17.4.09

10 Most Memorable Things in ITB (Part I)

Waaaaw sudah lama nggak menjamah blog... Hari ini, gladi resik wisuda di Sabuga. Padahal rasanya baru kemarin saya ada di gedung yang sama untuk Sidang PMB (Penerimaan Mahasiswa Baru-red). Kalau buat kebanyakan orang masa paling indah adalah masa SMA, buat saya masa kuliahlah yang paling indah. Mungkin karena sepuluh hal ini yang membuat 4,5 tahun saya di ITB jadi nggak terlupakan. Disusun berdasarkan urutan kejadiannya, here they are...

1. MPAM (Masa Pembinaan Anggota Muda-red) HMTL

Berlembar-lembar kertas pun rasanya nggak akan cukup buat menulis semua kenangan selama MPAM. Pakai kostum yang ‘nggak banget’: celana training TPB (Tahap Persiapan Bersama-red), kaos angkatan dengan tulisan “No Selfish Generation” (yang sering dipelesetkan, “Kalian nggak jualan ikan ya?” atau “No selfish, but sell vegetables:D), name tag dengan nama teknik lingkungan (nama saya dulu “v-notch”, yaitu alat untuk mengukur debit air), jaket tebal, rambut dikepang dua pakai karet gelang warna hijau, sepatu olahraga, dan tas carrier yang beratnya sampai 13 kg gara-gara batu bata juga dimasukkan. Digojlok dari subuh-subuh sampai jam 1 pagi. Push up pakai ponco di bawah derasnya hujan. Dikerjai habis-habisan saat malam swasta. Bikin simulasi pengolahan air. Bikin berbagai formasi dari formasi standar, formasi jalan, formasi satu, sampai formasi NIM dengan berbagai variasinya. Meneriakkan yel-yel angkatan, dari versi Bahasa Inggris sampai Bahasa Sunda. Foto di pinggir Sungai Cikapundung. Trekking dan nanam pohon di Punclut. Bikin performance angkatan. Bikin resume pakai mesin tik. Kumpul di basecamp, bikin tugas yang banyaknya minta ampun itu sambil nyanyi-nyanyi + main gitar. Setelah enam bulan, akhirnya kami dapat jaket hijau HMTL. Wah... bangganya!

Selain berat turun 7 kg dan kulit menghitam, banyak hal yang saya dapat selama MPAM. Yang lebih penting lagi, angkatan saya jadi solid. Makanya saya justru kasihan sama angkatan yang nggak mengalami osjur. They miss sooo many things!

2. Jadi Anggota Boulevard
Journalism is one of my biggest passions. Di ITB saya daftar dua unit: LFM (photography and cinematography are things I’m passionate about, too) dan Boulevard. Tapi akhirnya saya memilih satu saja: Boulevard.

Di sini saya belajar banyak hal: berkomunikasi (baca: memancing dan merayu narasumber supaya diberi info), spirit untuk nggak gampang menyerah mencari info ke mana-mana, mencari hal yang menarik dari topik yang sebenarnya biasa saja (paling sebal kalau dapat info menarik tapi narasumbernya bilang, “Ini off the record ya!”, A A A R R G H !), dan tentu saja menulis. Yang paling saya suka dari menjadi jurnalis kampus adalah bisa kenal sama orang-orang penting di kampus, dari ketua himpunan sampai rektor. Saya juga merasakan sensasi luar biasa ketika melihat tulisan saya di-publish dengan nama lengkap saya dicantumkan, lalu disapa orang, “Dis, gue baca tulisan lu di Boulevard yang baru.” Atau ketika berkenalan dengan orang baru, “Kayaknya pernah denger nama lu. Ooh, pernah nulis di Boulevard ya?”

Boulevardlah yang pertama mengenalkan saya pada dunia jurnalistik, dan membuat saya sadar saya benar-benar menyukai dunia ini, I belong here, dan saya akan terus di sini.

3. Kimia oh Kimia...
Satu hal yang saya sesali selama di ITB adalah TPB saya yang hancur-hancuran. Saya sempat mengulang Kalkulus dan Kimia Dasar selama dua semester. Waktu kuliah Kimia Dasar I, ada tiga kali ujian: UTS I, UTS II, dan UAS. Kalau nilai dari dua UTS sudah cukup, kita boleh nggak ikut UAS. Waktu itu setelah dua UTS, saya baru dapat nilai D.

Bersama sekitar separuh kelas, saya ikut UAS. Soal baru selesai dibagikan ketika pengawasnya bertanya, “Di sini siapa yang masih dapet D atau E?”

Sebagian dari kami mengangkat tangan.

“Wah, gawat. Kalian jangan sampai ngulang Kimia. Kalian saling bantu aja lah ya. Yang ngerasa bisa tolong temen-temennya dibantu. Kalian nggak mau kan liat temen kalian ngulang.”

Wah, rasanya seperti dapat durian runtuh. Sontak kami heboh tanya sana-sini, bahkan tanya ke si pengawas dan mengambil catatan di tas. Saya sudah PD saat mengumpulkan lembar jawaban. Jawaban saya, dari awal sampai akhir, sama persis dengan Hendrik, teman saya yang pintar-rajin-belajar-baik-hati-dan-tidak-sombong, yang sebenarnya sudah dapat nilai B. Nilai B sudah ada di tangan saya!

Ketika hasilnya diumumkan... saya dapat nilai D. Separuh kelas nggak lulus. Ternyata oh ternyata... ‘aksi’ kami saat UAS yang kelewat heboh dan berisik itu ketahuan pengawas kelas sebelah, lalu dia melapor ke dosen, dan UAS kami nggak dianggap. Dengan kata lain nilai yang dipakai adalah nilai dari dua UTS saja.

Ouch. S-H-I-T ! ! !

(Oh ya, kabar yang saya dengar, pengawas kelas kami yang sebenarnya niatnya baik itu kena skors. Kasihan ya...)

Jadilah saya mengulang Kimia Dasar I. UTS I, nilai saya lumayan. UTS II, nilai saya lumayan juga. Saya kira saya sudah nggak usah ikut UAS lagi. Saya malah sudah pergi liburan. Saya baru tahu kalau peraturannya diubah (jadi harusnya saya ikut UAS) beberapa hari setelah UAS berlangsung. Bodohnya, saya sama sekali nggak tahu waktu itu ada UAS! OK, mungkin ini hal terbodoh seumur hidup saya. Dan waktu itu nggak ada UAS susulan.

Padahal nilai saya kritis. Saya stres berat! Terbayang-bayang terus dua huruf itu: DO. Ini kan sudah kesempatan kedua saya, dan batas waktu menyelesaikan TPB memang cuma dua tahun alias dua kesempatan. Teman-teman ikut khawatir. HMTL turun tangan. Dosen wali ikut pusing. Dosen dan petugas-petugas TU Kimia saya teror terus.

Untung kekhawatiran saya ngak jadi kenyataan. Saya tetap dapat nilai D, tapi karena IPK TPB saya sudah cukup jadi saya nggak usah mengulang lagi. Senaaang sekali dapat nilai D!

4. Jadi Panitia Inti OSKM (Orientasi Studi Keluarga Mahasiswa-red) 2006
Selama di ITB, lima kali berturut-turut saya terlibat di OSKM (atau apapun namanya): tahun 2004 jadi peserta, 2005 jadi taplok, 2006 di divisi Acara, 2007 jadi mentor umum, dan 2008 jadi mentor umum lagi. Tapi yang paling berkesan tentu saja OSKM 2006. Dari awal, pihak rektorat sudah main larang kaderisasi di ITB, dengan bentuk apapun, dengan nama apapun. Alhasil kami harus main kucing-kucingan. Walaupun sudah berusaha melobi dan menunjukkan itikad baik, tetap saja dilarang-larang.

Dua bulan persiapan OSKM jadi dua bulan yang sangat melelahkan buat saya-mentally. Saya sebelumnya bukan siapa-siapa di kemahasiswaan, sekarang langsung jadi panitia inti OSKM bersama orang-orang idealis, dalam kondisi yang serba sulit. Tanpa mengecilkan arti divisi-divisi lain, menurut saya divisi Acaralah yang memegang peran paling besar. Kami yang menurunkan materi dan membuat rundown acara. Semua yang dilakukan panitia lapangan pada hari-H pun berdasarkan arahan yang kami buat. Semuanya sudah kami alami: diancam skorsing, diancam DO, didatangkan intel, sampai dipanggilkan Brimob (seriously!).

Hari-H, cuma sekitar 100 dari 3000 angkatan 2006 yang bernyali untuk datang. Kampus ditutup. Saat closing, semua peserta, panitia, dan massa kampus berbaur membawa bendera merah putih raksasa menerobos paksa masuk kampus. Wow, it was an unforgettable moment. Bangga rasanya jadi bagian dari sejarah. Dengan sedikitnya jumlah peserta, orang luar mungkin menganggap kami gagal. Tapi menurut saya, kami berhasil. Berhasil membuat statement untuk kemahasiswaan.

Oh ya, tim Acara OSKM 2006 adalah salah satu tim tersolid yang pernah saya punya. Selain jadwal rapat, kami juga punya jadwal lari pagi bareng, sarapan bareng, mentoring, sampai-sampai ada dresscode setiap rapat. Sampai sekarang pun masih sering kumpul-kumpul. OSKM 2006 jugalah yang memunculkan idealisme saya dan akhirnya membuat saya memutuskan untuk terus nyemplung di dunia kemahasiswaan.

5. Jadi Editor in Chief ENVIRO Edisi 3 (baca di sini-red)
Ini adalah majalah yang diterbitkan HMTL yang bisa dibilang cukup ‘niat’ karena dicetak di kertas art paper, full color, dan disebarkan gratis se-Bandung. Cukup surprised juga waktu diminta jadi Editor in Chief, karena sebelumnya saya nggak terlalu aktif di himpunan. Tapi karena kebetulan ini bidang yang saya suka, apa salahnya mencoba.

Ini pengalaman pertama saya memimpin sesuatu. I wasn’t a natural born leader indeed, so it wasn’t easy for me for the first time. Rapat perdana, saya bingung harus ngomong apa. 90% kerjaan akhirnya saya tangani sendiri: saya mengedit dan membuat lay out setiap halamannya, menelepon perusahaan satu per satu buat danus, mengetik dan menyetak proposal sampai mengirimkannya ke perusahaan-perusahaan, survey kertas, mengecek ke percetakan, mengangkut-angkut majalah yang sudah selesai dicetak, sampai keliling-keliling toko buku, SMA, dan universitas di Bandung waktu distribusi.

Saya sempat hampir putus asa karena susah dapat sponsor. Untung ada almarhum Profesor Asis Djajadinigrat yang memberikan link ke GM PT. Newmont, bahkan memberi bantuan dana dari Laboratorium Kualitas Udara (waktu itu beliau ketuanya). Jasa-jasamu tak akan kulupakan, pak...

Target saya tercapai: ENVIRO terbit dengan jumlah eksemplar dua kali lipat dari sebelumnya. Tapiii... saya sempat merasa gagal gara-gara banyak salah ketik, missing text, lay out kurang rapih, hasil cetakan foto nggak tajam, dan lain-lain. It was way far from perfect. Untung ada teman-teman di HMTL yang men-support saya. Mereka bilang, hal-hal kecil seperti itu nggak kelihatan dibanding hal besar yang sudah kami lakukan. If I look back then, I think they’re kinda right...



-to be continued biar nggak kepanjangan :D :D :D-

22.2.09

Lembang, 22 Februari 2009

Aku tidak bertindak impulsif. Aku tahu ini sesuatu yang harus kulakukan, cuma masalah waktu dan momen. Dan ketika hari ini tiba, aku tahu inilah waktunya.
Kubilang semua padanya. Tentang semuanya selama empat tahun ini. Dan bahwa aku pun akan membiarkan ini berlanjut sebagai sesuatu yang tak perlu alasan, rencana, atau harapan. Entah kenapa. Entah sampai kapan. Aku bisa memahami pilihan-pilihannya, mimpi-mimpi besarnya. Aku sendiri punya keyakinan dalam hati bahwa dia akan jadi orang hebat suatu hari nanti. Pasti.  Dan mungkin ini adalah konsekuensinya.  
... lalu dia memelukku erat. Membiarkanku membenamkan diri dalam dada bidangnya yang sering hadir dalam imajinasiku, membiarkanku merasakan otot-otot lengannya di punggungku, membiarkanku menghirup aroma maskulin tubuhnya, membiarkanku menerima transfer energi panas dari tubuhnya, membiarkan bahunya basah oleh air mataku. 
Dan membiarkanku melepas tubuhnya.
Untuk saat ini, itu cukup.

12.2.09

Pemberitahuan yang Tertunda (Tidak Apa-apa Deh...) ;-)

Tadaaaaa... Poster Seminar Tugas Akhir saya, yayy yayy yayy...!!! :D


(click for larger image)

Lumayan niat lho bikinnya semalaman di Photoshop dan Corel. Bernuansa gothic dan old dengan warna hitam dan ungu tua (my fave colors ever), background black lace, dan perkamen tua.

29.1.09

Insecure


Is there such thing as 'succeed' and 'live happily ever after'?
Will I ever make it somehow, or will I fail over and over again?
Will I be brave enough to face it? What if I don't even have the guts to take a stand?
Will God raise me up, or will He be too busy taking care of His other matters? I know I'm just a tiny, little, unnoticed dot in this world. I know I've been a real bad person.

Will there be someone to be entrusted? It's not that I want to be dependent forever, it's just nice to know if I have someone.
Will I make them proud, or will I be awfully disappointing?

Is the miracle I'm looking for really exist?

Will the X factor work for me?

Will I calm down for a bit?
...
..
.

help.me.i'm.too.scared

27.1.09

Tagged!

OK, so, I’ve been tagged by this guy. Sebenarnya selama tiga tahun ngeblog, ini pertama kalinya saya di-tag. Y A Y Y Y ! ! ! Here, the task is done, Master ;-)


Okay, here’s the rule :
Use Google Image to search the answers to the questions below. Then you must choose a picture in the first page of results, and post it as your answer. After that tag 7 people.

::the age of next birthday::



Which is still 12 months to go. Sebenarnya saya baru berulangtahun ke 22 bulan ini. Hmm… twenty something, but I feel like I’m still 17 inside. Gosh, grow up, Dis.

::place i’d like to travel::

The city of love. Why France? Pertama, karena saya sukaaa sekali Bahasa Perancis dan aksennya. Pernah les, tapi ternyata jauh lebih susah dari Bahasa Inggris dan akhirnya tidak saya teruskan. Kedua, karena Perancis begitu indah (saya lihat di beberapa film ber-setting Perancis, seperti Paris, Je T’aime dan The Da Vinci Code). Saya selalu terkesan pada negara-negara Eropa dengan jalan-jalannya, deretan pertokoannya, rumah-rumahnya, gereja-gereja tuanya, kastil-kastil tuanya, taman-tamannya, dan sungai-sungainya. Ketiga, karena Perancis punya empat musim. Saya ingin main salju (salju betulan, kalau di Ice World Ancol sih pernah ;p). Saya ingin pakai long coat, syal tebal, gloves, dan sepatu boots saat winter, dan summer dress saat summer. Haha!

::a favourite place(s)::

Saya ini anak rumahan.


Dari Aksara sampai Pasar Palasari, saya suka sekali mengautis sendirian berjam-jam di sana.

::name of my love::



Gambar di atas benar-benar seperti potret keluarga saya: ayah, ibu, dan satu anak perempuan.
(Sebenarnya saya tidak mengerti pertanyaannya, jadi saya tafsirkan sendiri)


::a favourite food(s)::

Chocolate bars, susu coklat, roti coklat, selai coklat, meses, blackforest, pudding coklat, hot chocolate, ice chocolate, wafer coklat, biskuit coklat, bolu coklat, choco chip, es krim coklat, anything with chocolate. Sebenarnya ini karena saya tidak begitu suka makan yang berat-berat dan lebih suka ngemil.

You name it: mie instan aneka rasa aneka merk, semua produk restoran cepat saji, gorengan pinggir jalan, minuman manis berpengawet dan pemanis buatan, keripik dalam kemasan, mie bakso ber-MSG… Gosh, what an unhealthy life that I’m living. Untungnya saya tidak minum minuman bersoda karena punya penyakit maag yang cukup parah.

Japanese food: sushi, ramen, yakiniku, takoyaki, dll. Biasanya saya suka.

::a favourite thing::

I’m a magazines freak! Dalam sebulan saya bisa membeli sampai enam majalah, dalam maupun luar negeri. Dari yang memang untuk perempuan seumur saya, sampai yang ‘aneh’ seperti Animonster (padahal sejak kapan saya suka anime?) atau National Geographic. Saya suka memerhatikan setiap detailnya, seperti komposisi warna di satu halaman, di sudut mana mereka menaruh nomor halaman, atau bagaimana cara mereka menyapa pembacanya (setiap majalah pasti punya ciri khas). My dream job is to work in a magazine, especially fashion and lifestyle magazine, seperti Carrie Bradshaw di serial Sex and the City.

::nickname i had::
Can't believe they have my name! Yayyy!!!

::a favourite color(s)::

Ungu karena unik, jarang ditemui (biru identik dengan laut dan langit, hijau identik dengan pepohonan, kuning identik dengan matahari, coklat identik dengan tanah, merah identik dengan mawar, tapi kalau ungu… jarang kan?), terkesan misterius dan sophisticated. Hitam karena terkesan tough, ‘dalam’, dan sophisticated juga. Merah karena menurut saya ini warna yang paling stand out dan mencolok di antara warna-warna lain.

::college major::

Superheroes don’t save the world. We do ;-)

::a hobby::
Baca buku. Waktu kecil saya lebih suka dibelikan buku cerita bergambar daripada mainan. Waktu SD ketika teman-teman sebaya saya masih asyik membaca komik, saya sudah membaca novel yang tidak ada gambarnya. Waktu SMA ketika teman-teman sebaya saya masih asyik membaca teen lit, saya sudah mulai tertarik pada sastra.

::a bad habit::
Saya suka menunda-nunda pekerjaan sampai menit terakhir. But, “A journalist is stimulated by deadlines. He writes worse when he has times.” ;-)

::my wish list::

My wish list could bore you 'cause it would be sooooo long (it involves several books I’d love to own and those killer shoes I saw in Charles and Keith yesterday,
hehehe…) Tapi saya akan menulis beberapa yang paling saya inginkan saja untuk tahun ini:

Menjadi orang yang lebih religius dan dekat dengan Allah


Wisuda dari ITB, April 2009!

Kuliah lagi. Melanjutkan S2 tentang komunikasi, di UI atau Unpad

Get a job. Get a proper job. Make my own money.


Meet a good, lovely guy and develop a serious relationship. Well, who knows?


I used Deviantart for some of the images above instead of Google Image, hopefully it’s OK enough.

Now I must tag 7 people. And the lucky seven are…
(saya cari yang kira-kira belum di-tag)

1. Christy

2. Icha

3. Essa

4. Shally

5. Gilang
6. Bambang

7. Kamu. Iya, kamu, yang membaca tulisan ini dan terinspirasi. Feel free to tag yourself.

And don’t forget to let me know when the task is done, OK? ;-)

3.1.09

2009 and 22: Let's Review and Preview!

Kapan orang berhenti sejenak untuk me-review hidup, apa-apa saja yang sudah dan belum? Dan kapan orang membuat preview -resolusi, mimpi, dan harapan- ke depan?

Saat tahun baru atau ulang tahun, umumnya.

Mumpung momennya sangat pas nih (tahun baru dan ulang tahun saya cuma beda sehari) saya mau membuat review setahun ke belakang. Sepanjang tahun 2008, ada beberapa momen yang berperan dalam pendewasaan diri saya:


Januari. Berhasil menyelesaikan amanah di HMTL (baca di sini-red). Senang sekali rasanya, karena yang saya kerjakan adalah bidang yang saya cintai, dan saya bekerja bersama orang-orang yang saya cintai juga. Lalu saya sempat mengalami post power syndrome, membuat saya jadi berpikir, memangnya kenapa saya begitu butuh kesibukan? Kenapa saya begitu butuh jabatan? Kenapa saya begitu butuh status?

Januari-Maret. Kerja Praktek sambil kuliah di LIPI (Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia). Saya ikut mengoperasikan dan mengevaluasi instalasi pengolahan air limbah dari laboratorium-laboratoriumnya. Dan ternyata… saya tidak suka. Saya tidak peduli berapa dosis PAC yang harus ditambahkan pada proses koagulasi-flokulasi. Saya tidak peduli berapa pH optimum untuk proses removal logam berat Sianida dan Krom. Saya tidak peduli berapa waktu detensi di bak sedimentasi untuk mengendapkan semua solid. Dan terutama, saya tidak betah berada di laboratorium dengan alat-alat aneh dan bau-bauan aneh. I guess I just don’t belong here. Karena inilah saya memutukan untuk mencari topik Tugas Akhir yang tidak terlalu teknis dan tidak mengaruskan saya berada di laboratorium.




Februari. Disakiti dan dikecewakan 2 orang/pihak dalam waktu bersamaan (yang satu Si Jerk (baca di sini-red), yang satu lagi tempat saya bekerja dulu), sempat membuat saya down. Tapi saya bangkit dan berdiri tegak lagi :D Saya percaya kok pada yang namanya Karma! And what doesn't kill me only makes me stronger.

April. Kekalahan Bolang dalam Pemilu KM ITB (baca di sini-red). Ini salah satu momen terjatuh dalam hidup saya. Sampai-sampai butuh 1 hari 2 malam buat menangis, dan rasanya tidak ada harapan hidup lagi *halah berlebihan* Tapi, benar kata teman saya Poppy, kalau waktu itu kami menang, mungkin malah pembelajaran yang saya dapat tidak sebanyak ini. Lagipula, saya kan dapat keluarga baru :D

April. Ikut Siaware. Saya jadi tahu apa yang sebenarnya saya inginkan dalam hidup, dan apa (atau siapa) yang paling penting dalam hidup saya. Saya jadi sadar bahwa life is all about choices, dan saya sendirilah yang harus mengambil keputusan. Training ini highly recommended!

April-Oktober. Bergabung dengan Rumah Belajar, bikin saya sadar bahwa yang saya lakukan sebelum-sebelumnya cuma sebatas jadi ‘event organizer’! Salut deh buat teman-teman yang sangat concern di Rumah Belajar (lebih concern dari saya yang kabur-kaburan, maksudnya, haha…) Selain itu juga dipengaruhi beberapa teman dan beberapa hal yang saya baca yang membuat saya ingin melakukan ‘sesuatu’, bukan karena mau mendapat, tapi karena mau memberi.

April-sekarang. Dicalonkan jadi salah satu menteri di Kabinet, sempat ikut fit and proper test (baca di sini-red), dan akhirnya memegang amanah jadi wakil menteri. Lalu menteri saya ‘menghilang’, membuat saya terpaksa mengambil alih (resminya sih 2 kali jadi PJS). Saya bingung, seriously, saya bingung harus bagaimana. Akhirnya menteri saya itu officially mengundurkan diri, lalu kami mengalami reshuffle dengan saya tetap sebagai wakil menteri, dan keadaan sudah jauh lebih baik sekarang. Untung (lagi-lagi) yang saya kerjakan adalah bidang yang saya suka, jadi, enjoy saja… ;D

Mei. Menangis di Sekre Kabinet, baru hari ke-8 setelah muker, di depan orang-orang (baca di sini-red). Tapi gara-gara ini, saya jadi bertekad, “Saya harus kuat! HARUS! KUAT!” Kenapa? Karena saya tidak mau kejadian ini terulang lagi. Saya tidak mau terlihat lemah. Saya tidak mau orang lain berpikir saya lemah. Dan saya sendiri memang tidak mau jadi orang yang lemah.

Juli-sekarang. Ditinggal (maksudnya ditinggal lulus duluan) oleh orang-orang yang sehari-hari bareng saya, orang-orang yang saya jadikan sumber inspirasi dan semangat, orang-orang yang selama ini menopang tubuh saya dalam comfort zone saya. Mau tidak mau saya harus melompat keluar dari comfort zone saya dan berdiri di atas kaki sendiri.

September-sekarang. Mengerjakan Tugas Akhir. Memaksa saya untuk pantang menyerah, disiplin, fokus, dan melakukan hal-hal yang sebelumnya tidak saya lakukan, entah karena malas atau tidak berani. Menelusuri tempat-tempat seperti bandar, TPS, atau pasar, misalnya. Menyetir sendiri ke daerah asing, misalnya. Mungkin itu hal sederhana buat sebagian orang, tapi tidak buat saya. Untung saya suka topik TA ini dan pembimbingnya (baca di sini-red). Malah kata beberapa teman, “Topiknya lu banget, Dis.” Hehehe…

Desember. ‘Tragedi kecil’ saat liburan akhir tahun dengan keluarga besar di Anyer: kapal diterjang ombak, sepupu yang masih kecil hampir terlempar ke laut dan kepalanya terbentur tiang kapal sampai memar-memar, lalu om terkena bisa ikan beracun di pulau nyaris tidak berpenghuni dan berjarak 30 menit dari Anyer, untungnya sempat diberi pertolongan pertama. Alhamdulillah, keluarga kami masih diberi perlindungan oleh-Nya…

Over all, 2008 was great. There were ups and downs, but in life, there will always be ups and downs, won’t it? Dan sekarang, 2009 menjelang. Ah, euforia tahun baru… Mari sambut dengan harapan baru, semangat baru. I believe that the best is yet to come. Ada beberapa resolusi untuk tahun ini, but it’s kinda too personal, so I’m not going to put it here. Just pray for me, please, so that I can make it :D

Anyway, I’m 22 already. Wow…

Terima kasih buat semua yang sudah ingat ulang tahun saya dan memngucapkan selamat.
Terima kasih buat Citra (kakak angkatan, kadep saya dulu di HMTL) yang tahun ini jadi orang pertama yang mengucapkan selamat, tepat jam 12 malam. Terima kasih buat sepupu-sepupu saya yang menodong traktiran makan siang di Hanamasa (huh, dasar!). Terima kasih buat Rani, Andin, Chinqy, Yosi, dan Safrul yang tiba-tiba muncul di depan rumah saya malam-malam dengan birthday cake and candles. What a sweet surprise! :D

16.12.08

Cobalah Mengerti

Cobalah mengerti keinginanku yang sederhana ini.

Aku cuma ingin mengerahkan segenap waktu, pikiran, dan tenagaku untuk kamu, untuk kita. Menjadi bagian dari hari-harimu yang sibuk. Menjadikan keberhasilanmu, keberhasilan kita, adalah prioritas. Menjadi orang yang selalu bisa kamu andalkan. Berkata "Ya" untuk hal-hal yang kamu minta, bahkan melakukannya duluan sebelum kamu minta. Diam-diam membantumu dan berdoa untukmu. Menunjukkan respek padamu sebagai pemimpinku. Duduk berdua denganmu, berbagi banyak hal yang biasanya diakhiri dengan kamu mengepalkan tangan atau menepuk bahuku, menyemangatiku. Mendiskusikan hal-hal serius, lalu tertawa bersamamu. Mengingatkanmu hal-hal kecil yang seringkali terlupa akibat kesibukanmu, seperti makan siang atau mengumpulkan tugas yang sudah deadline. Berdiri tepat di belakangmu dan berkata tanpa perlu bersuara, "Aku ada", dan tetap di sana saat masa-masa sulit tiba, saat tekanan datang dari sana-sini. Dan akhirnya, mendengar kata "Bangga" dan "Terima kasih" itu keluar dari mulutmu, dan rasanya semua lelahku terbayar.

Seperti dulu.

Tidak bisakah, kita mengulanginya?

15.12.08

Segelas Air Putih


Aku haus. Benar-benar haus.

Tapi aku tidak mau air putih. Air putih terlalu sederhana buatku dengan segala ego ini. Aku mau anggur mahal dalam botol yang mewah. Yang rasanya memabukkan. Yang bisa memberi kesan 'wah'. Tidak peduli berapa uang yang harus kukeluarkan untuk sebotolnya. Tidak peduli walaupun aku hanya bisa menyicip seteguk, tidak bisa memiliki semuanya. Tidak peduli walaupun aku harus mengorbankan banyak hal.

Segelas air putih tersaji di meja. Tidak kusentuh, kubiarkan saja di sana. Aku pergi mencari seteguk anggur mahal. Toh air putih itu akan tetap di sana, menungguku, menawarkan kesejukan dan kesegarannya untukku.

Tapi ternyata seseorang telah mengambil segelas air putih itu. Dan sekarang, kenapa aku justru merindukan kehadirannya?
Segelas air putih yang menyembuhkan dahaga.
Segelas air putih yang menyejukkan.
Segelas air putih yang sederhana...



-Ditulis setelah kebetulan bertemu seseorang, yang kebetulan sedang bersama seseorang yang lain lagi, A A A R R G H ! ! ! Tapi ya sudahlah, hahaha...-

1.12.08

...

Having a lack of passion to write lately. Something I usually get passionate about. Something that always been my deepest obsession. Don't know how or why.

Pathetic...

11.11.08

Quote of the Day


"For me, a perfect chocolate bar should be bitter sweet, not all sweet, and certainly not all bitter, for then you lose all the fun." -Grow A Day Older, Rectoverso (Dee)-

And so is life. Just enjoy every bite of it! :D

 
design by suckmylolly.com