dalam perampokan warung mie dan apotik.
Dari ABK yang (entah bagaimana) mendorong rekannya ke laut saat mabuk dan baru sadar berhari-hari kemudian.
Dari massa yang sempat-sempatnya menjarah di tengah ribuan orang yang sedang bertikai, celurit, lemparan batu, dan gas air mata.
Dari tuna rungu yang ikut demo.

Juga dari para begundal utara (sebutan untuk para wartawan Metro Jakarta Utara-red), mulai dari yang paling idealis sampai yang paling getol mengumpulkan "amplop".

Dan, di usia yang sudah menginjak 23 ini, saya belajar sesuatu soal cinta. Cinta tidak buta. Cinta hanya menutup mata. Tapi kalau mau kita bisa kok, memilih untuk membukanya. :)

 
Mungkin saya memang harus berterima kasih pada Metro dan Jakarta Utara. Untuk tiga bulan yang membuat saya jadi tiga kali lipat lebih kuat. Well, what doesn't kill you makes you stronger. Yah, setelah puluhan kali menyambangi kerusuhan dan kebakaran, liputan sambil lari-lari menghindari lemparan batu dan gas air mata, disuruh standby di lokasi kebakaran semalam suntuk, menunggui kamar jenazah, melihat darah dan potongan tubuh, melihat bandeng (bahasa sandi polisi untuk mayat-red) dalam kondisi mengenaskan, nongkrong bareng para intel dan kriminal, apa lagi sih yang lebih buruk yang bisa terjadi?

God, now I know why. Because You want me to be stronger.

Setidaknya ada satu hal yang bisa bikin saya senyum: sekarang saya sudah bisa bilang, "The hardest part is over." :) :) :)

6.5.10

cinta.



ajari aku soal cinta, kataku.
aku tidak bisa mengajarimu, tapi aku bisa menunjukkannya padamu, katamu.



 cinta itu menggeliat-geliat memberontak di bawah alam sadar.
ketika kecup lembutmu di bibir ini perlahan berubah wujud jadi kecupan penuh gelora.

cinta itu melayang-layang di udara.
ketika wangi maskulin alami tubuhmu bercampur wangi Marlboro merah mulai merasuki sukma ini.

cinta itu menghentak-hentak nyawaku.

ketika kau hempaskan tubuh ini hingga darah mengalir deras sampai ujung jemari kaki.

cinta itu menabrak-nabrak batas-batas nalar dan logika.
ketika kita berbagi peluh dan lenguh dalam satu irama.



dan semua jadi fana.






kamu adalah lelakiku. kamu adalah candu.

3.5.10

Mata Itu

Di suatu hari…
Dia : Dis, lihat mataku dong.
Aku : Hmm?
Dia : Kamu kenapa sih, kalau ngomong nggak pernah mau lihat mataku?
Aku : …


Suatu hari yang lain…
Dia : Dis, coba lihat. Inilah orang yang kamu sayang. Dari awal kan aku sudah bilang, memang keadaanku seperti ini.
Aku : Hah? Apa? Orang yang aku apa?
Dia : Yang kamu sayang.
Aku : Huahahahaha… Kok kamu bisa bilang begitu?
Dia : Dari mata kamu.
Aku : …



***

Aku jadi ingat. Ada seekor kucing liar, kurus, dekil yang suka datang ke rumah. Bulunya coklat menggemaskan. Kadang dia hanya diam di pintu, menatap penuh waspada pada kami, penghuni rumah yang lalu lalang. Kadang –mungkin kalau perutnya sudah kelewat lapar– dia mengendap-endap ke dapur, lalu hap! Science Diet kucing kesayangan saya di mangkuk merah jambu, atau bahkan sepotong ayam, tempe, atau apapun yang ada di meja, akan disambarnya. Belakangan dia mulai kelewatan. Stok Science Diet yang tersimpan rapih di dalam toples di atas meja, entah bagaimana berhasil dibukanya, dan hanya disisakan seperempat.
Mama selalu jadi orang yang paling sebal akan keberadaan si kucing coklat. Sementara aku, seperti yang sudah-sudah, tidak pernah tega. Beberapa kali aku sengaja menyodorkan mangkuk merah jambu, supaya dia bisa merasakan makanan kucing impor itu. Sambil ubun-ubunnya aku elus-elus. Padahal aku tahu, kucing coklat nanti jadinya tuman –ketagihan.

“Makanya, jangan dilihat matanya. Nanti jadi nggak tega.” Mama.

Ah, benar juga. Setiap melihat mata kucing coklat, aku jadi luluh. Rasanya ingin membawanya pulang, membersihkan bulunya yang kotor, memeluknya, dan memberinya semangkuk susu hangat. Aku tidak peduli dia kucing liar, dekil, penyakitan. Semuanya jadi tidak penting lagi.

***

Mungkin, ya, mungkin, aku memang harus menghindari sepasang mata itu. Supaya aku tidak hanyut dan tenggelam di dalamnya, lagi dan lagi.


Tenang, Sayang. Aku masih di sini, kok. Masih di sampingmu di malam-malam sepimu, mendengar kelam masa lalumu sambil menertawakan diri sendiri, memeluk tubuh kurusmu dari belakang erat-erat saat kamu di balik kemudi motor, memastikan kamu tidak memasukkan terlalu banyak nikotin dan alkohol ke tubuh itu, dan membiarkan diriku lebur dalam nyaman dekapmu.

Kalau itu bisa sedikit menghapus sepimu dan mengobati lukamu...

 
design by suckmylolly.com